Ketakutan WNI yang Terjebak di Dubai, Mau Pulang Khawatir Pesawat Kena Rudal
Noval Andriansyah March 04, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Dubai - Sejumlah warga negara Indonesia ( WNI ) tertahan di Dubai akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Satu di antara WNI yang tertahan di Dubai yakni Adi Darmadi (31), warga Kota Denpasar, Bali.

Adi bahkan telah 5 hari tertahan di Dubai lantaran aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Dubai dan wilayah Uni Emirat Arab dihentikan sementara.

Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com, perang antara Amerika Serikat-Israel menghadapi Iran masih berkecamuk di kawasan Timur Tengah.

Dampak perang tersebut membuat gangguan keamanan global serta pembatalan penerbangan akibat ditutupnya wilayah udara.

Baca juga: Peringatan Iran ke Negara-negara di Eropa, Agar Tak Ikut-ikutan AS dan Israel

Adi Darmadi merasa gelisah karena terjebak di antara perang Timur Tengah. Hingga Rabu (4/3/2026), dia belum dapat pulang ke Tanah Air.

Dia juga merasa ketakutan apabila bisa pulang karena pesawat yang akan dikendarainya dikhawatirkan terkena rudal. 

Adi terpaksa memperpanjang masa tinggalnya di Dubai setelah aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Dubai dan wilayah Uni Emirat Arab dihentikan sementara akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Adi awalnya datang ke Dubai untuk berlibur selama satu pekan. Namun setelah tiga hari menikmati liburan, situasi geopolitik memanas dan berdampak pada operasional penerbangan.

“Saya dapat informasi maskapai Emirates akan melanjutkan jadwal penerbangan Senin 2 Maret pukul 15.00. Tapi belum ada konfirmasi dari pihak bandara,” ujar Adi, Selasa (3/3/2026).

Kini sudah lima hari ia berada di Dubai tanpa kepastian kapan bisa kembali ke Bali.

Rasa khawatir pun menghantui, termasuk ketakutan akan keselamatan penerbangan di tengah situasi konflik.

“Ada rasa takut juga kalau nanti sudah bisa terbang, pesawat kena rudal. Semoga tidak ya,” katanya.

Meski demikian, Adi menyebut kondisi di Dubai relatif kondusif. Aktivitas masyarakat masih berjalan normal dan belum ada fasilitas publik yang tutup selain bandara.

“Semua aktivitas normal. Harapannya bandara cepat buka dan saya bisa balik ke Bali untuk makan babi guling,” ujarnya. 

Pariwisata di Timur Tengah Terdampak

Konflik yang pecah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung pada industri perjalanan global.

Travel content creator asal Amerika Serikat, Kendyl Grender, mengungkapkan bahwa perjalanan grup ke Mesir yang telah lama direncanakan terpaksa dibatalkan menyusul meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Pada pagi 3 Maret, perusahaan mitra perjalanan Grender secara resmi menghentikan dua trip berturut-turut yang dijadwalkan berlangsung akhir Maret.

Perjalanan tersebut rencananya akan membawa sekitar 20 peserta menjelajahi sejumlah destinasi populer di Mesir seperti Kairo, Aswan, hingga menyusuri Sungai Nil.

Grender yang mengelola tur melalui perusahaannya, Kendyl Travels, bekerja sama dengan operator global Intrepid Travel.

Keputusan pembatalan diambil setelah pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keamanan global.

Pada 28 Februari, pemerintah AS meluncurkan serangan militer ke Iran. Tak lama setelah itu, United States Department of State mengeluarkan peringatan keamanan di seluruh dunia dan secara khusus mencantumkan Mesir dalam daftar negara yang perlu diwaspadai.

Sejalan dengan arahan tersebut, Intrepid Travel membatalkan seluruh perjalanan ke Mesir, Yordania, Oman, dan Arab Saudi hingga akhir Maret.

“Semua orang tentu mengikuti situasi ini dengan sangat dekat,” ujar Grender kepada media AS.

Ia mengatakan sebagian besar kekhawatiran peserta tur berkaitan dengan penerbangan, khususnya rute transit di Timur Tengah seperti Doha dan Dubai.

Ia bahkan menyarankan peserta untuk mempertimbangkan pengalihan rute melalui Eropa, termasuk untuk penerbangannya sendiri dengan American Airlines.

Efek Domino Penutupan Wilayah Udara

Ketegangan konflik menyebabkan sejumlah wilayah udara ditutup, termasuk di Iran, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Maskapai seperti Qatar Airways dan Emirates mengalami gangguan operasional, memicu antrean panjang dan penumpang terlantar di berbagai bandara internasional.

Menurut Suzanne Morrow, CEO InsureMyTrip, penutupan wilayah udara di pusat penerbangan utama seperti Dubai dan Doha menciptakan efek berantai global.

“Ketika wilayah udara di Iran, UEA, Qatar, dan hub besar seperti Dubai serta Doha ditutup, dampaknya tidak hanya terbatas di Timur Tengah, tetapi meluas secara global,” ujarnya.

William J. McGee dari American Economic Liberties Project menjelaskan bahwa gangguan ini menyebabkan pesawat dan kru maskapai berada di lokasi yang tidak sesuai jadwal, sehingga memicu pembatalan dan penundaan penerbangan ke berbagai destinasi yang sebenarnya tidak berada di zona konflik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.