PROHABA.CO, TAKENGON – Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si, mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Aceh Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Imbauan tersebut disampaikan Bupati Haili Yoga, Kamis (5/6/2026) setelah muncul kepanikan masyarakat akibat isu kelangkaan BBM yang beredar di tengah situasi global dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan informasi dari SBM Aceh II Fuel PT Pertamina Patra Niaga, Ferdi Kurniawan, saat ini kapal pengangkut BBM telah sandar untuk memenuhi kebutuhan distribusi di wilayah Aceh menjelang Lebaran.
Untuk wilayah distribusi Depot Lhokseumawe yang juga melayani Kabupaten Aceh Tengah, stok BBM dipastikan dalam kondisi aman dengan rincian yaitu Pertamax: 1.340.000 liter, Pertalite: 4.360.000 liter dan Solar: 2.300.000 liter.
Dengan jumlah tersebut, ketersediaan BBM dinilai masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain itu, distribusi BBM ke wilayah Aceh Tengah akan dilakukan setiap hari guna memastikan pasokan di seluruh SPBU tetap lancar.
Bupati Haili Yoga juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar ketersediaan dan distribusi BBM tetap terjaga,” ujarnya.
Baca juga: 3.428 KK Terdampak Bencana di Aceh Tengah Terima Bantuan Isi Hunian Tahap I Senilai Rp27,4 Miliar
Baca juga: 34 Hunian Sementara Tahap II Mulai Dibangun di Kampung Kala Segi Aceh Tengah
Antrean panjang tersebut diduga dipicu aksi panic buying setelah beredar informasi mengenai potensi kelangkaan BBM yang dikaitkan dengan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Isu tersebut semakin menguat setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa ketersediaan cadangan BBM nasional diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 hari ke depan dalam pernyataannya pada Senin (2/3/2026) lalu.
Kondisi ini membuat sebagian warga memilih mengantre lebih lama demi memastikan kendaraan mereka tetap memiliki bahan bakar.
“Kami terpaksa tidak ikut tarawih malam ini karena harus antre BBM. Dari sore sudah di sini, takut nanti kehabisan kalau benar-benar langka seperti waktu bencana,” ujar Rahmawati, seorang ibu rumah tangga yang mengantre di SPBU Nunang Antara, Rabu (4/3/2026).
Hal serupa disampaikan Dedi Safrizal, warga Pante Raya, Bener Meriah.
“Sejak pagi antrean di SPBU Pante Raya sudah padat. Kami ikut antre karena takut tidak kebagian BBM malam ini,” katanya.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul karena masyarakat masih trauma dengan kelangkaan BBM yang pernah terjadi saat bencana sebelumnya, yang sempat membuat harga bahan bakar ikut melonjak.(*)