Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tiga tahun terakhir, petani di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, seakan tak pernah benar-benar tenang.
Sawah yang seharusnya menguning jelang panen, justru lebih dulu 'dipanen' hama tikus.
Hasil merosot, biaya produksi melonjak dan petani pun menjerit menanggung kerugian berulang.
Serangan hama tikus ini terjadi di sejumlah desa dan menjadi persoalan yang tak kunjung tuntas.
Baca juga: Biawak Bikin Heboh Satu Rumah di Tasikmalaya, Sempat Dikira Tikus, Agresif saat Dievakuasi Damkar
Selain menurunkan hasil panen, kondisi tersebut juga memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki tanaman yang rusak.
Ketua Gapoktan Makmur Jaya Desa Tegal Karang, Rojai mengatakan, serangan tikus sudah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir dan berdampak langsung pada pendapatan petani.
“Pendapatan jelas berkurang karena sebagian padi dimakan tikus, biaya produksi malah bertambah. Pemupukan biasanya dua sampai tiga kali, sekarang harus mengulang pemupukan di bagian yang rusak supaya pertumbuhannya bisa menyamai tanaman lain,” ujar Rojai saat diwawancarai media, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani berada dalam situasi sulit.
Di satu sisi, pengeluaran terus meningkat.
Di sisi lain, hasil panen justru menurun akibat serangan hama yang tak terkendali.
Berbagai cara telah ditempuh untuk menekan populasi tikus.
Mulai dari pengumpanan racun secara mandiri, penembakan, hingga pemasangan aliran listrik di area persawahan.
Gropyokan pun rutin dilakukan sebelum masa tanam.
“Semua cara sudah ditempuh. Gropyokan sebelum masa tanam juga dilakukan. Tapi kalau sudah ada tanaman, tikus masuk ke sawah dan sulit dikejar,” ucapnya.
Saat tanaman sudah tumbuh, pengumpanan racun menjadi metode yang paling sering digunakan karena dinilai lebih memungkinkan.
Namun, menurut Rojai, upaya ini tak akan efektif jika tidak dilakukan secara serempak.
Baca juga: Petani di Buahdua Sumedang Gagal Panen Tiga Musim, DPRD Jabar Desak Penanganan Serius Hama Tikus
“Kalau tidak bareng-bareng, tikus pindah ke lahan lain. Jadi harus serempak semua tahapan pengendalian dilakukan,” jelas dia.
Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Palimanan, Eeb menyebut, serangan tikus di wilayah Palimanan tergolong endemik di sejumlah desa, seperti Pegagan, Cangkuang, Tegal Karang dan Lungbenda.
Ia mengatakan, pemerintah bersama petani telah melakukan berbagai upaya pengendalian melalui gerakan pengendalian (gerdal), di antaranya gropyokan, pengemposan sarang, hingga pengumpanan racun.
“Mudah-mudahan dengan upaya bersama ini populasi bisa berkurang sehingga produksi padi kembali meningkat,” kata Eeb.
Selain itu, pengendalian alami juga dilakukan dengan membangun rumah burung hantu (rubuha) sebagai upaya menghadirkan predator alami tikus di area persawahan.
Namun di lapangan, masih ditemukan petani yang menggunakan aliran listrik karena dianggap paling cepat menekan populasi.
Padahal metode tersebut berbahaya dan dilarang karena dapat membahayakan keselamatan petani maupun masyarakat sekitar.
“Listrik tidak dianjurkan dan ada aturan yang melarang karena membahayakan, baik petani sendiri maupun orang lain. Tapi karena kerugian besar, sebagian petani masih nekat,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengendalian hama tikus harus dilakukan secara terpadu dan serentak, bukan parsial, agar populasi tidak berpindah ke lahan lain.
“Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya jauh lebih efektif. Kunci utamanya kekompakan petani,” ucap Eeb.
Baca juga: Petani di Indramayu Diminta Tak Pakai Jebakan Listrik untuk Jerat Tikus, Bahaya dan Bisa Kena Pidana