Pasar Modal Digempur Sentimen Negatif, Kemarin IHSG Ambles 4 Persen, Ada Ramalan Menuju Level 7.000
Seno Tri Sulistiyono March 05, 2026 07:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar modal Indonesia digempur berbagai sentimen negatif, sejak akhir Januari 2026 hingga kemarin.

Sentimen negatif tersebut yaitu mulai pengumuman pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menahan rebalancing saham-saham Indonesia, di susul perang Israel-Amerika Serikat Vs Iran.

Kemudian, pengumuman Moody's dan Fitch Ratings yang merevisi outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.

Baca juga: IHSG Siang Ini Terus Melemah, Drop 4,5 Persen Setelah Penutupan Perdagangan Sesi I

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 362,70 poin atau 4,57% ke level 7.577,06 pada penutupan perdagangan, Rabu (4/3/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan rating dari Fitch membuat outlook pasar saham Indonesia menjadi trend melemah dalam jangka pendek-menengah. 

“Revisi outlook ini menunjukkan kekhawatiran risiko fiskal dan utang, sehingga aliran dana asing bisa meningkat,” ujarnya dikutip dari Kontan, Kamis (5/3/2026).

Penurunan IHSG diperkirakan masih akan tertekan sampai tercapainya ekuilibrium baru, terutama dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

IHSG di kuartal I 2026 diproyeksi di kisaran 7.500 - 7.000. 

Sementara, IHSG bakal ada di kisaran 7.500 - 8.000 di akhir semester I.

Menurut Wafi, sektor yang terdampak negatif adalah sektor perbankan sebagai proksi utama indeks yang dilepas asing, serta sektor properti dan konstruksi akibat potensi kenaikan cost of funds (CoF). 

Sementara, sektor yang resilien adalah sektor energi (migas atau batu bara) dan logam mulia (emas). 

“Sektor tersebut diuntungkan penguatan dolar AS dan berfungsi sebagai hedging terhadap inflasi serta risiko geopolitik,” tuturnya.

Investor disarankan untuk tetap defensif, dengan mengalokasikan portofolio pada aset safe haven (emas) atau emiten komoditas dengan kas dolar AS kuat.

Ia merekomendasikan beli untuk ANTM, MEDC, dan ICBP dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham, Rp 2.450 per saham, dan Rp 10.800 per saham.

Sedangkan, Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan menyampaikan, sentimen Fitch lebih signifikan terhadap pasar obligasi atau SBN. 

Hanya saja masih terdapat efeknya terhadap kepada pasar saham atau IHSG. 

Penurunan outlook oleh Fitch Ratings ini berpotensi menekan kinerja IHSG utamanya melalui kanal sentimen pasar. 

Penurunan outlook dapat menurunkan persepsi risiko investor dan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, yang pada akhirnya menahan ataupun menarik aliran dananya. 

Perlu diketahui juga saat ini eskalasi militer antara Iran dan AS-Israel masih tengah berlangsung, dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sendiri memperkirakan akan berlangsung hingga lima pekan. 

Hal tersebut akan menciptakan volatilitas terhadap harga minyak global. Indonesia sebagai net importir minyak mentah tentunya memiliki posisi yang kurang menguntungkan, yang mana berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi dan turut mempengaruhi BI untuk tetap mempertahankan suku bunganya. 

“Alhasil, sentimen makro yang akomodatif cukup terbatas untuk saat ini,” tuturnya.

Zaidan memperkirakan, skenario terburuk IHSG untuk dapat bergerak menuju level 7.390 dalam kurun waktu terdekat ini.

“Dengan kondisi geopolitik yang kurang mendukung dan potensi aksi penilaian oleh S&P Global yang diperkirakan memiliki keputusan yang serupa, pasar cenderung memantau aset safe haven sebagai alternatif, termasuk emas dan obligasi pemerintah,” paparnya.

Kata BEI

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyampaikan, pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, ASX. 

“(Bursa) Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8%,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Menurutnya, pelemahan IHSG merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas. 

Kemudian, Iran juga menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi.

“Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” paparnya.

Hari sebelumnya, Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik sempat mengimbau investor untuk tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental dalam menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global.

“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.