TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - BPPTKG Yogyakarta merilis hasil pemantauan Gunung Merapi sepanjang periode pengamatan hari ini, Rabu (4/3/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.
Pada periode pengamatan tersebut terpantau 18 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1600 meter.
Selain itu, ada 39 kali gempa Guguran dengan amplitudo 3-10 mm dan lama gempa 63.71-190.47 detik.
BPPTKG juga mencatat 20 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 3-38 mm, S-P 0.5-0.7 detik dan lama gempa 17.71-47.34 detik.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung Merapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah nihil.
Dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Merapi mendung , angin tenang ke arah Selatan.
Suhu udara sekitar 18.3-19.5°C. Kelembaban 77-94.6 persen. Tekanan udara 871.2-913.2 mmHg.
Baca juga: Sleman Kehilangan 2.222 Hektare Lahan Pertanian dalam 7 Tahun
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)