Renungan Katolik Rabu 4 Maret 2026, Kemuliaan di Balik Salib
Gordy Donovan March 04, 2026 07:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik Rabu 4 Maret 2026.

Tema renungan Katolik  "Kemuliaan di Balik Salib".

Renungan Katolik untuk hari Rabu pekan II Prapaskah, Perayaan fakultatif Santo Kasimirus, Pengaku Iman, Santo Lusius, Paus dan Martir, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Rabu 4 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 4 Maret 2026, Salah Mengerti Tentang Kebesaran

Bacaan Pertama Yer. 18:18-20

Para lawan Nabi Yeremia berkata, “Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman.Alkitab digital

Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!” “Perhatikanlah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan?

Mereka telah menggali lubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 31:5-6.14.15-16
Ref. Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu!

Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.

Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, menghantuiku dari segala penjuru; mereka bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.

Tetapi aku, kepada-Mu ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku!

Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12b

Akulah terang dunia, sabda Tuhan, barangsiapa mengikut Aku ia akan mempunyai terang hidup.

Bacaan Injil Mat. 20:17-28

"Yesus akan dijatuhi hukuman mati."

Pada waktu Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka,

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. 

Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olok, disesah dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus beserta anak-anaknya kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 

Kata Yesus, “Apa yang kau kehendaki?” Jawab ibu itu, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 

Tetapi Yesus menjawab, “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.”

Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 

Mendengar itu, marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu, bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 

Tidaklah demikian di antara kamu! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. 

Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Kemuliaan di Balik Salib"

Di tengah semangat yang mengagungkan kekuasaan dan kenyamanan, salib menjadi kontradiksi. Dalam salib, kemuliaan ditemukan dalam penderitaan, kekuatan sejati muncul dalam pelayanan. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa jalan kepemimpinan bukanlah memerintah, melainkan untuk melayani dan mengangkat yang lemah.

Kepemimpinan yang sejati selalu bersentuhan dengan tanggung jawab, bahkan kerelaan untuk menderita. Seorang pemimpin tidak lari dari salib, tetapi memeluknya: rela menanggung kritik, menempatkan kepentingan orang lain di atas dirinya, dan tetap setia pada kebenaran meskipun harus membayar harga yang mahal. Inilah yang disebut servant leadership, gaya memimpin seperti Kristus, yang "tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya." Kepemimpinan seperti ini membutuhkan keberanian untuk mengambil risiko: berani tidak populer, berani berbeda, dan berani berdiri bagi yang benar, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena cinta. Kemuliaan sejati seorang pemimpin tampak dalam kesediaan untuk menderita demi kebaikan banyak orang.

Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjadi pemimpin yang rendah hati dan melayani, serta bersedia menanggung salib demi kebaikan banyak orang. Amin. (Sumber the katolik.com/adiutami.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.