SURYA.CO.ID, SURABAYA – Nama Wong Hang Tailor sudah tak asing di dunia mode Kota Pahlawan.
Berdiri sejak 1933, bisnis busana formal pria ini terus berkembang lintas generasi dan kini memiliki 18 cabang di seluruh Indonesia.
Untuk bertahan di industri fashion selama puluhan tahun tentu tidak mudah.
Apalagi dunia fashion sangat dinamis dengan tren yang terus berubah.
Salah satu penerus Wong Hang Tailor, Josef Putra Wongso membawa semangat baru tanpa meninggalkan pakem warisan keluarga.
Baca juga: Busana Pernikahan 2026, Gaun Copot Pasang dan Warna Off-White Favorit Calon Pengantin
Fokus utama tetap pada jas dan batik formal pria dengan pendekatan personal serta detail craftsmanship yang presisi.
Menurut Josef, salah satu rahasia di balik eksistensi Wong Hang Tailor adalah memiliki ciri khas yang membedakan jas buatan mereka dengan yang lainnya.
“Kami berfokus pada busana formal pria, khususnya jas dan batik dengan pendekatan personal, memperhatikan craftsmanship dan presisinya,” ujar Josef Putra Wongso selaku generasi ke empat Wong Hang Tailor kepada SURYA.co.id, Selasa (3/3/2026).
Bisnis yang lahir di Surabaya ini kini merambah berbagai kota besar.
Josef mengembangkan tiga cabang yang berada di Semarang, Bandung, dan Jakarta.
Secara nasional, Wong Hang Tailor memiliki total 18 cabang.
Di generasi keempat terdapat enam anggota keluarga yang masing-masing memegang tiga cabang.
Meski ekspansi terus berjalan, fokus utama saat ini adalah penguatan kualitas dan integrasi layanan di setiap butik.
“Fokus kami sekarang memperkuat kualitas dan pelayanan di butik-butik. Integrasinya harus diperdalam karena semuanya harus di-handle langsung oleh desainer, tidak bisa di-handle orang lain,” jelasnya.
Josef mengaku passion di dunia tailoring tumbuh sejak kecil.
Ia terbiasa bermain dengan kain sisa dan mengamati proses pembuatan pola busana yang dikerjakan orang tuanya.
“Dulu ada kain-kain sisa dari orang tua saya. Saya corat-coret pakai kapur, makin besar mulai belajar gunting kain supaya tahu feel-nya,” ungkapnya.
Kemampuannya terus diasah hingga akhirnya ia belajar mengukur badan, membuat pola, dan mengambil kursus tailoring di Hong Kong untuk mengikuti perkembangan tren fashion modern.
Menurutnya, selera generasi kini berbeda dengan generasi sebelumnya.
“Generasi muda sekarang lebih suka potongan slim fit, kain yang lebih ringan, dan nyaman dipakai sehari-hari,” katanya.
Sebagai desainer sekaligus penerus bisnis keluarga, Josef mengaku terlibat langsung dari awal hingga akhir proses pembuatan busana.
Mulai dari pengukuran badan, pemilihan dan edukasi bahan kepada pelanggan, pembuatan pola (patron), fitting, hingga finishing dan quality control, semuanya ia tangani sendiri.
Standar kualitas tersebut, kata dia, menjadi amanat besar dalam menjaga legacy bisnis keluarga yang telah berjalan hampir satu abad.
Untuk pasar di Jawa Timur maupun nasional, Wong Hang Tailor menyasar berbagai segmen. Namun, kebutuhan busana pernikahan menjadi market terbesar.
Dengan pengalaman sejak 1933 dan strategi adaptif mengikuti tren generasi muda, Wong Hang Tailor membuktikan eksistensinya sebagai salah satu tailor legendaris Surabaya yang tetap relevan di era modern.
“Fokus utama di seluruh Indonesia pasti untuk pernikahan. Kedua pejabat, lalu artis-artis. Tapi yang paling dominan tetap pernikahan,” pungkasnya.