TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan sekolah di Kabupaten Bantul telah mendapatkan penanganan revitalisasi bangunan sekolah pada tahun 2025.
Setidaknya, ada 23 bangunan TK/PAUD, 8 bangunan SD, hingga 12 bangunan SMP yang mendapatkan perbaikan melalui anggaran pemerintah pusat.
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, Nugroho Eko Setyanto, mengatakan pengerjaan perbaikan bangunan tahun 2025 itu sudah rampung 100 persen.
Kemudian untuk rencana perbaikan pada tahun 2026 melalui anggaran pemerintah pusat masih dalam proses validasi di pusat.
"Untuk jumlah sekolah yang diajukan untuk mendapatkan revitalisasi pada tahun 2026 meliputi 37 PAUD/ TK, 42 SD, dan 18 SMP. Sampai saat ini, masih proses validasi di pusat," katanya kepada Tribunjogja.com, Rabu (4/3/2026).
Kendati begitu, pihaknya berpesan kepada masing-masing sekolah agar tetap merawat seluruh bangunan, apalagi bagi sekolah yang sudah dilakukan revitalisasi bangunan.
Sebab, revitalisasi bangunan sekolah diberikan untuk mendukung proses belajar mengajar di setiap sekolah.
"Apa yang sudah dibangun agar dirawat dan digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar," pinta Nugroho.
Terpisah, Bidang Sarana Prasarana sekaligus Guru Bimbingan Konseling SMPN 1 Imogiri, Sri Erniati, membenarkan bahwa SMPN 1 Imogiri telah mendapatkan perbaikan bangunan bangunan ruang kelas 7A dan 7B serta pembangunan toilet.
"Jadi awalnya kita mengajukan lewat Dapodik, apa saja kerusakan di sekolah kita laporkan lewat sana. Jadi, kelas itu tadinya rusak pada bagian kusen pintu dan jendela, keramik meletus. Karena mengganggu pelajaran, jadi kami ajukan itu dulu," jelas dia.
Lebih lanjut, sebelumnya, SMPN 1 Imogiri sudah mencanangkan sekolah inklusif.
Namun, kala itu belum ada fasilitas tersebut, sehingga ketika ada peluang untuk mengajukan proposal pembangunan toilet pihaknya langsung mengajukan ke pemerintah pusat.
"Ketika pengajuan itu kan ada survei dulu. Apakah status tanah itu milik sekolah, pemerintah, atau yang lain. Jadi yang diizinkan, selain perbaikan dua ruang kelas ada pembangunan toilet di lahan kosong milik sendiri. Kamar mandi itu terbagi atas tiga ruang yakni toilet putra, toilet difabel, dan toilet putri," ucapnya.
Baca juga: Bantul Bahas Raperda Jamsostek, Perkuat Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan di Daerah
Selain itu, pembenahan ruang kelas dan pembangunan toilet telah dilengkapi oleh fasilitas sesuai standar.
Seperti contoh, untuk pembenahan ruang kelas juga dilengkapi meja belajar untuk siswa.
Dengan begitu, siswa bisa belajar dengan aman.
"Kemarin, karena revitalisasi dan pembangunan menggunakan uang negara, tentu saja laporannya tidak semudah menggunakan uang pribadi. Maka, rekanan yang merencanakan dan melaksanakan ditunjuk orang-orang yang paham di bidang itu," jelas dia.
Selanjutnya, mitra perencana dan pelaksana tidak boleh sama dengan sekolah lain, agar kinerja revitalisasi dan pembangunan berjalan optimal.
Bahkan, pihak-pihak lain yang terlibat dalam proyek itu harus sesuai dengan bidangnya agar semua berjalan sesuai prosedur.
"Total revitalisasi dari pemerintah pusat tahun 2025 itu lebih dari Rp600 juta. Dulu, usai gempa tahun 2006 kan kita dapat bantuan dari Jepang, makanya kalau soal kusen itu harus diganti karena sudah lapuk dan ada yang dimakan rayap. Kami sebenarnya sudah mengganti itu secara bertahap lewat BOSDA, tapi karena anggarannya terbagi jadi tidak bisa banyak," tuturnya.
Lebih lanjut, kata Erni, agar bangunan yang dilakukan revitalisasi dan pembangunan tersebut tetap berfungsi dengan baik, maka para siswa diimbau untuk menjaga dan tidak merusak fasilitas yang ada.
Termasuk dengan menggunakan toilet sesuai peruntukannya.
"Anak-anak kalau habis menggunakan toilet, selalu kami imbau agar tetap bersih dengan menyiram air. Kemudian, kalau pakai meja kursi untuk belajar ya digunakan selayaknya untuk belajar dan duduk," tandas dia. (*)