SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Di sebuah sudut Desa Tanjung Sari I, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, sebuah rumah kayu berdiri sunyi. Di dalamnya, waktu seolah berhenti bagi Aisyah (13), bukan nama sebenarnya.
Selama tiga tahun terakhir, buku-buku pelajarannya hanya tersimpan rapi dalam ingatan yang pahit, sementara teman-teman sebayanya telah jauh melangkah ke jenjang sekolah menengah.
Aisyah adalah potret dari luka yang tak terlihat. Sejak kedua orang tuanya berpulang, dunianya perlahan menyempit.
Ia tinggal bersama neneknya, Saimah (69), dalam keterbatasan. Namun, bukan kemiskinan yang merenggut mimpinya dari bangku kelas V Sekolah Dasar, melainkan kata-kata tajam dan ejekan yang ia terima di sekolah.
Perundungan (bullying) telah mengubah ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat bermain dan belajar, menjadi medan trauma yang menakutkan.
Rasa minder dan kesedihan karena menjadi yatim piatu dieksploitasi oleh rekan sebayanya hingga Aisyah memilih menyerah pada keadaan.
Ia mengunci diri, mengubur cita-citanya dalam-dalam di balik dinding kayu rumahnya yang sudah mulai dimakan usia.
"Saya sebenarnya ingin sekolah lagi," bisik Aisyah lirih saat dikunjungi Ketua TP PKK OKI, Hj. Ike Meilina Muchendi, Kamis (5/3/2026).
Kalimat pendek itu menjadi titik balik setelah seribu hari ia terbelenggu rasa takut.
Kehadiran Pemerintah Kabupaten OKI bak oase di tengah gurun bagi Aisyah dan Saimah. Oase adalah daerah subur yang menghijau di tengah kawasan gersang.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, yang turun langsung menjenguk kediaman Aisyah dan neneknya, menegaskan bahwa tidak boleh ada anak yang mimpinya mati karena tekanan sosial.
"Pendidikan adalah hak dasar, apa pun kondisinya. Kita pastikan negara hadir," tegas Muchendi.
Komitmen itu bukan sekadar janji. Aisyah kini dipastikan kembali mengenyam pendidikan melalui jalur kesetaraan Paket A.
Seluruh kebutuhannya, mulai dari seragam hingga perlengkapan sekolah, dijamin secara cuma-cuma oleh pemerintah daerah.
Bahkan, perhatian pemerintah menyentuh hingga ke atap tempatnya berteduh.
Rumah kayu yang telah melapuk dimakan usia kini dipugar melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Langkah ini diambil agar Aisyah tidak hanya memiliki buku baru, tetapi juga tempat bernaung yang aman dan nyaman.
Namun, memulihkan trauma tak semudah membalik telapak tangan. Hj. Ike Meilina Muchendi memahami bahwa seragam baru hanyalah awal.
Tantangan sesungguhnya adalah membangun kembali rasa percaya diri Aisyah yang telah hancur.
"Anak-anak di usia ini butuh didengar. Kami akan siapkan pendampingan psikologis agar saat dia masuk ke lingkungan baru, ia tak hanya siap secara otak, tapi juga kuat secara mental," jelas Ike dengan nada penuh empati.
Kini, lentera harapan kembali menyala di Tanjung Sari I. Langkah Aisyah menuju sekolah mungkin masih terasa berat, namun ia tak lagi berjalan sendirian.
Di balik punggungnya, ada tangan pemerintah dan masyarakat yang siap menopang hingga ia benar-benar bisa berlari mengejar ketertinggalannya.
Bagi Aisyah, sekolah bukan lagi sekadar gedung penuh ruang kelas, melainkan sebuah kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa luka masa lalu tidak berhak menentukan masa depannya.
Baca juga: Heboh Perundungan di Mahasiswa Undip Semarang, Ahmad Sahroni : Kampus Bisa Saja Dievaluasi
Baca juga: Sinergi BSB dan Pemprov Sumsel: Mudik Gratis 2026 Naik Kereta Api Resmi Dibuka