Asosiasi Travel Haji dan Umrah Masih Medata Jumlah Jemaah yang Tertahan, Pulang dan akan Berangkat 
Kemal Setia Permana March 04, 2026 11:11 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Karawang | Cikwan Suwandi

KARAWANG, TRIBUNJABAR.ID – Ketua Koperasi Asosiasi Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bersathu), Rafiudin Firdaus, mengungkapkan sebanyak 300 anggotanya masih melakukan pendataan jemaah umrah yang tertahan.

Data yang sedang dikumpulkan adalah data jumlah jemaah yang masih tertahan, belum pulang, yang sudah kembali, maupun yang akan berangkat menjelang akhir Ramadhan.

Rafiudin mengatakan jika ada jemaah yang tertahan, maka dampaknya tidak hanya pada operasional travel, tetapi juga pada kondisi psikologis jemaah dan keluarga di Tanah Air.

“Kalau jemaah tertahan, kami harus menambah biaya hotel, konsumsi, dan kebutuhan lainnya. Belum lagi tekanan psikologis karena keluarga pasti terus bertanya kapan bisa pulang,” kata Rafiudin, Rabu (4/3/2026).

Meski demikian, Rapiudin memastikan hingga saat ini tidak ada jemaah di travelnya Sanema Tour yang tertahan di Arab Saudi. Seluruh jemaah masih dalam kondisi aman dan terpantau.

Baca juga: DPR Sebut 58 Ribu Jemaah Umrah RI Masih di Arab Saudi, Minta Kementerian Haji Sweeping Travel Nakal

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, pihaknya bersama asosiasi travel umrah dan haji terus berkoordinasi dan menyiapkan sejumlah opsi, termasuk kemungkinan penggunaan penerbangan charter jika situasi mendesak.

“Hari ini kami di asosiasi sedang melakukan pendataan. Kalau nanti diperlukan dan ada kepastian, salah satu opsi yang bisa ditempuh adalah charter flight,” kata dia.

Menurut Rapiudin, dampak paling terasa dialami jemaah yang terbang dengan sistem transit melalui negara-negara Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Oman.

“Pasti sangat berdampak, terutama bagi jemaah yang menggunakan maskapai transit. Banyak yang tertahan dan belum bisa kembali ke Tanah Air karena harus menunggu kepastian penerbangan lanjutan,” ujar Rapiudin.

Baca juga: Masjid Merah Kedung Menjangan Cirebon: Jejak Majapahit dan Sumur Wasiat yang Tak Pernah Kering

Ia menjelaskan, jemaah yang menggunakan maskapai dengan rute transit seperti melalui Qatar, Abu Dhabi, Dubai, maupun Oman, harus berpindah pesawat sebelum menuju Madinah atau Jeddah. Kondisi inilah yang membuat kepulangan mereka terdampak imbas kebijakan dan situasi di negara-negara tersebut.

Sementara itu, penerbangan langsung atau direct dinilai relatif aman dan masih berjalan normal hingga saat ini. Maskapai yang melayani penerbangan langsung seperti Saudia, Garuda Indonesia, dan Lion Air belum mengalami penundaan signifikan.

“Kalau yang direct, jalur penerbangannya berbeda dan sampai hari ini masih normal. Kami bahkan malam ini ada jemaah yang pulang menggunakan Saudia dan masih sesuai jadwal,” katanya.

Konflik Timur Tengah

Diketahui bahwa saat ini sedang terjadi perang di Timur Tengah.

Perang dimulai ketika Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini menyebakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa petinggi militer Iran tewas.

Atas serangan tersebut, Iran melakukan serangan balasan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer dan asset AS yang berada di sejumlah negara Teluk, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Setelah menyerang pangkalan militer AS di Arab Saudi, Iran memperluas serangan balasan dengan menargetkan fasilitas AS yang berada di Timur Tengah. Pemerintah Arab Saudi menyatakan pada Selasa (3/3/2026) pagi Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua drone, sehingga menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil. 

Sejumlah negara meminta warganya keluar dari Arab Saudi. Namun, hal itu tidak mudah dilakukan karena sebagian besar wilayah udara ditutup dan banyak terjebak. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.