Bung Karno Sembunyikan Derita dalam Tawa: Catatan Dokter Gigi yang Pernah Merawatnya saat Ditahan Orde Baru
Moh. Habib Asyhad March 04, 2026 04:35 PM

Ini adalah kesaksian dokter gigi Oei Hang Kian melihat Bung Karno yang menyembunyikan segala derita dalam tawa. Ini adalah masa di Bung Karno jadi pesakitan Orde Baru.

Diolah dari artikel yang tayang di Majalah INTISARI edisi Juli 2000 dengan judul "Bung Karno Sembunyikan Derita Dalam Tawa"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Kesedihan dan penderitaan bagai tak terlihat dalam diri Bung Karno di akhir kekuasaanya. Tetap ramah, jenaka, dan sederhana, juga tak pernah terlihat marah.

Catatan selama beberapa bulan merawat gigi Bung Karno, sejak awal 1967, ini pernah ditulis drg. Oei Hong Kian pada Intisari Oktober 1988. Dan kemudian diturunkan lagi pada Intisari edisi Juli 2000 karena merupakan salah satu bab dari memoar penulis berjudul Kind van het Land: Peranakan Chinezen in Drie Culturen (Indonet, 1998) yang terjemahannya diterbitkan Intisari. Sebuah cermin kecil yang menampilkan sekelumit kehidupan seorang pemimpin, setelah masa jayanya berlalu.

Sebagai dokter gigi yang bertugas di Departemen Kesehatan RI, drg. Oei Hong Kian beberapa kali memperoleh undangan ke Istana. Tapi tak pernah datang. Sampai suatu saat di awal tahun 1967, dr. Tan, dokter pribadi Presiden Sukarno, menyampaikan berita bahwa presiden sakit gigi.

Drg. Oei tahu bahwa rekan yang biasa merawat gigi BK, drg. Ouw, pindah ke luar negeri. Dia bersedia menerima permintaan dr. Tan. Selain itu dia juga ingin tahu keadaan Istana sekarang, setelah bulan Januari sebelumnya mahasiswa dan pelajar berdemonstrasi.

Mereka membawa slogan "Soekarno 1945 yes, Soekarno 1967 no", juga meminta agar Bung Karno diajukan ke pengadilan.

Wajib berterus terang

Dengan ditemani dr. Tan, drg. Oei berangkat ke Istana. Presiden sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang. Mereka diperkenalkan kepada orang-orang itu, lalu bersama-sama menuju ke ruang khusus untuk pelayanan gigi di Istana Negara.

Alangkah terperanjatnya drg. Oei melihat peralatan di sana. Semua memang terawat dengan baik, tetapi sudah tidak layak lagi untuk praktik modern. Apalagi untuk merawat gigi seorang kepala negara.

"Bagaimana ruang praktik ini, Pak Dokter. Adequaat (memadai), bukan?" tanya Bung Karno dengan nada bangga. Merasa wajib berterus terang kepada Presiden RI, drg. Oei pun menjawab, "Maafkan, Pak. Alat-alat kuno ini sepantasnya sudah masuk museum."

Drg. Oei melihat orang di sekitar terkejut dan melirik BK. Dia jadi waswas. Apakah keterusterangannya akan menyebabkan presiden marah?

Bung Karno tercengang sejenak. Kemudian drg. Oei melihat mata Bung Besar seperti tersenyum dan seluruh wajahnya ceria. "Pak Dokter ini memang lain daripada yang lain," kata BK sambil memandang Pak Hardjo, kepala rumah tangga Istana. "Bagaimana Pak Hardjo? Kata Pak Dokter Oei, alat-alat ini seharusnya sudah disimpan di museum. Dari mana alat-alat ini?"

"Dari dump NICA, peninggalan Belanda, Pak," jawab Pak Hardjo.

Drg. Oei tidak berani menggunakan alat-alat itu sebab sudah tak memiliki keterampilan untuk mengoperasikannya. Akhirnya tim dokter mengambil keputusan yang sebetulnya tidak ideal. Perawatan tetap dilakukan di Istana, tetapi menggunakan alat-alat milik drg. Oei. Truk akan mengangkut peralatan itu, dan setiap kali dibongkar-pasang di dua tempat berbeda.

Dengan peralatan sendiri drg. Oei bisa leluasa bekerja. Seusai perawatan pertama BK berkomentar, "Memang dokter gigi ini hebat. Saya tidak merasa sakit sedikit pun."

