Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menggelar focus group discussion (FGD) untuk mendalami dampak operasi pertambangan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dan korelasinya dengan bencana banjir pada akhir 2025.

"Perhapi mencermati adanya penelitian independen terbaru yang dilakukan oleh Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB)," ujar Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Sudirman menyebut kajian tersebut dilakukan secara komprehensif melalui investigasi lapangan selama kurang lebih dua bulan yakni Desember 2025-Januari 2026.

Hasil penelitian itu, lanjutnya, telah dipresentasikan kepada para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pada 18 Februari lalu.

Sudirman menambahkan terdapat perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah DAS Garoga yang turut menjadi sorotan dalam isu tersebut, yakni PT Agincourt Resources (PT AR).

Berdasarkan hasil kajian CENAGO, lanjut dia, terdapat pembahasan mengenai banjir di wilayah DAS Garoga, yang secara hidrologis terpisah dari sub-DAS operasional PT AR.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) STJ Budi Santoso menilai hasil kajian berbasis data lapangan penting menjadi salah satu referensi dalam pengambilan kebijakan.

"Saya yakin pemerintah akan atau perlu menggunakan data dan hasil kajian yang dasarnya adalah data riil, diambil di lapangan oleh pihak yang memang punya kompetensi, dan bisa dipertanggungjawabkan di depan peers-nya, artinya kalangan yang memiliki keahlian yang sama, sehingga mampu mempertahankan hasil kajian itu," ujarnya.

Sebelumnya, Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 dipicu oleh cuaca ekstrem yang melampaui standar mitigasi banjir nasional.

Koordinator Tim Riset Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) ITB Heri Andreas mengatakan bahwa kondisi tersebut sebagaimana hasil kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS) yakni Badiri, Garoga, dan Batang Toru di Sumatera Utara, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.

Dari kajian penelitian tim riset ITB itu didapati curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem membuat kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.