Modal Bisnis Sapi di Bangka Belitung Fantastis tapi Margin Minim
Fitriadi March 04, 2026 09:03 AM

BANGKAPOS.COM - Di balik tingginya konsumsi daging sapi di Bangka Belitung, tersimpan perputaran modal bernilai puluhan miliar rupiah serta skema pembayaran yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Distributor dan pedagang sama-sama bermain dalam arus kas cepat dengan margin keuntungan yang relatif tipis.

Owner CV Selamat Jaya, Rangga Aji Sahputra, mengungkapkan total modal yang saat ini berputar dalam usahanya mencapai sekitar Rp30 miliar. 

Nilai tersebut mencakup 1.300 ekor sapi yang tersebar di sejumlah kandang di Bangka serta sekitar 500 ekor lainnya yang masih dalam tahap penggemukan di Lampung.

“Kalau dihitung keseluruhan, mulai dari sapi yang ada di Bangka sampai yang masih di Lampung, modalnya bisa sampai Rp30 miliar,” ujar Rangga kepada Bangkapos.com, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Laku Baru Bayar, Strategi Pedagang di Babel Jual Daging Jelang Lebaran

Dengan harga sapi hidup sekitar Rp60 ribu per kilogram dan bobot rata-rata 500–550 kilogram, satu ekor sapi bernilai lebih dari Rp30 juta. 

Sapi-sapi itu ditempatkan di beberapa lokasi, seperti Ampui, Panggal Balam, Ketapang, dan Air Mangkok.

Di kandang Ampui, Pangkal Balam, terdapat sekitar 160 ekor yang disiapkan untuk kebutuhan potong harian maupun kurban.

Untuk kurban, tersedia sapi lokal jenis Limousin, Bali, dan Madura. 

Sementara kebutuhan daging harian didominasi sapi impor Brahman Cross (BX) dari Australia yang memiliki persentase daging lebih tinggi.

Distribusi dimulai dari Lampung. Sapi impor didatangkan melalui kapal khusus ternak, kemudian digemukkan dua hingga tiga bulan di feedlot sebelum dikirim ke Bangka menggunakan truk.

Satu unit truk mampu mengangkut 16 ekor sapi dengan waktu tempuh sekitar satu hari satu malam.

Risiko perjalanan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung.

“Kadang ada yang keram karena capek di perjalanan. Kalau mati satu ekor saja, kerugiannya sudah puluhan juta,” kata Rangga.

Pembayaran Tiap Minggu

Sistem pembayaran ke perusahaan feedlot dilakukan rutin setiap pekan, bahkan dua hingga tiga kali dalam seminggu. Skema tersebut menuntut arus kas tetap lancar.

“Perputaran uang harus cepat karena nilai barangnya besar. Kalau lambat bayar, pengiriman berikutnya bisa terhambat,” ujarnya.

Berbeda dengan pembayaran ke feedlot, pedagang pasar biasanya melunasi setelah sapi dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan tempo maksimal tiga hari.

Tidak ada sistem cicilan jangka panjang. Dalam kondisi normal, pemotongan berkisar 15–30 ekor per hari. Namun menjelang Idulfitri, jumlahnya melonjak hingga 80–100 ekor per hari.

Dalam satu bulan biasa, distribusi mencapai sekitar 800 ekor, sementara saat Lebaran bisa menembus 1.300 ekor.

Meski perputaran modal terlihat besar, Rangga menegaskan keuntungan bersih relatif kecil.

“Kadang cuma satu sampai dua persen, bahkan tidak sampai satu persen. Orang lihat miliaran, tapi tidak tahu margin kita kecil. Kita ambil berkahnya saja,” ujarnya.

Bayar Setelah Laku

Darlan, pedagang sapi di Parit Lalang, Kecamatan Rangkui, Pangkalpinang, mengaku sebagian pasokan dibayar setelah sapi laku terjual.

“Ada yang sistemnya dibayar setelah sapi laku. Jadi kita jual dulu di sini, baru uangnya disetor ke pemasok,” kata Darlan.

Menurut dia, harga sapi bervariasi, mulai Rp20 juta untuk ukuran kecil, Rp30 juta ukuran sedang, hingga Rp40 juta per ekor untuk ukuran besar. 

Dalam satu kali pengiriman menggunakan truk fuso berisi 10–20 ekor, nilai transaksi bisa mencapai Rp300 juta.

“Sekali kirim pakai fuso itu bisa Rp300 jutaan. Makanya sistem pembayaran bertahap atau setelah laku itu membantu pedagang,” ujarnya.

Pengiriman dari Lampung menempuh jalur darat dan laut melalui Palembang dan Mentok dengan waktu tiga hingga empat hari.

Sementara dari Bali bisa mencapai sepekan. Selama perjalanan, risiko kematian atau sakit tetap ada dan sering kali menjadi tanggungan pedagang.

Lonjakan pasokan biasanya terjadi menjelang Idulfitri dan Iduladha. 

Pedagang lain, Ari, menyebut sepuluh hari sebelum Idulfitri hingga hari H, ribuan sapi masuk dan cepat terserap pasar.

Perusahaan besar dapat mendatangkan hingga 1.000 ekor dalam dua pekan.

Tergantung Pasokan

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Pangkalpinang, Yiyi Zilaida Dwitri, mengatakan ketergantungan pada pasokan luar daerah masih menjadi pola utama pemenuhan kebutuhan daging.

“Sapi umumnya didatangkan dari luar daerah, kemudian masuk ke pemilik atau penampung, dipotong di rumah potong hewan, lalu didistribusikan ke pasar-pasar,” ujarnya, Jumat (27/2).

Menurut Yiyi, daerah seperti Madura dan Bali dikenal sebagai sentra peternakan dengan populasi stabil sehingga membantu menjaga ketersediaan daging.

Setiap sapi yang masuk diperiksa kesehatannya sebelum dipotong di RPH guna menjamin keamanan pangan.

“Produksi lokal masih terbatas, sehingga pasokan dari luar daerah masih menjadi andalan,” katanya.

Dengan tingginya kebutuhan dan terbatasnya populasi lokal, rantai distribusi sapi antarpulau tetap menjadi penopang utama konsumsi daging di Bangka Belitung.

Di tengah modal besar, risiko tinggi, dan margin tipis, pelaku usaha bertahan dengan menjaga kepercayaan, arus kas, serta kecepatan perputaran barang. (x1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.