Waspada Efek Perang Timur Tengah: Harga Produk Lokal Bisa Naik, Margin Pengusaha Kecil Tercekik
Acos Abdul Qodir March 04, 2026 08:19 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai mengirimkan sinyal bahaya yang nyata bagi stabilitas ekonomi domestik, khususnya di jantung manufaktur Jawa Barat.

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini membayangi angka 100 Dolar AS per barel akibat gangguan keamanan di Selat Hormuz diprediksi akan memicu efek domino berupa kenaikan harga produk lokal serta ancaman serius bagi keberlangsungan pengusaha kecil di tanah air.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jawa Barat, Rescky Noereal Roma, memperingatkan bahwa meski secara geografis konflik tersebut berada di wilayah yang jauh, dampaknya akan terasa langsung pada membengkaknya biaya logistik domestik dari pusat produksi di Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta menuju pasar.


Ia menegaskan, industri tekstil hingga otomotif akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang mulai mendekati level psikologis baru.

Kondisi ini memicu fenomena Imported Inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga barang-barang dari luar negeri, yang paling rentan menghantam kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi dan potensi penyesuaian tarif listrik industri akan menekan margin keuntungan pengusaha kecil yang sudah tipis. Jika daya beli masyarakat menurun karena inflasi pangan dan energi, maka serapan produk lokal pun akan ikut melambat,” ujar Rescky dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Ia juga menyoroti disrupsi rantai pasok global yang meningkatkan biaya war risk premium—tambahan biaya asuransi pengiriman akibat risiko perang—sehingga membuat produk berlabel "Made in Jabar" menjadi kurang kompetitif di pasar internasional karena harga jual yang terpaksa naik.

Di sisi lain, meskipun tekanan geopolitik meningkat, fundamental ekonomi nasional dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan melalui penguatan pasar domestik.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Bakal Pilih Naikkan Harga BBM atau Subsidi Membengkak?

Sebagai langkah konkret, HIPPI Jabar mendorong para pelaku usaha untuk segera melakukan audit efisiensi energi serta melakukan transformasi digital guna memotong rantai distribusi yang tidak efisien.

Di tengah pasar ekspor yang terganggu, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat rantai pasok antar-daerah melalui gerakan "Bela Beli Produk Lokal" sebagai upaya memperkuat benteng ekonomi mandiri.

Rescky mendesak pemerintah daerah untuk hadir memberikan jaring pengaman bagi pelaku UMKM, terutama dalam menjamin stabilitas harga bahan baku pangan dan memberikan kemudahan akses pembiayaan di tengah tren suku bunga yang diprediksi tetap tinggi.

Meskipun gejolak di Timur Tengah berada di luar kendali Indonesia, ketahanan ekonomi diyakini tetap terjaga melalui kolaborasi solid antara pengusaha, pemerintah, dan masyarakat.

Jawa Barat yang telah teruji melewati berbagai krisis diharapkan mampu memitigasi dampak geopolitik ini dengan cara tetap beradaptasi dan tumbuh melalui penggunaan produk lokal yang lebih masif demi menjaga dapur pengusaha kecil tetap mengepul di tengah ketidakpastian global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.