TRIBUNKALTENG.COM - Mojtaba Putra Ali Khamenei diangkat jadi Pemimpin Tertinggi Iran, berikut update serangan Amerika-Israel.
Kini Israel memberi peringatan dan menyebut penerus Khamenei akan menjadi target pasti.
Baca juga: Perang Iran vs Amerika, Basis Militer Donald Trump di Bahrain-Qatar-Kuwait-Arab Saudi-UEA Hancur
Dilansir Tribunkalteng.com, Rabu 4 Maret 2026, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan dalam sebuah pesan pada hari Rabu, 4 Maret, bahwa “pemimpin mana pun” yang ditunjuk oleh Republik Islam untuk menggantikan pemimpin rezim sebelumnya, Ali Khamenei, akan menjadi “target pasti untuk dieliminasi.”
Pada sebuah pernyataan resmi, Menteri Pertahanan Israel menulis: “Pemimpin mana pun yang ditunjuk oleh rezim teroris Iran untuk terus memimpin program penghancuran Israel, mengancam Amerika, dunia bebas, dan negara-negara regional, serta menindas rakyat Iran akan menjadi target pasti untuk dieliminasi.”
Pernyataan Israel Katz menambahkan: “Tidak penting siapa namanya atau di mana dia bersembunyi.”
Pada bagian penutup pernyataannya, Menteri Pertahanan Israel menekankan bahwa militer Israel, bersama dengan mitranya, Amerika Serikat, akan terus menghancurkan semua “kemampuan rezim” dengan “kekuatan penuh” untuk, seperti yang ia katakan, “menciptakan kondisi bagi rakyat Iran” untuk mengambil tindakan guna menggulingkan pemerintah dan memilih pengganti yang sesuai.
Pernyataan ini dirilis satu hari setelah serangan Israel dan Amerika terhadap markas besar Majelis Pakar di Qom. Beberapa menit setelah serangan rudal ke gedung tersebut, Axios melaporkan bahwa serangan itu terjadi saat Majelis Pakar sedang melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemimpin berikutnya. Namun, media yang berafiliasi dengan IRGC membantah bahwa anggota Majelis Pakar berada di gedung tersebut pada saat itu.
Pengganti Khamenei
Media tersebut mengatakan bahwa keputusan itu dibuat di bawah tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dikutip Tribunkalteng.com, Rabu 4 Maret 2026.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyerang sebuah gedung di Qom tempat sidang parlemen akan diadakan.
Seorang juru bicara militer Israel mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa dampak serangan tersebut masih sedang dinilai. Namun, Fars mengatakan tidak ada pertemuan di gedung tersebut pada saat serangan terjadi.
Reuters menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai seorang konservatif garis keras seperti ayahnya yang secara terbuka mendukung kebijakan keras terhadap lawan rezim dan musuh eksternal.
Dalam laporannya, CNN mencatat bahwa pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak tidak diterima secara luas di kalangan ulama Syiah, khususnya di Iran pasca-revolusi.
Majelis Ahli dilaporan Iran International, Rabu (4/3/2026), telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Mojtaba adalah putra dari Ayatollah Ali Khamanei.
Laporan Iran International mengutip sumber menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba atas tekanan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memastikan bahwa Majelis Ahli akan berkumpul pada Ahad (1/3/2026) dan memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang syahid.
Menurut pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya," kata Larijani, sebagaimana disiarkan televisi nasional Iran.
"Majelis Ahli akan bersidang hari ini dan prosesnya akan dimulai," ucap dia, menambahkan.
Khamenei telah menjadi pemimpin Republik Islam sejak tahun 1989, satu dekade setelah ia meraih ketenaran selama revolusi teokratis yang berhasil menggulingkan monarki di sana dan mengguncang Timur Tengah.
Sekarang, jika klaim tentang kematiannya benar, Iran akan mendapatkan Pemimpin Tertinggi yang baru.
Mojtaba Khamenei adalah seorang ulama yang dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam. Berikut alasan mengapa ia kemungkinan besar bukan penerus Ali Khamenei. (Tribunkalteng.com)