2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz yang Ditutup Iran, Cadangan BBM Indonesia Sisa 20 Hari
M Zulkodri March 05, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM -- Iran menutup Selat Hormuz sejak naiknya eskalasi konflik geopolitik dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) terjebak di jalur paling berbahaya di dunia tersebut.

Terkait kondisi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Baca juga: Sosok Aditya Pendiri Animasi Nussa Rara Diduga Selingkuh dengan 5 Wanita, Usir Istri dari Perusahaan

Bahlil menyampaikan hal ini ini jelang menghadiri rapat bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Senin (2/3/2026), terkait situasi yang memanas di Timur Tengah.

"Masih cukup, 20 hari," kata Bahlil, di Istana, Jakarta.

Meski begitu, ia memastikan tidak ada masalah terkait subsidi BBM dalam negeri terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Namun, ia menyebut ada kemungkinan terjadi koreksi terhadap harga minyak dunia imbas konflik Timur Tengah tersebut.

"Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah," tutur dia.

Baca juga: Sosok Sabrina Farhana Istri Aditya Triantoro, Terseret Isu Perselingkuhan Suami, Eks News Anchor

Dalam rangka mengantisipasi ini, Kementerian ESDM juga akan melakukan diskusi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) RI.

"Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisis dan kajian dari DEN," tutur dia.

Bahlil Alihkan Impor ke AS

Bahlil menyatakan pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk atas pasokan minyak mentah atau crude oil untuk mengantisipasi berlanjutnya konflik antara AS-Israel dengan Iran.

Salah satu solusi yang diambil adalah mengalihkan impor crude ke AS dari Timur Tengah.

Menurut dia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran berisiko mengganggu distribusi minyak ke pasar dunia dan situasi itu disebut tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.

Bahlil menyebut, apabila krisis terhadap pasokan minyak berlangsung lama, maka pemerintah menyiapkan strategi pengalihan sumber impor minyak mentah demi memastikan pasokan dalam negeri tetap tersedia tanpa gangguan distribusi.

Menurut dia, sebanyak 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah. 

"Dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen."

"Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil," tuturnya.

Akan tetapi, kerentanan terhadap proses distribusi dari Timur Tengah tersebut dinilai masih bisa dikelola melalui menambah opsi pemasok.

Karena itu, Bahlil menyatakan, pemerintah memutuskan mengambil kemungkinan untuk mengambil crude dari AS.

"Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," ucap dia.

Meski begitu, Bahlil memastikan, selain AS, pemerintah juga membuka peluang memperluas kerja sama dengan negara lain yang lebih stabil secara geopolitik. 

(Bangkapos.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.