TRIBUNNEWSMAKER.COM - Menjelang pemilihan umum (pemilu) Israel yang wajib digelar paling lambat 27 Oktober 2026, dinamika politik di Negeri Zionis kian memanas.
Perang melawan Iran disebut-sebut menjadi momentum krusial bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memulihkan citranya yang merosot tajam usai serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Sejumlah analis menilai, arah dan durasi konflik yang sedang berlangsung saat ini akan sangat menentukan masa depan politik Netanyahu.
Situasi domestik Israel dinilai berada di titik genting, di mana keputusan militer bisa berdampak langsung pada stabilitas pemerintahan.
“Sejumlah analis menyebut, dinamika politik domestik Israel kini sangat bergantung pada arah dan durasi perang yang tengah berlangsung.”
Tak hanya itu, Netanyahu pun diduga memiliki kalkulasi politik di balik langkah militernya.
Ia disebut sengaja menyerang Iran sebelum tenggat politik 30 Maret.
Langkah tersebut diyakini berkaitan dengan upaya menunda pengesahan anggaran negara yang sulit mendapat dukungan mayoritas di parlemen.
“Netanyahu pun diduga sengaja menyerang Iran sebelum tenggat politik 30 Maret, agar dapat menunda pengesahan anggaran yang sulit ia menangi dukungannya di parlemen.”
Baca juga: Respon Dwi Sasetyaningtyas Usai Pernyataan Menkeu Purbaya soal LPDP, Merasa Tersindir: Jangan Fitnah
Situasinya cukup krusial. Apabila Netanyahu gagal mengamankan pengesahan anggaran, maka pemerintahannya secara otomatis akan jatuh pada 1 April dan pemilu harus segera digelar.
Kondisi itu tentu menjadi ancaman serius bagi sang perdana menteri.
Dalam usia 76 tahun, ia dinilai akan memasuki masa kampanye dari posisi yang lemah, terlebih setelah tekanan politik yang muncul pascaserangan Hamas.
“Sebab, apabila Netanyahu tak mendapat pengesahan anggaran, pemerintahannya akan jatuh pada 1 April dan pemilihan umum harus digelar.”
Kini, publik Israel dan dunia internasional menanti bagaimana konflik dengan Iran berkembang.
Apakah benar perang ini menjadi jalan bagi Netanyahu untuk menguatkan kembali posisinya, atau justru menjadi bumerang politik di tengah ketidakpastian yang membayangi?
Popularitas Netanyahu sebelumnya tergerus akibat perang Gaza yang diawali oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel.
Para pengkritiknya menuduh dia berusaha menghindari tanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan tersebut.
Pemimpin partai sayap kanan Likud ini tercatat sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, dengan total lebih dari 18 tahun menjabat dalam beberapa periode.
Baca juga: Tak Hanya Konsumsi Narkoba Sekoper, AKBP Didik Eks Kapolres Bima Kota Juga Menyimpang, Kini Dipecat
Namun, sejak musim panas lalu, ia kehilangan mayoritas parlemen di tengah krisis dengan sekutu ultra-Ortodoksnya.
Di saat bersamaan, Netanyahu juga sedang menjalani persidangan kasus korupsi yang sudah berlangsung lama.
Dia bahkan telah meminta ampunan Presiden Isaac Herzog, sedangkan Presiden AS Donald Trump berulang kali menekan Herzog untuk memberikannya.
Sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan AS-Israel, Netanyahu menegaskan kedekatannya dengan Washington berperan penting dalam operasi tersebut.
Ia mengatakan, hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat (AS) memungkinkan Israel melakukan hal yang sejak lama dia inginkan selama 40 tahun, yaitu menyerang Iran secara telak.
Analis politik Universitas Tel Aviv, Emmanuel Navon, menilai Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu.
Menurut dia, posisi politik Netanyahu berangsur membaik setelah sempat berada di titik terendah.
"Jika Netanyahu berada di titik terendah setelah serangan Hamas, ia secara bertahap telah membalikkan keadaan," tambahnya.
Navon turut menyebutkan pukulan berat yang dilancarkan militer Israel kepada Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya Perang Gaza.
Berdasarkan jajak pendapat, Partai Likud diperkirakan unggul jika pemilu digelar dalam momen-momen sekarang.
Kondisi itu berpotensi membuka jalan bagi Netanyahu untuk kembali membentuk pemerintahan, meski masih kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini.
Sejumlah pengamat menilai, kemenangan atas Iran dapat mengubah kalkulasi politik tersebut.
Analis geopolitik independen Michael Horowitz mengatakan, "Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan 'kemenangan total'-nya."
Ia menambahkan, "Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan slogan kampanye, tetapi kenyataan. Ini adalah agenda nasionalnya dan strategi pemilunya."
Akan tetapi, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu.
Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa "Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026)."
Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen.
Sebaliknya, "Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu," kata Navon.
Meski demikian, Horowitz mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan.
"Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah," ujarnya.
Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.
Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu.
"Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya," katanya.
"Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu."
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)