Melihat Megahnya Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Hagia Shopia-nya Indonesia
Abdul Rosid March 04, 2026 07:07 PM

Laporan Jurnalis TribunBanten.com, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Di jantung Kota Tangerang Provinsi Banten, berdiri sebuah mahakarya arsitektur Islam yang tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol kebanggaan warga.

Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, kerap dijuluki sebagai “Hagia Sophia-nya Indonesia”, berkat kemegahan kubahnya yang monumental dan desainnya yang memukau.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Dari kejauhan, siluet lima kubah raksasa masjid ini tampak mendominasi cakrawala Kota Tangerang.

Baca juga: Waktu Buka Puasa Kota Tangerang Hari Ini, Rabu 4 Maret 2026

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare ini memadukan keindahan desain, kecanggihan konstruksi, dan nilai-nilai simbolik Islam dalam satu bangunan monumental.

Kemegahannya menjadi penanda visual sekaligus spiritual bagi masyarakat yang melintas di sekitarnya.

Jejak Sejarah Pembangunan

Pembangunan Masjid Raya Al-A’zhom dimulai pada 1997. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wali Kota Tangerang saat itu, Djakaria Machmud, sebagai wujud komitmen menghadirkan pusat ibadah representatif bagi masyarakat.

Proses pembangunannya memakan waktu sekitar enam tahun. Pada 23 Februari 2003, masjid ini diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia kala itu, Said Agil Husin Al Munawar.

Dengan total biaya pembangunan yang diperkirakan mencapai Rp28 miliar, Al-A’zhom menjadi salah satu proyek keagamaan terbesar di Kota Tangerang pada masanya.

Di balik desain megahnya, terdapat sentuhan arsitek kenamaan, Slamet Wirasonjaya, guru besar arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia merancang masjid ini dengan pendekatan modern namun tetap sarat makna simbolik.

Keajaiban Lima Kubah Tanpa Tiang

Daya tarik utama Masjid Raya Al-A’zhom terletak pada lima kubah besarnya.

Kubah utama berdiameter 63 meter dan dikelilingi empat kubah setengah lingkaran yang menopang struktur secara menyeluruh.

Keunikan konstruksi masjid ini terletak pada ruang utama salat yang tidak menggunakan tiang penyangga di tengah bangunan.

Tanpa pilar yang menghalangi pandangan, jemaah dapat merasakan kesan luas, lapang, dan terbuka.

Struktur kubah raksasa itulah yang menopang beban bangunan secara menyeluruh—sebuah pencapaian teknik arsitektur yang jarang ditemui pada masjid di Indonesia.

Lima kubah tersebut bukan sekadar elemen estetika. Ia melambangkan lima rukun Islam, fondasi utama ajaran yang menjadi pijakan hidup umat Muslim.

Dengan kapasitas yang mampu menampung sekitar 15.000 jemaah, Masjid Raya Al-A’zhom kerap dipadati warga, terutama saat pelaksanaan Salat Idulfitri dan Iduladha.

Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Kompleks masjid ini dilengkapi beragam fasilitas pendukung, mulai dari tempat wudu yang representatif, mihrab utama, ruang pengurus, ruang belajar, hingga perpustakaan.

Halamannya yang luas juga memungkinkan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial digelar secara terbuka.

Salah satu agenda tahunan yang paling dinantikan adalah Festival Al-A’zhom. Kegiatan ini telah menjelma menjadi perhelatan religi dan budaya yang melibatkan masyarakat Kota Tangerang, peserta dari berbagai daerah, bahkan perwakilan luar negeri.

Festival tersebut menghadirkan beragam acara, mulai dari pasar rakyat, lomba marawis, tabligh akbar, bedah buku, kegiatan sosial, lomba cerdas cermat Islam, musik religi, khataman Al-Qur’an, hingga kegiatan unik seperti jalan sehat sarungan.

Momentum ini tak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga ruang interaksi sosial dan penggerak ekonomi umat.

Ramadan Al-A’zhom Festival 1447 Hijriah

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Tangerang bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) kembali menggelar Ramadan Al-A’zhom Festival.

Perhelatan religi tahunan ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 18 Februari hingga 18 Maret 2026, dengan pusat kegiatan di kawasan Masjid Raya Al-A’zhom.

Mengusung tema “Ramadan Seru, Berkah Nomor Satu”, festival ini mentransformasi area masjid menjadi pusat syiar Islam, edukasi, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Berbagai stan UMKM, kajian keislaman, hingga hiburan religi dipadukan dalam satu rangkaian kegiatan yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

Kehadiran festival ini sekaligus menegaskan fungsi masjid sebagai episentrum kehidupan umat, tempat ibadah yang hidup, inklusif, dan berdaya guna.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.