SURYA.co.id - Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk membaca doa qunut dalam sholat Witir setelah shooat Tarawih.
Tradisi ini umumnya mulai diamalkan sejak malam ke-15 Ramadan hingga akhir bulan.
Doa Qunut Witir dibaca pada rakaat terakhir sholat Witir, setelah bangkit dari rukuk (i’tidal).
Amalan ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon ampunan, perlindungan, serta keberkahan dari Allah SWT di hari-hari penuh kemuliaan.
Berikut adalah panduan lengkap bacaan Doa Qunut Witir dan dalilnya menurut Imam al-Nawawi, serta keutamaannya.
Berikut penjelasan Imam al-Nawawi dalam Kitab al-Adzkar soal waktu yang tepat untuk memulai Qunut sholat Witir di bulan Ramadan.
"Menurut kami (Madzhab Syafi'i), disunnahkan qunut di akhir witir pada separuh akhir Ramadhan. Ada juga dari kalangan kami yang berpendapat disunnah qunut di sepanjang Ramadhan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan qunut di seluruh shalat sunnah (sepanjang tahun) menurut Madzhab Abu Hanifah. Namun yang masyhur menurut madzhab kami adalah model yang pertama."
Dengan demikian, pendapat paling kuat (al-masyhur) yang diikuti adalah melakukan Qunut pada malam ke-16 Ramadan hingga akhir bulan.
Baca juga: Keutamaan Sholat Tarawih dan Witir di Bulan Ramadan Menurut Hadist
Berikut adalah bacaan doa Qunut yang umum dibaca saat sholat Witir, baik secara sendiri maupun berjamaah (dengan perubahan dhamir/kata ganti):
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Teks Latin: Allahummah dinii fii man hadait, wa 'aafinii fii man 'aafait, wa tawallanii fii man tawallait, wa baarik lii fii maa a'thait, wa qinii syarra maa qadhait. Fainnaka taqdhii walaa yuqdhaa 'alaik, wa innahu laa yadzillu man waalait, walaa ya'izzu man 'aadait, tabaarakta rabbanaa wa ta'aalait. Falakal hamdu 'alaa maa qadhait, astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Artinya "Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Sejahterakanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau sejahterakan. Pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berkahilah bagiku pada apa yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah aku dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan. Sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan yang dihukum. Tidak akan hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi. Segala puji bagi-Mu atas segala yang Engkau tetapkan. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu."
(Catatan: Jika imam yang membaca, lafadz "dinii/aku" biasanya diganti menjadi "dinaa/kami")