Pasar Kripto Ikut Bergejolak Akibat Perang Israel-AS Vs Iran, Investor Perlu Lakukan Hal Ini
Seno Tri Sulistiyono March 05, 2026 07:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memanasnya kawasan Timur Tengah seiring serangan Israel-AS ke Iran, turut memberikan tekanan negatif ke pasar kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat terkoreksi ke US$ 63.100 akhir pekan, lalu melonjak ke US$ 70.000 di awal pekan, dan kini bergerak di kisaran US$ 68.000, dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$ 2,33 triliun.

Menyikapi hal itu, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai volatilitas yang tinggi ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro.

Baca juga: Situasi Terkini Dubai Saat Israel-AS dan Iran Jual-beli Serangan, Tresnany Moonlight: Semua Normal

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya dikutip Kamis (5/3/2026).

Pada fase awal gejolak, investor umumnya bersikap risk-off atau menjual aset berisko untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian investor mempertimbangkan aset yang lebih defensif. 

Oleh sebab itu, Antony meminta investor menghindari keputusan berbasis FOMO, serta menerapkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko secara disiplin merupakan langkah paling rasional.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

"Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global," sambungnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, Indodax terus mengedukasi member untuk tetap rasional di tengah kondisi volatilitas pasar. 

Dia pun menghimbau investor untuk selalu melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) dan menjaga manajemen risiko yang ketat. 

"Di saat pasar penuh tekanan makro seperti sekarang, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi opsi paling bijak untuk memitigasi volatilitas," tutur Antony. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.