"Yang hebat 'kan alat-alat canggih ini, Pak." Alat-alat itu khusus drg. Oei datangkan dari Jepang tahun 1960.

Sejak perawatan pertama itu dia jadi tahu alasan BK selalu mengenakan peci – yang dibukanya ketika diperiksa. Pria pesolek itu sudah, botak hebat.

Perawatan selesai, tapi drg. Oei tidak boleh langsung pulang. Dia pun duduk di serambi belakang Istana Merdeka yang luas sambil minum. Walaupun terus didemonstrasi dan dilanda pelbagai kejadian pelik, BK tidak memperlihatkannya. Dia bicara secara ramah dan antusias, seakan-akan mengabaikan kekuatan jahat yang ingin menurunkannya dari tahta.

Ketika melihat Menteri Sosial Muljadi Djojomartono lewat di halaman Istana, BK memanggil. "Pak Mul, Pak Mul, mari berkenalan dengan dokter gigi saya yang baru."

Tapi Pak Mul menjawab, "Saya sudah mengenal drg. Oei sedikitnya sepuluh tahun."

Menteri P & K Prof. Dr. Prijono juga dipanggil untuk diperkenalkan. Tapi Prof. Prijono menjawab, sudah lama jadi pasien drg. Oei. Dengan nada agak menyesal BK berkata, "Bagaimana sih Bapak-Bapak menteri ini? Mengapa tidak sejak dahulu memberi tahu saya?"

Tidak ada rahasia

Rupanya, gigi BK perlu menjalani restorasi intensif. Untuk itulah drg. Oei harus berkali-kali datang ke Istana. Karena saat itu secara politik sudah disingkirkan, pria yang overaktif itu tidak banyak pekerjaan. Dia sulit membiasakan diri dengan kesepiannya. Maka setiap kali selesai perawatan, drg. Oei pun tetap harus tinggal.

Pada kesempatan lain BK mengajak drg. Oei makan masakan pesanannya, bubur manado dengan ikan asin. Kemudian mereka minum sari jambu klutuk. Tak lama kemudian seorang pembantu membawa piring berisi pisang goreng panas dan secangkir teh. drg. Oei berkesimpulan, Presiden RI itu sangat sederhana dalam pilihan makanan. Makanan kesukaannya ialah pecel.

Saat lain, mereka duduk-duduk di kursi rotan di serambi belakang sambil minum teh. Muncul dua orang Jepang diantar seorang wanita Jepang. Nyonya itu kebetulan pasien drg. Oei. Suaminya seorang pengusaha Indonesia. Rupanya, dia bertindak sebagai penerjemah. drg. Oei buru-buru meminta diri, tetapi BK menarik lengannya.

"Duduk dulu," katanya. "Tidak ada rahasia."

"Kami membawa sekadar oleh-oleh untuk Bapak," kata si juru bicara. Oleh-oleh itu berupa miniatur kapal, mirip kerajinan perak dari Kendari.

"Oleh-oleh ini untuk Presiden RI atau Ir. Sukarno pribadi?" BK bertanya. Pada saat itu resminya BK memang masih presiden, walaupun boleh dikata sudah tidak berkuasa lagi. Namun tampaknya BK riang gembira saja, sehingga drg. Oei heran.

Makin hari suasana di Istana makin lengang. Hanya sedikit tamu yang datang. Di antaranya pengusaha Dasaad dan bekas menteri Leimena. Mereka tidak takut akan segala risiko selalu mendampingi BK.

Bahkan keduanya mampu mengembangkan cerita masa lalu menjadi tawa dan canda. Apabila mereka bercerita, drg. Oei merasa berfungsi sebagai penangkal petir untuk menjaga agar pembicaraan tidak menjadi sentimental.

Ketenangan yang diperlihatkan BK sungguh menakjubkan drg. Oei. Dia tidak pernah melihat Bung Besar marah. Kalau menangis? Sekali dia pernah berucap, "Menangis hanya dilakukan kalau sedang sendiri."

Salah satu foto terakhir

Sidang Istimewa MPRS 7 - 12 Maret 1967 menghasilkan keputusan untuk menarik mandat dari Pemimpin Besar Revolusi itu. Bung Karno harus keluar dari Istana Merdeka. Dalam nama dia masih presiden, tetapi dalam kenyataan dia tahanan rumah di Bogor.

Pertengahan April 1967 drg. Oei kedatangan Pak Djamin, utusan Bung Karno. Selain menyampaikan salam BK, dia juga mengantarkan satu set pulpen dan bolpoin Mont Blanc, sehelai dasi sutera warna putih berinisial "S", serta sebotol besar parfum Shalimar buatan Guerlain.

