Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan apa pun dengan Washington terkait penggunaan pangkalan militer
PROHABA.CO, SPANYOL – Pemerintah Spanyol secara resmi membantah klaim Gedung Putih yang menyebut Madrid telah menyetujui kerja sama militer dengan Amerika Serikat (AS) untuk menggempur Iran.
Bantahan ini muncul setelah juru bicara Gedung Putih menyebut Spanyol mulai melunak menyusul ancaman sanksi ekonomi dari Presiden Donald Trump.
Bantahan keras Menlu Spanyol
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan apa pun dengan Washington terkait penggunaan pangkalan militer atau dukungan operasional terhadap Iran.
"Tidak ada satu koma pun yang berubah dan saya sama sekali tidak tahu apa yang mereka maksud," ucap Albares dalam program radio Hora25, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Pernyataan Albares ini merespons Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang sebelumnya mengeklaim Spanyol telah mengubah sikapnya.
Leavitt menyebut otoritas Spanyol telah memahami pesan keras Presiden Trump.
Baca juga: Separuh Kendaraan Pribadi di Myanmar Dilarang Beroperasi akibat Krisis di Timur Tengah
Baca juga: Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Sosoknya
"Sehubungan dengan Spanyol, saya rasa mereka mendengar pesan presiden kemarin dengan sangat jelas.
Dan pemahaman saya, dalam beberapa jam terakhir mereka telah setuju untuk bekerja sama dengan militer AS," beber Leavitt kepada awak media.
Ancaman putus dagang
Sikap menentang yang ditunjukkan Spanyol membuat Donald Trump geram.
Presiden AS itu mengancam akan menjatuhkan sanksi berupa penghentian hubungan perdagangan secara total.
"Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berurusan dengan Spanyol," kata Trump, Selasa (2/3/2026).
Meskipun ditekan secara ekonomi, Pemerintah Spanyol tetap pada pendiriannya untuk menolak keterlibatan dalam konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Stasiun CIA Amerika Serikat di Riyadh Diserang Drone, Diduga dari Iran
Peringatan PM Pedro Sanchez Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengingatkan bahwa keterlibatan dalam perang di Timur Tengah hanya akan mengulangi tragedi masa lalu.
Ia merujuk pada Perang Irak tahun 2003 yang dinilainya sebagai kegagalan besar.
"Dunia, Eropa, dan Spanyol pernah mengalami momen kritis seperti ini sebelumnya.
Pada 2003, beberapa pemimpin yang tidak bertanggung jawab menyeret kita ke perang ilegal di Timur Tengah yang hanya membawa ketidak amanan dan penderitaan," ucap Sanchez lewat platform X.
Dalam pidato televisinya, Sanchez menegaskan bahwa Spanyol berdiri di atas prinsip hukum internasional, bukan berpihak pada rezim tertentu.
"Pertanyaannya bukan apakah kita berada di pihak para Ayatollah Iran, tidak ada yang berada di pihak mereka. Pertanyaannya adalah apakah kita mendukung perdamaian dan hukum internasional," ucap Sanchez.
Baca juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 87 Orang Tewas
Ia juga menambahkan peringatan mengenai risiko pelanggaran hukum global. "Tidak bisa menjawab satu pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lain.
Dari situlah bencana besar bagi umat manusia biasanya dimulai," katanya.
Sikap konsisten Spanyol ini selaras dengan posisi mereka dalam konflik di Gaza, di mana Madrid secara vokal mengkritik aksi militer Israel dan mengakui kedaulatan negara Palestina.(*)