Cerita Petani Cabai di Kota Malang, Cuaca Tak Menentu Bikin Biaya Tanam Meningkat
Titis Jati Permata March 04, 2026 01:49 PM

 

SURYA.co.id, MALANG – Sejak awal Ramadan 2026, harga cabai di Kota Malang melonjak hingga Rp 100 ribu per kilogram. 

Meski keuntungan meningkat, para petani di Lesanpuro justru diliputi kecemasan karena curah hujan tinggi memicu serangan hama yang mengancam keberlangsungan panen.

Di tingkat petani, harga cabai telah menyentuh angka Rp 90 ribu per kilogram.

Kenaikan Harga Berlangsung Cepat

Sunarto, salah satu petani cabai di Lesanpuro kepada SURYA.co.id, Rabu (4/3/3026), menuturkan, kenaikan harga terjadi sangat cepat dalam hitungan hari. 

Baca juga: Warga Serbu Pasar Murah Kota Blitar, Cabai Rawit Dijual Rp 5.000/Ons

Pada panen pertama, harga cabai masih berada di kisaran Rp 75 ribu per kilogram.

"Baru kemarin (panen) kedua, pas hari Selasa kemarin, itu mencapai Rp 90 ribu," ujar Sunarto saat ditemui SURYA.co.id, di lahannya, Rabu (4/3/2026). 

Pasar Bergantung Pasokan Lokal

Menurutnya, kenaikan ini dipicu oleh minimnya pasokan dari daerah lain yang biasa mengirim cabai ke Kota Malang.

Akibatnya, pasar kini hanya bergantung pada pasokan lokal dari kelompok tani di wilayah Kota Malang sendiri.

Musim Hujan dan Hama  Jadi Tantangan Berat

Di balik keuntungan harga yang tinggi, Sunarto bilang musim hujan menjadi tantangan berat bagi keberlangsungan tanamannya. 

Cuaca ekstrem membuat hama berkembang biak jauh lebih cepat dari biasanya.

Hama thrips dan kutu kebul yakni hama pengisap getah utama yang menyebabkan daun melengkung keriting, bercak keperakan, dan pertumbuhan kerdil pada tanaman menjadi tantangan bagi petani. 

"Hama thrips dan kutu kebul itu sangat menyerang. Karena hujan malam seperti tadi malam, hama-hama itu sangat cepat perkembangannya," keluhnya.

Petani Keluarkan Modal Lebih Banyak

Kondisi ini memaksa para petani untuk bekerja ekstra keras dan mengeluarkan modal lebih untuk menyelamatkan tanaman mereka dari kegagalan panen.

Untuk menangkal serangan hama di musim hujan, Sunarto mengaku harus meningkatkan dosis dan frekuensi perawatan tanaman cabainya. 

Hal ini berdampak langsung pada biaya operasional yang membengkak drastis.

"Di musim normal biasa hanya 1 kali seminggu, kini meningkat menjadi 2 hingga 3 kali seminggu. Ya meningkat 100 persen atau dua kali lipat dibanding kondisi normal," tutur Sunarto yang sekaligus ketua Gapoktan (gabungan kelompok tani) setempat. 

Biaya Produksi Lebih Tinggi

Karena tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Malang, biaya produksi pun diakuinya sangat tinggi. 

Di atas lahan seluas 2.000 meter persegi miliknya, Sunarto menyebut jika kondisi sedang di puncak panen.

Ia bisa menghasilkan sekitar 350 kilogram cabai sekali petik. 

Namun, angka itu sangat bergantung pada kemampuannya mengendalikan hama di tengah guyuran hujan lebat yang terus terjadi. (PURWANTO)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.