Ada juga sampul besar berisi foto Bung Karno ukuran 17,5 x 23 cm dengan tulisan: "Untuk Dr. Oei Hong Kian" dan dibubuhi tanda tangan BK serta tanggal 12-4-1967.

Malam harinya drg. Oei memperhatikan foto BK dengan saksama. Dia merasa terharu. BK pasti sedang dalam keadaan sulit sekarang, pikirnya. Tetapi rupanya presiden pertama RI itu tidak lupa menunjukkan penghargaan kepada dokter giginya – yang baru beberapa bulan dikenal.

Keharuan juga terasa ketika mengingat pertanyaannya yang disampaikan lewat Pak Djamin apakah drg. Oei masih dapat menghargai fotonya? Maklum, foto itu diberikan pada saat dia bukan lagi presiden. Mungkin itu termasuk salah satu foto terakhir yang dia berikan secara pribadi kepada seseorang.

Lewat pintu samping

Drg. Oei mengira hubungan dengan BK telah berakhir. Menurut berita burung yang dia dengar, kesehatan BK menurun drastis. Ingatannya lemah, jalannya pincang.

Tiba-tiba sekitar awal September 1967, dokter pribadi BK memberi tahu bahwa BK ingin berobat lagi. Dia akan datang ke rumah drg. Oei. Dokter pribadi itu berpesan agar sang dokter memperhatikan keamanan. Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang dokter gigi untuk melindungi keamanan pasiennya?

Drg. Oei memutuskan agar BK memasuki rumah lewat pintu samping. Kedua mobil sang dokter gigi akan dikeluarkan dari garasi, lalu pintu garasi akan dibuka lebar-lebar. Begitu mobil BK masuk ke garasi, pintunya akan ditutup.

Pukul 08.45. keesokan harinya, seorang prajurit datang mengendarai jip militer. Dia menyetujui prosedur yang dokter tawarkan. Tepat pukul .09.00 BK tiba dengan sedan Mercedes 600, diiringi lima jip putih penuh prajurit. Cuma tidak ada raungan sirine, dan fungsi pengawalannya sudah berbeda.

Bung Karno duduk di bangku belakang yang sangat lapang, tetapi tanpa ajudan. Celananya abu-abu, bajunya putih berlengan pendek dan dibiarkan keluar. Peci hitam tidak ketinggalan. Dia kelihatan sehat walafiat. Dengan gesit, tanpa bantuan, dia keluar dari mobil.

"Selamat pagi, Pak Dokter," sapanya sambil mengulurkan tangan. "Tidak disangka-sangka, ya, kita akan bertemu lagi dalam waktu secepat ini. Ini, gigi saya ada yang terganggu. Bagaimana, baik-baik semua?" Sikapnya biasa saja, seolah-olah tidak ada sedikit pun ganjalan di dalam hati.

Tetap senang bergurau

Drg. Oei mempersilakan BK masuk ke kamar praktik. Seorang prajurit mengikuti, tetapi dokter bilang tidak bisa bekerja sambil ditunggui. Untunglah prajurit itu mengerti walaupun semula menolak.

Sang dokter gigi dibantu keponakan istrinya, seorang wanita dokter gigi. Bung Karno rupanya selalu ingat pada nama orang yang dijumpainya. Sejak itu, kalau keponakan istri drg. Oei tidak ada, BK tak pernah lupa menanyakan.

Drg. Oei merasa lega melihat keadaan BK tidak menyedihkan. Pria itu masih tetap jernih, riang seperti dulu, dan juga penuh humor.

Sambil melepaskan pecinya, BK bertanya, "Saya ingin tahu, apakah Pak Dokter masih bisa menghargai foto saya?"

"Pak," jawab saya, "Bapak tentu pernah memberikan foto kepada banyak orang. Tetapi karena Bapak memberikannya kepada saya pada saat itu, foto itu tinggi nilainya bagi saya."

Drg. Oei belum lama mengenal BK. Saat terpukul karena kekuasaannya dilucuti, ternyata Bung Besar masih ingat memberikan cenderamata. Apakah itu penghargaan atas pelayanan drg. Oei sebagai dokter gigi, ataukah tanda mata bagi salah satu dari segelintir orang yang membantu mengusir kesepiannya di saat sulit, walau cuma sebentar?

