Presiden BEM UIN Alauddin Dorong Mitigasi Energi Nasional Hadapi Konflik AS-Israel vs Iran
Sukmawati Ibrahim March 05, 2026 05:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Presiden Mahasiswa BEM UIN Alauddin Makassar, Muh. Zulhamdi Suhafid, mendorong pemerintah segera melakukan mitigasi dan percepatan ketahanan energi nasional.

Langkah ini dinilai penting menyusul eskalasi konflik AS-Israel dan Iran yang berpotensi mengganggu produksi, distribusi, dan transaksi energi di Indonesia.

Menurut Zulhamdi, Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, harus mengambil langkah antisipatif agar tidak terdampak serius.

“Di tengah perang AS-Israel dan Iran, pemerintah harus segera mitigasi ketahanan energi nasional. Ketergantungan impor, apalagi dari negara atau kawasan yang sedang konflik, tentu akan memengaruhi stabilitas produksi dan transaksi energi kita,” kata Zulhamdi via rilis ke tribun-timur.com, Kamis (5/3/2026). 

Ia menekankan percepatan pembangunan infrastruktur ketahanan energi nasional melalui energi kerakyatan.

Perluasan sumur rakyat di berbagai daerah berpotensi sumber daya, penguatan kebijakan hemat energi, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan menjadi langkah strategis.

Zulhamdi menambahkan, ketahanan energi harus menyentuh skala mikro. Transisi energi harus hadir hingga desa-desa melalui pembinaan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Lebih jauh, ia mendorong Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Bahlil Lahadalia, mencari alternatif strategis untuk menjamin keamanan energi nasional.

Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta percepatan energi terbarukan menjadi langkah krusial di tengah ketidakpastian global.

“Ketergantungan impor energi dari negara yang berkonflik berisiko tinggi. Pemerintah perlu mencari alternatif agar ketahanan energi nasional tetap aman dan stabil,” tambahnya.

Zulhamdi juga menekankan transisi energi inklusif. Pemerintah tidak boleh hanya fokus pada proyek makro dan korporasi besar, tetapi harus melibatkan masyarakat desa, terutama pemuda.

“Transisi energi harus dilakukan hingga ke desa-desa. Jangan hanya fokus pada narasi besar di tingkat pusat, tetapi abaikan basis masyarakat. Pembinaan dan pemberdayaan pemuda penting agar generasi mendatang siap menghadapi krisis energi dan iklim,” ujarnya.

Sebagai penggagas Green Diplomacy Network, Zulhamdi menegaskan ketahanan energi adalah bagian penting dari diplomasi hijau Indonesia.

Negara yang memiliki ketahanan energi kuat akan lebih stabil secara ekonomi dan politik.

Zulhamdi merekomendasikan agar mitigasi dan percepatan ketahanan energi nasional memprioritaskan peran pemuda sebagai aktor strategis.

Generasi muda harus dipersiapkan sejak dini untuk menjadi inovator energi terbarukan, pengelola sumber daya berkelanjutan, dan penjaga kedaulatan energi bangsa.

“Ketahanan energi bukan hanya soal hari ini, tetapi masa depan Indonesia. Jika ingin berdaulat dan tangguh di tengah dinamika global, investasi terbesar harus diberikan kepada generasi muda,” pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.