TRIBUNBANYUMAS.COM, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu guncangan diplomatik hebat di internal NATO setelah melontarkan ancaman keras kepada negara-negara sekutu Eropa.
Trump mengancam akan memutus semua hubungan dagang dengan Spanyol dan menyerang integritas Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, akibat penolakan mereka memberikan akses pangkalan militer untuk operasi serangan ke Iran.
Ketegangan ini memuncak saat Trump bertemu dengan Kanselir Jerman yang baru, Friedrich Merz.
Dalam pertemuan tersebut, Trump secara terbuka mengekspresikan kemarahannya terhadap negara-negara yang dianggap tidak kooperatif dalam mendukung langkah militer Washington di Timur Tengah.
"Sejumlah sekutu Eropa tidak cukup berkontribusi dalam belanja pertahanan dan tidak mendukung langkah militer kami. Mereka sangat tidak kooperatif," tegas Trump.
Serangan Verbal terhadap Spanyol dan Inggris Spanyol menjadi sasaran utama kemarahan Trump.
Baca juga: Beda Suara dengan Trump, Pentagon Tegaskan AS Tak Incar Perubahan Rezim di Iran: Pemicunya Israel!
Ia bersumpah akan memutuskan seluruh perjanjian perdagangan dengan Madrid sebagai bentuk balasan atas penolakan izin penggunaan pangkalan militer.
Tak hanya Spanyol, Trump juga melancarkan kritik tajam kepada PM Inggris Keir Starmer.
Hubungan keduanya yang sebelumnya hangat kini retak setelah Starmer melarang penggunaan pangkalan militer Inggris dalam gelombang pertama serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
“Inilah yang kita hadapi, ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” sindir Trump merujuk pada pemimpin legendaris Inggris era Perang Dunia II.
Respons Starmer: "Bukan Perubahan Rezim dari Langit"
Menanggapi tekanan Washington, PM Keir Starmer menunjukkan sikap tegas dalam pidatonya di Parlemen Inggris.
Ia menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Inggris tidak akan didikte oleh kepentingan sepihak negara lain yang berisiko memicu konflik lebih luas.
“Pemerintah ini tidak percaya pada perubahan rezim dari langit. Adalah tugas saya untuk menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris, dan saya berdiri teguh pada keputusan itu,” tegas Starmer.
Sikap Starmer ini bahkan dijuluki oleh publik Inggris sebagai momen "Love Actually", merujuk pada adegan film populer di mana pemimpin Inggris berani melawan tekanan Presiden Amerika Serikat.
Baca juga: Tepis Di-OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Seret Nama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi
Titik Terendah Hubungan Trans-Atlantik Analis dari Signum Global Advisors, Lew Lukens, menilai hubungan diplomatik AS-Inggris saat ini berada pada titik terendah dalam sejarah modern.
Ketegangan ini dianggap lebih serius dibandingkan krisis invasi Grenada pada era Reagan dan Margaret Thatcher.
"Saya pikir hubungan ini berada pada titik terendah. Namun, AS tetap membutuhkan kerja sama intelijen Inggris untuk operasi di Iran, sehingga kecil kemungkinan Trump benar-benar melakukan pembalasan ekstrem terhadap London," ujar Lukens.
Meskipun di dalam negeri Inggris respons terhadap sikap Starmer beragam, banyak pihak mulai memberikan rasa hormat atas keberaniannya mencegah Inggris terseret ke dalam potensi bencana militer di Timur Tengah. (inas/kompas.com)