"Bapak saat ini tidak bisa memberi imbalan apa-apa," lanjut BK. Drg. Oei sampai tidak bisa berkata-kata. Mungkin BK tahu tidak ada yang memikirkan honorariumnya. Terus terang drg. Oei sendiri juga tidak pernah memikirkannya. Dia tahu bahwa dalam keadaan normal dokter pribadi akan memperoleh fasilitas khusus. Namun saat itu bukanlah keadaan normal.

Tidak mau datang terlambat

Ketika akan pulang, BK minta bertemu dengan istri drg. Oei. Di ruang duduk, dia mempersilakan BK untuk singgah, tetapi BK menolak. "Terima kasih. Nanti suami Anda bisa dikira yang bukan-bukan kalau saya berlama-lama di sini."

Walau tidak pernah berlama-lama, BK beberapa kali datang lagi untuk periksa. Suatu kali, ketika dia datang, putri drg. Oei sedang mengerjakan PR. Bung Karno mengusap-usap kepala anak itu sambil berkata, "Belajar baik-baik ya, Nak. Supaya nanti pandai."

Kebetulan putri drg. Oei yang nomor tiga memasuki ruangan. "Wah, kau pasti ingin jadi dokter kelak, seperti ayahmu," kata BK seraya menghampiri anak itu dan (juga) mengusap-usap kepalanya. Kedua anak itu belakangan memang menjadi dokter gigi.

Pada suatu pagi BK datang tanpa iringan jip.

"Kok sendirian, Pak?" tanya drg. Oei.

"Mereka belum datang. Padahal saya tidak mau terlambat." Bung Karno memang selalu datang sesuai waktu perjanjian. Hal itu tentu sangat memudahkan sang dokter yang antijam karet.

Waktu pengobatan diulur

Bung Karno memerlukan dua-tiga kali kunjungan setiap kali merasa giginya terganggu. Suatu saat dia berkata, "Saya ingin bicara blak-blakan. Saya ingin tinggal agak lama sedikit di Jakarta. Di Jakarta saya lebih dekat dengan anak-anak. Mungkinkah itu?"

Setahu drg. Oei, saat itu BK tinggal di Bogor. Tetapi kalau sedang membutuhkan perawatan, dia tinggal di Wisma Yoso (Museum ABRI Satria Mandala) di Jin. Gatot Subroto, Jakarta. Dari situ BK hanya boleh pergi-pulang ke rumah drg. Oei.

Drg. Oei menjawab, "Tentu mungkin, Pak. Waktu pengobatan bisa diulur. Seandainya diulur tiga minggu, cukup Pak?"

BK kelihatan gembira sekali. "Wah, terima kasih banyak!" Drg. Oei sampai terharu karena hal kecil saja bisa membuat bahagia bekas presiden yang sedang kesepian itu.

Selama lebih dari setahun merawat gigi BK, drg. Oei tak pernah membicarakan soal politik. Suatu kali BK bertanya di mana Profesor Ouw berada. Dia mengatakan, dia di Hongkong. Bung Karno tidak mengerti mengapa dia pindah ke sana.

"Itu karena Bapak," kata drg. Oei.

"Saya disalahkan lagi," dia menanggapi.

"Ya. Bapak mengangkatnya jadi anggota DPA. Ketika mahasiswa mulai bergolak, dia takut dan cepat-cepat pergi."

"Namun dia toh bisa pamit. Atau paling sedikit bisa menulis surat," BK ngotot.

Drg. Oei hanya bisa mengatakan bahwa orang itu takut.

Mengerti arti kesepian

Dua anak drg. Oei sedang menuntut ilmu di Universitas Amsterdam. Tak lama lagi kedua adiknya akan menyusul. Jadi, drg. Oei hanya akan berdua dengan istri di Jakarta. Daripada terpisah-pisah, lebih baik pindah saja ke Amsterdam.

Ketika BK datang pada bulan Februari 1968, dia beritahukan rencana itu, untuk pindah pada akhir Maret. Bung Karno menanggapi, "Tidak perlu menjelaskan kepada Bapak apa artinya kesepian. Bapak mengerti. Tapi kita masih akan berjumpa beberapa kali lagi, 'kan?"

Pertengahan Maret BK menyatakan ingin pulang ke Bogor. Padahal drg. Oei akan memasang tambalan emas pada giginya. Mereka berjanji akan bertemu untuk terakhir kalinya 21 Maret 1968.

Walaupun setelah itu paling sedikit sekali setahun drg. Oei pulang ke Tanah Air, tidak pernah melihat BK lagi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.