Ambisi Ekspansi ASEAN 2026 Terhalang Proteksionisme dan Perjanjian Perdagangan
Glery Lazuardi March 05, 2026 01:38 AM
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Rifki Weno
Penulis adalah Direktur Eksekutif ASEAN Business Advisory Council. Lulusan S1 dan S2 dari Monash University di Australia

ASEAN Business Barometer 2026 menyingkap paradoks ekonomi kawasan.

Pelaku usaha penuh optimisme untuk ekspansi, namun bayang-bayang proteksionisme global, rendahnya pemanfaatan FTA, dan tantangan transisi hijau menuntut kebijakan regional yang lebih selaras.

Optimisme ini bisa menjadi kekuatan, tetapi tanpa langkah konkret dari para pemimpin ASEAN, ambisi ekspansi berisiko terjebak dalam rantai pasok yang rapuh dan regulasi yang berbelit.

Hal ini terungkap dari hasil survei ASEAN Business Barometer 2026 yang diterbitkan ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) dengan CSIS Indonesia dan JETRO Jakarta.

Mengambil perspektif dari 395 perusahaan sektor swasta diseluruh kawasan, survei ini mengungkapkan lanskap ekonomi yang kompleks, meskipun pelaku bisnis sangat optimis terhadap pertumbuhan regional, mereka secara bersamaan bersiap menghadapi gangguan rantai pasok yang parah akibat proteksionisme global dan masih berjuang untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang ada secara maksimal.

Survei ini yang dirancang untuk memberikan rekomendasi praktis dan berwawasan kedepan kepada para menteri ekonomi dan pemimpin ASEAN, menyoroti kebutuhan mendesak akan kebijakan regional yang selaras saat perusahaan-perusahaan menavigasi ekonomi global yang sedang dalam masa transisi.

Survei tahun ini mengirimkan pesan yang sangat jelas : sektor bisnis di ASEAN sangat ambisius dan siap untuk berekspansi, namun mereka menghadapi tantangan nyata dari proteksionisme global dan kerumitan transisi hijau.  

Tingkat pemanfaatan perjanjian perdagangan (FTA) yang masih dibawah potensi dan kurangnya kesiapan UMKM kita menyoroti urgensi bagi para pemimpin ASEAN untuk menyederhanakan regulasi, memfasilitasi akses dan memberikan dukungan yang lebih terarah agar kawasan ini tetap tangguh.

Temuan utama dari Barometer 2026 meliputi :

  1. Rencana ekspansi yang agresif : Sekitar 70 persen perusahaan yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka akan "memperluas" bisnis mereka dalam 1-2 tahun ke depan. Selain itu, hampir setengahnya (48%) memperkirakan adanya "peningkatan" laba operasi pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024.
  2. Ketakutan akan proteksionisme dan tarif : Sejumlah besar perusahaan (75%) merasa khawatir tentang meningkatnya proteksionisme. Paparan tarif AS sangat terkonsentrasi pada sektor manufaktur, mempengaruhi 64% produsen dibandingkan dengan 40ri total seluruh perusahaan. Hal ini telah menyebabkan gangguan rantai pasok, permintaan penurunan harga dan peningkatan ketidakpastian perencanaan bagi perusahaan yang terdampak.
  3. Peluang perdagangan bebas yang terlewatkan : Sekitar 70% perusahaan menyadari keberadaan FTA ASEAN dan RCEP. Namun, tingkat pemanfaatan FTA (termasuk RCEP) hanya mencapai 48%. Hal yang mengejutkan, 40ri mereka yang tidak memanfaatkannya beralasan bahwa mereka "tidak tahu harus mulai dari mana".
  4. Peralihan ke rantai pasok Intra-ASEAN : Kawasan ASEAN diidentifikasi sebagai wilayah paling umum untuk diversifikasi rantai pasok (93%), jauh melampaui Jepang (54%) dan Tiongkok (41%).
  5. Hambatan transisi hijau (green transition) : Meskipun 63 dari 100 perusahaan ASEAN sedang mengambil langkah-langkah dekarbonisasi, 90% menyebutkan bahwa akses ke pemasok yang mematuhi standar ESG adalah tantangan terbesar. Lebih lanjut, lebih dari separuh (53%) melihat langkah-langkah dekarbonisasi itu sendiri sebagai risiko rantai pasok. Kesadaran akan inisiatif keberlanjutan ASEAN juga sangat rendah, dengan hanya 28% responden yang mengetahui tentang ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance.
  6. Adopsi digital masih di tahap awal: Sebagian besar perusahaan masih berada pada tingkat adopsi parsial atau percontohan (pilot-level) di seluruh teknologi transformasi digital. Saat ini, hanya 22% yang menggunakan agen AI untuk dukungan keputusan (decision support), dan 21% menggunakan AI Generatif untuk manajemen.

Perusahaan-perusahaan berharap ASEAN DEFA yang akan datang dapat menurunkan hambatan masuk bagi UKM (59%) dan menyelaraskan berbagai regulasi yang beragam (54%).

Kesenjangan Antara Perusahaan Besar dan UMKM

Data tersebut juga mengungkap kesenjangan kapabilitas yang signifikan berdasarkan ukuran perusahaan. Meskipun 73,1% perusahaan besar merasa sangat siap menghadapi gangguan rantai pasok, hanya 53,7% UMKM yang melaporkan tingkat kesiapan yang sama.

Untuk diketahui Survei ASEAN Business Barometer 2026 dilakukan antara 15 Desember 2025

hingga 30 Januari 2026. Profil responden terdiri dari 62,8% UMKM dan 37,2% perusahaan besar (250+ karyawan). Berdasarkan sektor, 66,6roperasi di industri non-manufaktur, sementara 33,4rada di sektor manufaktur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.