
ASEAN Business Barometer 2026 menyingkap paradoks ekonomi kawasan.
Pelaku usaha penuh optimisme untuk ekspansi, namun bayang-bayang proteksionisme global, rendahnya pemanfaatan FTA, dan tantangan transisi hijau menuntut kebijakan regional yang lebih selaras.
Optimisme ini bisa menjadi kekuatan, tetapi tanpa langkah konkret dari para pemimpin ASEAN, ambisi ekspansi berisiko terjebak dalam rantai pasok yang rapuh dan regulasi yang berbelit.
Hal ini terungkap dari hasil survei ASEAN Business Barometer 2026 yang diterbitkan ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) dengan CSIS Indonesia dan JETRO Jakarta.
Mengambil perspektif dari 395 perusahaan sektor swasta diseluruh kawasan, survei ini mengungkapkan lanskap ekonomi yang kompleks, meskipun pelaku bisnis sangat optimis terhadap pertumbuhan regional, mereka secara bersamaan bersiap menghadapi gangguan rantai pasok yang parah akibat proteksionisme global dan masih berjuang untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang ada secara maksimal.
Survei ini yang dirancang untuk memberikan rekomendasi praktis dan berwawasan kedepan kepada para menteri ekonomi dan pemimpin ASEAN, menyoroti kebutuhan mendesak akan kebijakan regional yang selaras saat perusahaan-perusahaan menavigasi ekonomi global yang sedang dalam masa transisi.
Survei tahun ini mengirimkan pesan yang sangat jelas : sektor bisnis di ASEAN sangat ambisius dan siap untuk berekspansi, namun mereka menghadapi tantangan nyata dari proteksionisme global dan kerumitan transisi hijau.
Tingkat pemanfaatan perjanjian perdagangan (FTA) yang masih dibawah potensi dan kurangnya kesiapan UMKM kita menyoroti urgensi bagi para pemimpin ASEAN untuk menyederhanakan regulasi, memfasilitasi akses dan memberikan dukungan yang lebih terarah agar kawasan ini tetap tangguh.
Temuan utama dari Barometer 2026 meliputi :
Perusahaan-perusahaan berharap ASEAN DEFA yang akan datang dapat menurunkan hambatan masuk bagi UKM (59%) dan menyelaraskan berbagai regulasi yang beragam (54%).
Data tersebut juga mengungkap kesenjangan kapabilitas yang signifikan berdasarkan ukuran perusahaan. Meskipun 73,1% perusahaan besar merasa sangat siap menghadapi gangguan rantai pasok, hanya 53,7% UMKM yang melaporkan tingkat kesiapan yang sama.
Untuk diketahui Survei ASEAN Business Barometer 2026 dilakukan antara 15 Desember 2025
hingga 30 Januari 2026. Profil responden terdiri dari 62,8% UMKM dan 37,2% perusahaan besar (250+ karyawan). Berdasarkan sektor, 66,6roperasi di industri non-manufaktur, sementara 33,4rada di sektor manufaktur.