Peningkatan Kualitas Ruang Publik menjadi Perhatian DPRD DKI Jakarta
Satrio Sarwo Trengginas March 05, 2026 12:07 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Kualitas ruang publik di Jakarta terus menjadi perhatian serius DPRD DKI Jakarta.

Sebagai kota metropolitan dengan mobilitas dan kepadatan yang tinggi, ruang publik bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, sarana rekreasi, hingga wadah ekspresi masyarakat. 

Karena itu, DPRD DKI mendorong agar setiap taman kota, trotoar, RPTRA, hingga jalur pedestrian dirancang dan dirawat dengan standar yang nyaman, aman, serta inklusif bagi semua kalangan.

Perhatian tersebut diwujudkan melalui fungsi pengawasan dan penganggaran, memastikan pembangunan maupun revitalisasi ruang publik benar-benar menjawab kebutuhan warga. 

Aspek kebersihan, pencahayaan, keamanan, akses bagi penyandang disabilitas, serta keberadaan fasilitas pendukung seperti bangku, area bermain anak, dan ruang terbuka hijau menjadi poin penting yang terus dikawal.

Selain itu, DPRD DKI juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan ruang publik secara positif. 

Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan warga, diharapkan ruang publik di Jakarta tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga hidup, produktif, serta mampu memperkuat rasa kebersamaan dan identitas kota.

Satu di antara kawasan yang menjadi perhatian DPRD DKI Jakarta yakni sepanjang Jalan HR. Rasuna Said, Jakarta Selatan.
 
Sebelumnya, pemandangan tak sedap berada di kawasan tersebut. Yakni, beton sisa proyek monorel yang mangkrak. Namun kini tinggal kenangan.

Pemprov DKI Jakarta memastikan pemotongan seluruh tiang itu. Penataan kawasan dan ruas jalan pun berjalan agar terasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino menyambut baik langkah Pemprov DKI menata kawasan terebut.

Ketiadaan tiang-tiang bekas proyek monorel menjadi titik awal transformasi koridor Kuningan menjadi kawasan yang lebih estetik dan fungsional.

Penataan ulang tidak sekadar memuluskan aspal bagi kendaraan bermotor. Mendorong konsep pembangunan yang lebih 'manusiawi' dengan rincian aspirasi.

Menurut Wibi, penataan itu juga terfokus pada kualitas ruang publik. Mulai dari trotoar yang lebih lebar dan ramah disabilitas.

Termasuk jalur sepeda yang aman. Lalu, penambahan ruang hijau dan peneduh, pencahayaan, hingga sistem drainase yang baik.

Sebagai salah satu pusat bisnis utama di Jakarta, kawasan Rasuna Said merupakan wajah ibukota di mata internasional. "Rasuna Said adalah etalase kawasan bisnis Jakarta," ucap Wibi.

Fungsi Trotoar

Pengembalian fungsi trotoar sepenuhnya bagi pejalan kaki sebagai langkah konkret menekan pencemaran udara di Jakarta. 

Optimalisasi trotoar juga menjadi kunci mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

"Kita ingin trotoar bisa digunakan oleh para pejalan kaki secara merdeka," tutur Wibi.

Memulai pengendalian pencemaran Udara, kata dia, harus dari akses dasar menuju moda transportasi publik.

Masyarakat tidak akan beralih ke transportasi umum jika akses berjalan kaki menuju halte, stasiun, atau kawasan transit belum aman dan nyaman.

"Untuk itu, akses jalannya harus tersedia dan merata," tambah Wibi.

Penataan kawasan harus mencerminkan kota global yang nyaman, tertib, dan berorientasi pada pejalan kaki serta transportasi publik.

Berita terkait

  • Baca juga: Mulai 2026, Gubernur Pramono Wajibkan Gapura hingga Ruang Publik Jakarta Dihiasi Ornamen Betawi
  • Baca juga: Sering Diusir dari Ruang Publik, Indosalto Pilih Gang Sempit Pluit Jadi Arena Latihan Akrobatik
  • Baca juga: Tak Lagi Kumuh, Warga Sukapura Jakut Kini Punya Ruang Publik Layak di Taman Interaksi Masyarakat

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.