Dedikasi Gus Salman Wakil Bupati Jombang: Siang Urus Rakyat, Malam Istiqomah Ngaji Kitab Kuning
Pipit Maulidya March 05, 2026 01:32 AM

 

SURYA.co.id - Menjadi pejabat publik tak lantas membuat KH Salmanudin Yazid melupakan pengabdiannya di pesantren.

Wakil Bupati Jombang yang akrab disapa Gus Salman ini menunjukkan semangat luar biasa antara kewajiban negara dan tradisi literasi Islam selama bulan suci Ramadan.

Bagi Gus Salman, Ramadan adalah momentum untuk menata ulang keseimbangan hidup.

Jika siangnya ia sibuk dengan kebijakan publik, maka malamnya ia kembali menjadi sosok kiai yang telaten membimbing santri.

Menjaga Tradisi 16 Tahun di Pondok Pesantren Babussalam

Warsubi-Gus Salman saat Memberikan Sambutan Usai Penetapan Paslon di KPU Jombang.
Warsubi-Gus Salman saat Memberikan Sambutan Usai Penetapan Paslon di KPU Jombang. (surya.co.id/anggit pujie widodo)

Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor dua di Kabupaten Jombang, Gus Salman tetap mengasuh santri di Pondok Pesantren Babussalam, Dusun Kalibening, Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung.

Tradisi mengajar kitab kuning ini telah ia rawat selama 16 tahun terakhir tanpa putus.

Setiap pagi, sejak pukul 07.00 WIB, Gus Salman sudah berada di kantor untuk menjalankan agenda pemerintahan seperti rapat, audiensi, hingga kunjungan kerja. Namun, saat senja tiba, perannya bergeser kembali ke khittah pesantren.

"Kalau malam tidak ada agenda dinas, jadi tetap dimanfaatkan untuk wiridan yang selama ini saya pegang," ucap Gus Salman kepada Tribunjatim.com pada Rabu (4/3/2026).

Baca juga: Satu Keluarga Asal Jombang Diculik Lalu Disekap di Bangkalan, Gara-gara Hutang Rp 25 Juta

Fokus pada Kitab Jawahirul Bukhari

Meski jadwalnya kini jauh lebih padat dibandingkan sebelum menjabat sebagai Wakil Bupati, Gus Salman tetap mengalokasikan waktu khusus untuk mengajar.

Dengan izin dari Bupati Jombang, Warsubi, ia memusatkan kegiatan mengajar pada malam hari.

Kitab utama yang dikaji setiap Ramadan adalah Jawahirul Bukhari, sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis sahih.

Pengajian ini digelar secara intensif sebanyak 17 kali pertemuan hingga khatam.

"Tiap Ramadan selalu baca Jawahirul Bukhari. Dulu pagi juga ada Al-Hikam dan Bulughul Maram. Setelah jadi pejabat, kita ambil malam saja," tuturnya.
Bagi Gus Salman, mengajar bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan identitas diri yang tidak bisa dipisahkan dari pengabdiannya kepada masyarakat Jombang.

"Keinginan pesantren tetap jalan, keinginan pribadi jalan. Khidmat di Kabupaten Jombang juga tetap jalan," tegasnya.

Pondok Pesantren Babussalam kini menampung sekitar 1.460 santri mukim dari berbagai penjuru Indonesia, dengan total peserta didik mencapai 2.700 orang.

Selama Ramadan, ritme belajar di pesantren ini meningkat dengan adanya sistem "kilatan" atau metode pembelajaran cepat.

Revalina Silviyanto (18), santri asal Surabaya yang telah lima tahun menimba ilmu di sana, menceritakan padatnya agenda santri selama bulan puasa.

"Kalau Ramadan ada sistem kilatan, kitab yang dipelajari lebih banyak," ujar Revalina.

Dalam 15 hari pertama Ramadan, para santri mempelajari sedikitnya empat kitab berbeda yang dimulai dari pagi hingga sore hari, dan ditutup dengan pengajian malam bersama Gus Salman.(Anggit Puji Widodo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.