Masjid Al Ikhlas Sijuk, Tertua di Belitung Berusia 209 Tahun
Akmal KhoirulHabib March 04, 2026 08:42 AM

- Aroma kayu menyeruak di antara pilar-pilar cokelat yang kokoh, sementara cahaya matahari menyelinap melalui sela jendela tanpa pengait.

Tiang-tiang utama tampak menawan tanpa guratan, membuat telapak tangan yang menyentuhnya merasakan permukaan yang halus.

Cat putih cerah berpadu biru membuat bangunan tampak baru meskipun desainnya sudah tidak sesuai zamannya, sedangkan lantai yang tertutup sejadah membuat kaki yang menapak tidak perlu bergesekan dengan kayu pijakan.

Suara motor jemaah yang masuk ke pekarangan bangunan terdengar satu per satu, menandakan waktu salat segera didirikan.

Di bagian depan, para jemaah yang datang langsung disuguhi infografis mengenai sejarah bangunan tua ini. Begitulah gambaran Masjid Al Ikhlas Sijuk atau Masjid Sijuk pada Senin (16/2/2026) siang, tepat waktu zuhur.

Masjid Al Ikhlas berdiri sejak 1817 dan dibangun oleh sosok bernama Tuk Dong yang juga membangun tiga masjid bersejarah lainnya di Belitung.

Dari empat masjid serupa yang pernah ada di Membalong, Kampit, Badau, dan Sijuk, kini Masjid Sijuk menjadi satu-satunya yang masih bertahan.

Imam Hambali (57), Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas Sijuk, mengatakan bahwa menurut sejarah sebelumnya terdapat empat masjid serupa di Pulau Belitung.

Ia menjelaskan bahwa dari keempat bangunan tersebut, hanya Masjid Al Ikhlas yang struktur utamanya masih asli dan berdiri tegak hingga saat ini.

Sosok Tuk Dong masih menjadi teka-teki.

Sebagian meyakini ia adalah ulama asal Kalimantan, sementara versi lain menyebut ia merupakan pendatang asal Cina.

Imam juga menyampaikan bahwa tidak jauh dari masjid terdapat Kelenteng Sijuk yang berjarak sekitar 200 meter dan telah dibangun lebih awal, yakni pada 1815.

Menurutnya, keberadaan kelenteng tersebut menunjukkan harmoni antara etnis Melayu dan Tionghoa telah terjalin sejak lama di wilayah itu.

Imam menjelaskan bahwa kekuatan Masjid Al Ikhlas bertumpu pada empat pilar utama yang terbuat dari kayu hutan Mengguru, Desa Sungai Padang.

Kayu tersebut dahulu dibawa menggunakan rakit menyusuri sungai selama berbulan-bulan karena saat itu belum ada alat transportasi seperti sekarang.

Ia juga menegaskan bahwa masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pernah menjadi tempat musyawarah warga untuk menyusun strategi melawan penjajah sebelum masa kemerdekaan.

Perjalanan masjid ini tidak selalu mulus.

Pada era 1980-an, fungsinya sempat terlantar setelah kegiatan ibadah dipindahkan ke Masjid Al Muhajirin yang lebih besar.

Namun pada 1999, masyarakat Dusun Ulu bersepakat untuk kembali memakmurkan masjid ini melalui tradisi “Berehun” atau gotong royong swadaya.

Kini Masjid Al Ikhlas telah mengalami pembaruan pada bagian plafon dan lantai, tetapi proses renovasi dilakukan tanpa mengubah bentuk aslinya.

Bentuk tersebut tetap dipertahankan sebagai amanah sejarah para leluhur.

Saat ini, Masjid Al Ikhlas berdiri sebagai warisan sejarah yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar peradaban Islam di tanah Sijuk.

Menjelang Ramadan, masjid ini bersiap menyambut jemaah dalam jumlah besar dengan harapan kedamaian yang terjaga selama lebih dari dua abad tetap terpelihara.(*)

Program: Ngabuburit Asyik
Editor Video: Akmal Khoirul Habib

#localexperience #ngabuburit #ngabuburitasyik #masjidindonesia #masjid #religi #wisata #wisatareligi #masjidsejarah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.