Cerita Ramadan Mahasiswa RI di Mesir, Kuliah Dipersingkat biar Fokus Ibadah
GH News March 04, 2026 01:10 PM
Jakarta -

Bulan Ramadan jadi salah satu agenda favorit umat Islam di seluruh dunia, termasuk mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Universitas Al Azhar, Kairo. Pasalnya, selama bulan puasa jam perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya.

"Jadi biasanya kan perkuliahan itu setelah jam 9 sampai sore kadang. Di bulan Ramadan ini khusus bulan ini itu biasanya cuma sampai siang. Jadi biasanya satu hari cuma ada 2 matkul," ujar Fahna Fathika, mahasiswi asal Boyolali dan content creator muslimah kepada detikEdu pada Jumat (2/3/2026).

Kuliah Dipersingkat biar Fokus Ibadah

Pihak kampus memberi rukhsah (keringanan) selama bulan suci bagi mahasiswanya untuk fokus beribadah. Kebijakan ini disambut baik oleh seluruh mahasiswa yang merasa lebih enjoy untuk menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.

"Mungkin bisa sampai jam, ada yang sampai jam dari jam 9 sampai jam 11, ada yang paling lama itu sampai jam 2, 2 siang. Jadi ya dikasih waktu untuk ibadah," jelas Shafly Athif, mahasiswa asal Wonogiri.

Selain penyesuaian jam perkuliahan, mereka juga mengakui suasana Ramadan di Mesir sangat menyenangkan. Euforia masyarakat lokal dalam menyambut bulan suci diperlihatkan lewat semangat berbagi yang tinggi.

Mereka seolah berlomba-lomba untuk berbagi kepada siapa saja yang berpuasa, terlebih mahasiswa yang menuntut ilmu. Beberapa rumah bahkan menyediakan hidangan berbuka dengan tenda, meja, kursi, takjil, hingga makanan berat di depan rumahnya yang disebut "maidaturrahman".

"Jadi di setiap rumah, bayangin aja setiap di depan rumah itu pasti ada yang benar, tadi katanya maidaturrahman. Jadi di setiap depan rumah itu pasti ada yang buka puasa gratis, disediain tempat, meja mereka yang nyediain, dari meja, kursi, makanannya disediain semuanya," tutur Shafly.

Pihak Universitas Al Azhar sendiri juga menyediakan 10.000 porsi makanan gratis setiap harinya untuk para wafidin (mahasiswa non-Mesir). Program ini disambut antusias dan membuat antrian mengular kurang lebih 200 meter panjangnya.

Mayoritas masjid juga menyediakan hidangan berbuka mulai dari yang ringan hingga berat. Bahkan setiap sudut tempat ada saja yang berbagai walaupun sekadar air putih dan kurma untuk membatalkan puasa. Karena toleransi di sana cukup tinggi, sebagian penduduk nonmuslim juga ada yang ikut berbagi menu buka puasa.

Perbedaan Mencolok Ramadan di RI dan Mesir

Menurut Shafly, perbedaan yang paling mencolok yaitu banyaknya pedagang takjil dadakan saat Ramadan di Indonesia. Sementara di Mesir, bulan Ramadan adalah bulannya mereka berlomba-lomba untuk berbagi hampir setiap rumah.

"Perbedaan yang sangat jelas itu ketika di bulan Ramadan itu kalau di Indonesia kan biasanya bulan Ramadan banyak yang buka usaha tiba-tiba, buka jual takjil segala macam. Kalau disini itu benar-benar bulan Ramadan itu malah bukan waktunya untuk mencari uang, tapi untuk waktunya untuk orang-orang Mesir itu berbagi di mana-mana," jelasnya.

"Jadi mereka itu kayak di sebelas bulan lain selain Ramadan itu mereka mencari uang dibagi-baginya di bulan Ramadan," imbuhnya.

Meski merasa rindu dengan kampung halaman, keduanya mengakui bahwa menjalani ibadah puasa di Mesir cukup menghibur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.