Bukan Hanya Energi, Penutupan Selat Hormuz Bakal Picu Harga Pupuk Naik
Ari Maryadi March 05, 2026 01:22 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Iran sudah mengumumkan penutupan Selat Hormuz.

Keputusan ini menandai naiknya eskalasi konflik geopolitik antara Iran vs Israel - Amerika Serikat (AS).

Selama ini, Selat Hormuz selalu dikenal jadi jalur vital distribusi miyak mentah dan gas (Migas).

Migas dari Timur Tengah dibawa melalui Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz pun diyakini memicu kenaikan Harga Migas bahkan bisa menyebabkan kelangkaan.

Ternyata bukan hanya bidang energi yang akan terdampak, terungkap bidang pangan juga bakal terdampak penutupan Selat Hormuz.

Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Bachtiar Nappu mengungkapkan Selat Hormuz juga merupaka jalur utama distribusi pupuk.

"Itu juga jalur utama perdagangan pupuk global utamanya Urea, 45 persen ekspor urea itu dari Kawasan teluk," kata Prof Bachtiar Nappu saat dihubungi Kamis (5/3/2026).

Selat Hormuz berada antara Teluk Persia di utara dan Teluk Oman di selatan.

Selat Hormuz pun menjadi jalur utama perdagangan pupuk dunia dari negara-negara di Timur Tengah.

Asalnya dari Kuwait, Yordania, Bahrain maupun Arab Saudi.

Perdagangan pupuk semakin terancam apabila eskalasi konflik meluas ke negara-negara tersebut.

Tantangannya bukan lagi pada jalur distribusi yang ditutup, namun negara produsennya justru terlibat konflik.

Akibatnya tentu harga pupuk urea dari negara lainnya akan terpacu meningkat drastis.

Hukum pasar pun akan bermain. Ketika permintaan tinggi, namun suplai menurun. Harga akan melonjak.

"Ini menyebabkan harga urea naik, konsekuensi logisnya Harga urea Brazil naik 100 persen, India naik 80 persen. Improtir itu terdampak, bisa jadi Indonesia juga," lanjutnya.

Lebih jauh, naiknya harga pupuk di pasar global mendorong naiknya biaya produksi pangan dalam negeri.

Modal petani akan semakin tinggi untuk menanam padi.

Dampaknya harga beras di tingkat konsumen juga ikut terdorong naik.

"Pupuk naik maka tentu biaya tanam petani naik, Harga modalnya naik, Harga pangan naik, kalau Harga pangan naik, masyarakat kesulitan," kata Prof Bachtiar Nappu.

Pemerintah pun kembali dihadapkan dengan opsi stimulus subsidi guna menjaga onjakan arga angan.

Namun Kata Prof Bactiar Nappu, hal itu tidak mudah juga dilakukan pemerintah.

Pasalnya di sektor eneri pemerintah juga harus mengalokasikan anggaran subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM)

Kenaikan Harga minyak mentah dunia otomatis berdampak pada harga BBM dalam negeri.

Sementara pemerintah masih memberikan  subsidi pada BBM jenis Pertalite.

Artinya pemerintah berpotensi menghadapi tekanan ganda.

Pemerintah harus menambah subsidi menjaga harga pangan stabil.

Di sisi lain, tetap mempertahankan subsidi BBM agar tidak membebani masyarakat

"Untuk meredam itu pasti subsidi pemerintah meningkat. Ini kerja keras pemerintah mana mau di subsidi," kata Prof Bachtiar Nappu

Saat ini perekonomian dalam negeri diklaim masih cukup aman. meskipun pasara ekspor sudah terdampak konflik.

"Jadikan kita kita berharap sih segera selesai ya, pasti nanti kita lihat pasar-pasar ekspor kita terutama ya, yang terdampak perang, tentu akan sedikit berpengaruh ya tapi akan tetap terus monitor," kata Budi Santoso didepan Baji Pamai Minimarket, Jl Ranggong, Kota Makassar, Sulsel pada Rabu (4/3/2026).

Menurutnya, pemerintah menyiapkan strategi mitigasi apabila gejolak global mulai berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor nasional.

Sejumlah pelaku usaha pun mulai mencermati potensi kenaikan biaya distribusi akibat ketidakpastian situasi global.

Meski demikian, pemerintah optimistis pasar ekspor Indonesia masih memiliki daya tahan.

Apalagi ditopang diversifikasi negara tujuan ekspor.

Di sisi lain, Mendag Budi Santoso ekonomi Indonesia masih ditopang dengan belanja domestik.

"Kalau pertumbuhan ekonomi kita itu lebih banyak ditopang dengan belanja domestik, Jadi kita harus tingkatkan daya beli masyarakat, kita tingkatkan ekosistem ekonomi kita di dalam negeri. Jadi semua berjalan seperti biasa," kata Budi Santoso.

Pemerintah pun disebutnya terus menyiapkan skema menjaga stabilitas perekonomian dalam negeri

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.