Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menghadapi berbagai macam tantangan dan persoalan yang cukup kompleks selama satu tahun memimpin Kota Kembang ini.
Di tengah upayanya membenahi Kota Bandung, berbagai macam kritik muncul ke permukaan. Namun, kondisi ini dijadikan pemantik untuk terus menyelesaikan masalah terutama yang selama ini mendapat sorotan publik.
Farhan mengatakan, satu tahun mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung tentu waktu yang tidak panjang untuk menuntaskan seluruh persoalan kota yang kompleks, tetapi itu cukup untuk belajar, mendengar dan menentukan arah.
Baca juga: Farhan Pantau Dampak Perang Iran Vs AS-Israel, BBM di Bandung Dijamin Aman Hingga Lebaran
"Bandung adalah kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, sekaligus ekspektasi publik yang tidak pernah kecil. Dalam setahun terakhir, saya melihat bagaimana warga Bandung menyampaikan harapan, kritik, bahkan kekecewaan mereka," ujar Farhan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/3/2026).
Farhan mengatakan, kritik dan kekecewaan tersebut disampaikan baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Semua itu, kata dia terima sebagai bagian dari demokrasi kota yang hidup.
"Sejak awal, kami berkomitmen menjaga agar ruang bagi warga menyampaikan pendapat, termasuk kritik, tetap terbuka. Tugas pemerintah adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata," kata Farhan
Dari berbagai isu yang mewarnai perjalanan satu tahun ini, kata Farhan, pihaknya belajar bahwa memimpin Kota Bandung ini tidak cukup dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik.
Yang paling dirasakan warga, kata dia, justru hal-hal yang hadir setiap hari, seperti sampah yang terkelola, jalan yang tertata, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang kembali ramah, serta pelayanan publik yang responsif.
"Kritik yang disampaikan warga hampir selalu berangkat dari pengalaman nyata dalam keseharian mereka. Karena itu, saya memilih untuk tidak memandang kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa kehadiran pemerintah harus benar-benar terasa dalam kehidupan warga," ucapnya.
Menurutnya, pengalaman sehari-hari itulah yang juga membentuk cara warga memandang kebijakan kota, termasuk ketika Bandung kerap disebut sebagai kota event dan julukan ini tentunya tidak sepenuhnya keliru.
Dia mengatakan, event ini bisa menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya dan menarik wisatawan. Namun, pihaknya memahami kritik yang menyertai mulai dari kemacetan, sampah pasca-acara, dan pertanyaan tentang manfaat jangka panjang bagi warga.
"Karena itu, ke depan, setiap event di Kota Bandung harus memenuhi standar yang lebih jelas. Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak," ucapnya.
Menurutnya, dengan event tersebut, dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Dengan pendekatan ini, event tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kualitas hidup warga.
Baca juga: Farhan Soroti Masalah Infrastruktur hingga Fenomena Swarming di Cisaranten Kulon Bandung
Dalam satu tahun ini, kata dia, pihaknya mulai menata ulang pendekatan pengelolaan sampah, memperbaiki infrastruktur dasar dan merevitalisasi ruang publik agar kembali menjadi milik bersama.
"Saya tidak akan mengatakan bahwa semua persoalan telah selesai. Belum, namun arah kebijakannya jelas. Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri," katanya.
Farhan mengatakan, tahun pertama kepemimpinan ini juga menjadi pengingat bahwa membangun kota tidak pernah lepas dari ujian. Di tengah kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat diuji oleh berbagai dinamika yang menyentuh aspek etika dan integritas pemerintahan.
Dalam situasi seperti ini, kaya dia, pemerintah tidak boleh bersikap defensif dan tidak boleh gegabah. Prinsipnya, menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan.
"Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul," ujar Farhan.
Baca juga: Safari Ramadan ke Masjid Agung Bandung, Farhan Ingatkan Pentingnya Bersama Makmurkan Masjid