Jakarta (ANTARA) - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui anak usahanya PT Semen Tonasa menyisihkan 11,3 persen atau 31,64 hektare dari total 280 hektare lahan tambang sebagai kawasan konservasi untuk melindungi situs prasejarah Leang Bulu Sipong 4 di Pangkep, Sulawesi Selatan.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan kawasan konservasi tersebut juga dikembangkan menjadi Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong yang melindungi situs arkeologi sekaligus habitat flora dan fauna endemik, sebagai komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan dan budaya.

"Bulu Sipong diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas," kata Vita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Dia menyampaikan Leang (Gua) Bulu Sipong 4 di Bukit Bulu Sipong di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), menjadi saksi peradaban, di mana terdapat seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar adegan perburuan binatang oleh manusia pada era prasejarah.

"Keberadaan Bulu Sipong 4 tersebut menjadi bukti komitmen SIG dalam melindungi kelestarian warisan budaya dunia dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan," ujar Vita.

Cagar budaya Bulu Sipong 4 berada di lahan tambang tanah liat PT Semen Tonasa, tepatnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene.

Dikutip dari buku Cultural Heritage Management Plan oleh PT Semen Tonasa, Bulu Sipong 4 merupakan salah satu gua prasejarah di Bukit Bulu Sipong yang pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016.

Penemuan itu lalu dilanjutkan dengan penelitian berupa pengambilan sampel pertanggalan pada gambar cadas dan kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Kementerian Kebudayaan dalam rangka perlindungan gua prasejarah tersebut.

"Atas rekomendasi SIG sebagai induk perusahaan, PT Semen Tonasa bergerak cepat menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau 11,3 persen dari total lahan tambang seluas 280 hektare sebagai kawasan konservasi," jelas Vita.

Lebih kanjut Vita menuturkan PT Semen Tonasa telah meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong guna melindungi keanekaragaman hayati di sekitar area tambang serta kawasan Geopark dan Purbakala. Peresmian itu telah dilakukan 18 Mei 2018.

Bulu Sipong 4 sebagai salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep kemudian resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis pada 2023.

Vita mengatakan, penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan konservasi menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya.

Perusahaan itu juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam merilis Cultural Heritage Management Plan atas situs prasejarah Bulu Sipong 4.

Dokumen tersebut berfungsi sebagai panduan pengelolaan warisan budaya yang dimiliki oleh perusahaan, termasuk Bulu Sipong yang merupakan situs cagar budaya, sehingga dapat dikelola dengan baik secara berkelanjutan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada.

Selain itu, dalam pengelolaan Bulu Sipong, PT Semen Tonasa bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX, antara lain untuk pemantauan getaran dan udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter dan penyiraman jalan tambang secara berkala untuk mengurangi debu.

Perusahaan juga mengedukasi karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu dan pembatasan akses dengan pemasangan pagar sepanjang 1.900 meter, serta revegetasi di kawasan konservasi.

Selain seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi beragam jenis flora dan fauna dengan Indeks Kehati yang terus meningkat.

Hingga 2025, terdapat 25 jenis flora dengan total jumlah tanaman sebanyak 2.898 pohon, di antaranya eboni (diospyros celebica), kayu kuku (pericopsis mooniana), dan bitti (vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik lokal.

Selain flora, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, 2 jenis primata, serta 1 unggas dan 1 reptil.

Adapun total jumlah satwa yang berhasil terpantau hingga 2025 sebanyak 869 ekor, termasuk monyet dare (macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik lokal yang dilindungi.

Vita menambahkan, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menjadi pelindung bagi keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Pada 2025, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong mencatatkan nilai Indeks Kehati Flora sebesar 1,54, atau naik dari periode 2020 sebesar 1,38. Indeks Kehati Fauna juga tercatat naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51 pada 2020.

Atas inisiatif strategis, SIG dan PT Semen Tonasa telah mendapat apresiasi dan kehormatan pada forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 dan Indonesia Geopark Leader Forum 2025 dalam memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong serta program perlindungan Kehati.