Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kompleks TPU Puncak Sekuning di Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, dikenal sebagai salah satu kawasan pemakaman tertua sekaligus wilayah yang menyimpan jejak sejarah perkembangan kota dari masa kolonial hingga era modern.
Nama Puncak Sekuning berasal dari dua kata, yaitu “puncak” dan “sekuning”.
Sebutan puncak merujuk pada kondisi geografis wilayah tersebut yang berada di daratan relatif lebih tinggi dibanding kawasan sekitarnya, meski oleh masyarakat setempat tidak dianggap sebagai dataran yang terlalu tinggi.
Sementara itu, kata “sekuning” diyakini berasal dari kondisi masa lampau ketika kawasan tersebut dipenuhi bunga-bunga berwarna kuning yang tumbuh di sekitar wilayah itu.
Berdasarkan peta lama abad ke-19, nama Puncak Sekuning belum tercatat secara resmi.
Pada peta tahun 1897, wilayah tersebut masih digambarkan sebagai kawasan hutan belukar.
Namun pada peta tersebut sudah muncul penamaan seperti Talang Bukit dan Talang Kebon, yang menunjukkan kawasan tersebut mulai dikenal sebagai wilayah perkebunan dan permukiman awal.
Tanah di kawasan ini dikenal cukup subur. Masyarakat yang pertama kali menetap di wilayah Puncak Sekuning disebut merupakan keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai pekebun.
Kelompok ini dikenal oleh masyarakat Palembang dengan sebutan “Cina Talang”.
Jejak sejarah tersebut menjelaskan mengapa hingga kini kawasan di sekitar Puncak Sekuning masih dihuni oleh sejumlah warga keturunan Tionghoa.
Keberadaan TPU Puncak Sekuning berkaitan erat dengan sejarah pemakaman di Palembang pada masa lalu.
Dahulu, kawasan pemakaman di kota ini membentang cukup luas, mulai dari sekitar Masjid Agung Palembang hingga kawasan Cinde Market, yang pada masa lalu dikenal sebagai wilayah Candi Welang.
Pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda melakukan penataan kota dengan membuka sejumlah lokasi pemakaman baru.
Hampir seluruh pemakaman lama di kawasan pusat kota dipindahkan ke beberapa tempat, termasuk ke kawasan Puncak Sekuning.
Pada masa awal pembangunannya, area pemakaman ini dibuat secara sederhana dan dipagari dengan kawat pembatas.
Karena itu masyarakat Palembang saat itu menyebutnya sebagai “pemakaman kandang kawat.”
Namun karena penyebutan tersebut dianggap terlalu panjang dan kurang praktis dalam percakapan sehari-hari, warga kemudian lebih sering menyebutnya dengan nama kawasan tempatnya berada, yaitu Puncak Sekuning.
Pegiat sejarah Palembang Mang Dayat menjelaskan bahwa di kawasan ini masih dapat ditemukan perbedaan antara makam lama dan makam yang lebih baru.
Menurutnya, makam-makam tua memiliki ciri khas berupa penggunaan huruf Melayu atau huruf Arab gundul pada batu nisan.
Selain itu terdapat ornamen bergaya Kesultanan Palembang, yang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya lokal dalam tradisi pemakaman masyarakat Palembang pada masa lampau.
Memasuki tahun 1930, kawasan Puncak Sekuning mulai berkembang sebagai wilayah terbuka. Pemerintah kolonial Belanda membangun kompleks perumahan di sekitar Jalan Barito.
Namun pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945, kawasan perumahan tersebut difungsikan sebagai kamp interniran bagi warga Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah kemudian mengembangkan kawasan Bukit Besar sebagai pusat pendidikan.
Sejak periode 1958–1959 hingga sekarang, wilayah Puncak Sekuning terus berkembang menjadi kawasan strategis yang berada tidak jauh dari pusat Kota Palembang.
Sebagai fasilitas pelayanan publik yang dikelola pemerintah daerah, TPU Puncak Sekuning bukan sekadar tempat pemakaman.
Kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang Kota Palembang, mulai dari masa hutan belukar, era perkebunan masyarakat Tionghoa, pemindahan makam pada masa kolonial, hingga perkembangan kota modern.
Keberadaannya hari ini tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan memori kolektif masyarakat Palembang.