TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat politik, Rocky Gerung, menilai tak mungkin Presiden Prabowo Subianto bisa menjadi mediator dalam konflik besar yang saat ini sedang membara antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel.
Menurutnya, ide Indonesia untuk mendamaikan kedua belah pihak mustahil terwujud karena perbedaan kepentingan global.
Dalam sebuah diskusi publik, Rocky awalnya mempertanyakan cara masyarakat kini membaca konflik Timur Tengah yang dinilainya terlalu terpaku di headline yang disajikan televisi.
"Pertanyaannya, perang itu apa? Apakah definisi perang Netanyahu sama dengan definisi perang Ali Khamenei, sama dengan definisi perang Donald Trump? Beda betul," ujar Rocky seperti dikutip dari tayangan Rakyat Bersuara yang tayang pada Selasa (4/3/2026).
Ia menilai, bagi Iran dan Israel, perang dilihat sebagai relasi permusuhan yang setara, masing-masing mengakui pihak lain sebagai musuh.
Namun, menurutnya, perspektif berbeda datang dari Presiden AS, Donald Trump.
"Iran itu (bagi Israel) adalah musuh tapi bagi Donald Trump, Iran itu mainan," katanya.
Rocky bahkan menyebut fenomena perang kini mengalami semacam 'devaluasi makna'.
Ia menceritakan pengalamannya saat berada di Yordania beberapa waktu lalu.
Saat itu, ia bertanya kepada mahasiswa Indonesia mengenai kemungkinan perang.
“Jawabannya, 'Oh, enak'. Karena mereka melihat drone Iran ke Israel seperti lampion di langit Yordania. Seolah-olah perang adalah a kind of festival of torture. Nonton torture (penyiksaan)," ungkapnya.
Menurutnya, situasi tersebut membuat horor perang kehilangan bobot moralnya.
Rocky lalu menyinggung konsep kedaulatan.
Ia menilai, cara berpikir Trump berbeda dari pemahaman umum tentang negara hukum.
"Bagi kita, berdaulat adalah taat terhadap konstitusi. Tapi Trump lain cara berpikirnya. Daulat artinya dia mampu melakukan sesuatu justru di luar hukum," katanya.
Dalam konteks itulah, Rocky menganggap keinginan Presiden Prabowo untuk mengambil peran perdamaian menjadi tidak realistis.
"Mau didamaikan apa? Perspektif mainan oleh Trump atau perspektif permusuhan antara Iran dan Israel. Enggak mungkin Indonesia mampu mendamaikan Iran dan Israel, enggak mungkin Indonesia mampu mengubah cara berpikir Trump bahwa politik adalah mainan," katanya.
Ia juga membandingkan wacana tersebut dengan upaya Presiden Joko Widodo sebelumnya yang sempat ingin mendorong dialog Rusia dan Ukraina.
"Hal yang sama absurdnya dilakukan sama Jokowi, mau mendamaikan Rusia dan Ukraina, kan itu jadi bahan tertawaan," katanya.