Minyak Dunia Melonjak, Ekonom Ingatkan APBN Jebol Jika Impor saat Harga 100 Dollar Per Barel
Fitriadi March 05, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia melonjak akibat konflik yang berlangsung antara Iran-Israel dan Amerika Serikat.

Harga minyak mentah berjangka Brent saat ini sudah berada di level 83,62 dollar AS per barrel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang mematok harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dollar AS per barrel.

Cadangan BBM di Indonesia disebut hanya cukup untuk 20 hari pascapenutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi BBM dunia.

Penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan akan berdampak pada ketersediaan BBM di Indonesia.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengingatkan jangan sampai impor dilakukan saat harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel.

Baca juga: Bahlil Soal Harga BBM Jelang Lebaran, Pertamina Sudah Naikkan Harga Pertamax dan Dex Series

Karena hal itu, akan membuat jebol APBN karena defisitnya akan melampaui 3 persen.

“Sekarang kan baru sekitar 78 dolar AS per barel,” kata Tauhid, Kamis (5/3/2026).

Di sisi lain, Tauhid juga mengingatkan, bahwa kuota cadangan BBM Indonesia di tengah konflik, sebaiknya memang ditambah. Kalau bisa, sekitar 1–2 bulan.

Baca juga: Perang Iran vs AS-Israel, Warga Bangka Panik Serbu SPBU Beli BBM, Antrian Mengular Sepanjang 1 KM

Hal itu, untuk mengantisipasi terkendalanya jalur-jalur distribusi dunia akibat konflik tersebut, termasuk penutupan Selat Hormuz saat ini. Maka, dunia juga akan mengalami kelangkaan kapal-kapal tanker.

“Sebenarnya kalau menurut saya semakin banyak cadangan, semakin baik buat kita. Cadangan itu kan ada dari sisi ketersediaan, distribusi, juga kemampuan keuangan negara,” kata Tauhid.

Selain itu, Pertamina juga harus menyiapkan rencana cadangan jika situasi terus memburuk sehingga kebutuhan BBM masyarakat tidak terganggu.

Dengan sejumlah rencana tersebut, Tauhid menilai, masyarakat tidak perlu khawatir cadangan BBM Indonesia akan habis dalam waktu sekitar 20 hari. Karena setidaknya sudah ada rencana pengalihan impor ke kawasan yang lebih aman.

Tak Perlu Khawatir

Di sisi lain, Tauhid meminta masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan cadangan BBM nasional yang saat ini berada di kisaran 20 hari.

Angka tersebut masih dalam batas aman karena pasokan BBM terus dijaga melalui berbagai langkah yang dilakukan oleh BUMN energi.

Tauhid membenarkan mengenai pengertian cadangan sekitar 20 hari. Yaitu, bahwa stok tersebut akan habis jika selama kurun waktu tersebut tidak dilakukan upaya apapun.

Namun, sambungnya, harus diingat bahwa seperti (situasi) reguler dilakukan, kata dia, saat ini pun Pertamina tentu melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan guna menjaga level cadangan.  

Level cadangan BBM tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam laporan bulan Desember 2025, misalnya, Menteri ESDM menyebut sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan. Contohnya, sekitar 19–31 hari untuk berbagai produk BBM tertentu.

Sedangkan Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak, menyebut, bahwa Pemegang Izin Usaha wajib menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari.

Tauhid melanjutkan, pencadangan adalah seberapa jauh Pemerintah dan Pertamina memiliki dana untuk menyetok. Bukan hanya bahan-bahan, tetapi juga gudangnya, jalur distribusi, pengapalan dan sebagainya.

“Itu artinya, rata-rata kemampuan keuangan kita mencadangkan segitu. Bukan berarti harinya semakin turun, berarti kan dia akan relatif volatilitasnya di angka itu. Kenapa nggak bulanan? Karena kemampuan keuangan kita terbatas. Selain itu, kita adalah negara importir,” jelasnya.

Karena itu Tauhid mendukung berbagai perencanaan pasokan oleh Pertamina. Mulai dari produksi kilang hingga impor energi. Berbagai perencanaan tadi, menurutnya, penting agar cadangan tetap terjaga.

Bahlil: Bukan Kondisi Darurat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa cadangan BBM Indonesia yang berada di kisaran 20 hari bukanlah kondisi darurat.

Pernyataan itu disampaikan menyusul penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia.

Menurut Bahlil, cadangan sekitar 20 hingga 21 hari memang merupakan standar minimum nasional yang selama ini diterapkan.

Ia menjelaskan, keterbatasan kapasitas penyimpanan menjadi salah satu alasan mengapa cadangan BBM Indonesia tidak disimpan lebih lama.

Saat ini, kemampuan maksimal storage atau fasilitas penyimpanan BBM di dalam negeri hanya mampu menampung hingga sekitar 25 hari.

Karena itu, meskipun pemerintah ingin menyimpan cadangan lebih banyak, kapasitas penyimpanan yang ada belum mencukupi.

Pemerintah pun berencana meningkatkan ketahanan energi nasional dengan menambah fasilitas penyimpanan BBM.

Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan pembangunan storage baru agar cadangan energi Indonesia ke depan bisa mencapai hingga tiga bulan.

Di tengah konflik di Timur Tengah, Bahlil memastikan pasokan BBM nasional masih dalam kondisi aman dan belum berdampak pada subsidi energi.

Namun ia mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz perlu diantisipasi karena Indonesia masih bergantung pada impor BBM, sehingga gejolak geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan jalur distribusi energi.

Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Pemerintah memastikan tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam waktu dekat, meski situasi geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah dunia bergejolak.

BBM subsidi yang dimaksud yakni Pertalite dan Biosolar (solar subsidi). Saat ini harga Pertalite ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar sebesar Rp 6.800 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah harga BBM subsidi setidaknya hingga perayaan Idul Fitri.

"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran," ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Namun, untuk BBM non-subsidi, seperti Pertamax dan sejenisnya, Bahlil menjelaskan bahwa penyesuaian harga tetap mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022.

Terkait ketersediaan energi, Bahlil menjamin stok BBM hingga elpiji dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri.

"Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insyaallah semua aman, termasuk dengan elpiji. Jadi enggak perlu ada keraguan sekalipun memang terjadi dinamika global di Iran dan Israel," tegasnya.

Menurut Bahlil, pemerintah akan terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga secara intensif hingga masa libur Lebaran usai, guna memastikan aktivitas ekonomi nasional dan mobilitas masyarakat berjalan lancar tanpa terkendala.

Adapun gejolak global terjadi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

Situasi tersebut memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia.

(Tribunnews.com/Malvyandie Haryadi) (Kompas.com/Yohana Artha Uly, Sakina Rakhma Diah Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.