Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Dalam bahasa Indonesia sudah umum difahami bahwa qana’ah ialah orang-orang yang sudah merasa cukup yang ada pada dirinya.
Qana’ah berasal dari akar kata qani’a-yaqna’ berarti merasa puas apa yang ada, rela menerima jatah kenyataan yang datang dari Allah SWT, apapun adanya kenyataan itu.
Para ahli hakekat memahami qana`ah sebagai sikap tenang di dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada.
Dikatakan juga merasa cukup dengan yang sedikit. Ada juga yang mengatakan merasa kaya dengan yang ada.
Baca juga: Berlatih Untuk Diam
Lawan dari qana’ah ialah rakus. Rakus ialah orang-orang yang tidak pernah merasa puas, sebanyak apapun harta yang dimilikinya.
Hanya penampilan wujudnya yang kelihatan mewah, tetapi di dalam hati dan pikirannya betul-betul sangat miskin.
Ikrimah dan beberapa ulama tafsir mempunyai beragam pendapat tentang ayat:
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. al-Nahl/16:97).
Yang dimaksud hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) dalam ayat ini adalah qana’ah.
Demikian juga dalam ayat:
"Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki." (Q.S. al-Hajj/22:58).
Yang dimaksud rizqan hasanan (rezeki yang baik) dalam ayat ini adalah qana’ah, sebagaimana ditegaskan juga di dalam ayat lain:
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Q.S. al-Ahdzab/33:33).
Yang dimaksud kata al-rijz dalam ayat ini ialah kekikiran dan kerakusan.
Sedangkan kalimat wayuthahirakum tathhiran (membersihkan kamu sebersih-bersihnya) ialah dengan cara dermawan dan qana’ah.
Ada juga yang berpendapat, maksudnya dengan cara dermawan dan lemah lembut.
Demikian pula dalam Q.S. Shad/38:35: Allah berfirman:
"Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang". (Q.S. al-Qashash/28:35).
Ditegaskan pula di dalam ayat lain:
"Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". (Q.S. al-Naml/27: 21).
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Qana’ah merupakan perbendaharaan yang tak pernah akan habis.”
Dalam hadis lainnya, beliau bersabda: “Ridhailah apa yang diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling kaya.”
Dalam Kitab Zabur disebutkan bahwa orang yang qana’ah adalah orang yang kaya walaupun ia dalam keadaan kelaparan.
Sebagian ahli hikmah berkata: “Barangsiapa yang tebal qana’ahnya, maka setiap bulu yang ada di tubuhnya akan merasakan kebahagiaan. Orang-orang yang qana’ah akan merasa tenang dari kesibukan dan berjaya atas segala sesuatu. Jadi qana’ah tidak mesti menjauhkan diri dari kesibukan."
Ada ahli hakikat mengatakan barangsiapa yang mengarahkan pandangannya kepada apa yang ada pada orang lain, maka ia akan memperpanjang kesedihannya.
Orang yang qana’ah memiliki persepsi yang positif terhadap segala sesuatu, sungguhpun itu kadang merugikan dirinya sendiri.
Ia selalu sadar bahwa kekayaan yang paling sejati ialah kepuasan batin (al-gina gina al-nafs).
Orang yang memiliki banyak kekayaan harta tidak otomatis merasakan kebahagiaan. Justru orang yang qana’ah-lah yang akan merasakan kekayaan hakiki itu.