Masjid yang Terlalu Banyak, Iman yang Terlalu Sepi
Oleh: La Ode Ismail Ahmad
Ketua Prodi Ilmu Hadis Pascasarjana UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - RAMADAN datang setiap tahun dengan nuansa spiritual dan sosial yang semakin tergerus oleh perubahan kehidupan manusia.
Hanya beberapa yang tidak berubah yakni spanduk terbentang khususnya pada masjid pinggir jalan utama dan pengumuman penyedia takjil setiap sore dari menara-menara masjid.
Di antara kenyataan yang sulit disangkal dan memilukan jiwa—banyak masjid berdiri megah, namun saf-safnya renggang.
Bahkan pada bulan yang disebut sebagai madrasah ruhani, tidak sedikit masjid yang jamaah tarawihnya bisa dihitung dengan jari.
Fenomena ini tidak bisa lagi disikapi dengan romantisme religius. Ia perlu dibaca secara jujur dan kritis.
Di banyak daerah, dalam radius beberapa ratus meter, berdiri dua atau tiga masjid. Kubahnya tinggi, menaranya menjulang, arsitekturnya semakin modern.
Pembangunan terus berlangsung, penggalangan dana tak pernah surut, proposal demi proposal beredar dengan narasi pahala jariyah. Namun pertanyaannya sederhana: apakah yang kita bangun benar-benar kebutuhan ibadah, atau sekadar simbol kebanggaan kolektif?
Secara sosial, pembangunan masjid kerap bertransformasi menjadi arena simbolik. Masjid tidak lagi semata ruang ibadah, tetapi juga representasi identitas kelompok.
Ada kebanggaan ketika sebuah komunitas memiliki masjid yang lebih besar, lebih indah, lebih “wah” dari yang lain.
Tanpa disadari, logika kompetisi dunia masuk ke ruang yang seharusnya steril dari gengsi.
Kita membangun rumah Allah dengan mentalitas perlombaan sosial. Akibatnya, jamaah terpecah. Satu kampung yang dulu shalat dalam satu saf kini terbagi ke beberapa bangunan.
Tidak ada lagi kepadatan spiritual yang menggetarkan. Yang ada adalah fragmentasi kesalehan. Dari sudut pandang antropologi, ini menandai perubahan pola keberagamaan.
Dahulu masjid adalah pusat peradaban kecil: tempat musyawarah, pendidikan, solidaritas, bahkan penyelesaian konflik.
Masjid hidup karena komunitasnya hidup. Kini, dalam masyarakat yang semakin individualistis dan terjebak dalam ritme urban, masjid sering kali hanya menjadi persinggahan ritual, bukan pusat kehidupan.
Kita membangun fisiknya, tetapi kita tidak membangun budaya berjamaahnya. Kita menganggarkan miliaran untuk marmer dan kubah, tetapi minim investasi pada pembinaan ruhani, pendidikan akhlak, dan penguatan ikatan sosial.
Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir (QS. at-Taubah: 18).
Kata yang digunakan bukan “membangun”, melainkan “memakmurkan”. Makmur berarti hidup. Makmur berarti ramai oleh dzikir, ilmu, dan sujud yang khusyuk.
Masjid bisa berdiri megah, tetapi tetap tidak makmur. Masjid bisa terlihat indah di foto dan media sosial, tetapi tetap sunyi dari tangisan taubat.
Di sinilah persoalan spiritual kita terbuka dengan telanjang: ada ketimpangan antara semangat membangun simbol dengan kedalaman membangun kesadaran.
Dalam perspektif tasawuf, persoalan ini lebih tajam lagi. Para sufi mengingatkan bahwa hati manusia adalah “masjid batin”. Imam al-Ghazali berulang kali menekankan bahwa amal lahiriah tanpa kesadaran batin akan berubah menjadi formalitas kosong. Jika hati tidak hidup, maka bangunan semegah apa pun hanya akan menjadi dinding dan kubah tanpa ruh.
Barangkali problem kita bukan kekurangan masjid, tetapi kekurangan kerinduan. Bukan kekurangan bangunan, tetapi kekurangan kesadaran untuk hadir.
Ramadan seharusnya menjadi momentum puncak spiritualitas. Jika pada bulan ini saja masjid tetap sepi, maka itu bukan sekadar persoalan teknis jarak atau jumlah bangunan. Itu adalah indikator adanya kelelahan spiritual kolektif.
Ada kecenderungan bahwa pembangunan masjid lebih mudah daripada membangun disiplin shalat berjamaah. Lebih mudah mengumpulkan dana untuk semen dan besi daripada menggerakkan jiwa agar bangun di sepertiga malam.
Lebih mudah mendirikan bangunan baru daripada memperbaiki ego dan konflik kecil yang membuat jamaah enggan datang ke masjid tertentu.
Kita harus berani mengatakan: sebagian pembangunan masjid hari ini tidak lagi murni didorong kebutuhan ibadah, tetapi juga oleh hasrat simbolik—hasrat terlihat religius, hasrat meninggalkan “monumen”, hasrat diingat sebagai donatur utama.
Padahal, yang akan ditanya di hadapan Allah bukanlah seberapa tinggi menara yang kita dirikan, tetapi seberapa sering kita memenuhi panggilan azan.
Fenomena ini bukan ajakan untuk menghentikan pembangunan masjid. Islam adalah agama peradaban, dan masjid adalah jantungnya.
Namun membangun tanpa menghitung kebutuhan sosial dan kepadatan jamaah adalah bentuk pemborosan energi spiritual.
Yang lebih mendesak adalah revitalisasi fungsi masjid: Menghidupkan kajian yang menyentuh hati, bukan hanya wacana formal.
Menguatkan program sosial agar masjid menjadi pusat empati. Membangun ukhuwah agar jamaah merasa memiliki, bukan sekadar singgah.
Tanpa itu, kita hanya akan terus menambah bangunan dan mengurangi kedalaman. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, keheningan batin, dan kesadaran akan kefanaan dunia.
Ironis jika pada bulan ini kita justru sibuk pada simbol-simbol lahiriah, sementara ruhnya mengering.
Mungkin sudah saatnya kita menggeser paradigma: dari membangun lebih banyak masjid menjadi membangun lebih banyak kesadaran untuk datang ke masjid.
Dari meninggikan kubah menjadi meninggikan kualitas sujud. Dari memperluas bangunan menjadi memperdalam kekhusyukan.
Karena pada akhirnya, yang membuat masjid hidup bukanlah arsitekturnya, tetapi orang-orang yang datang dengan hati yang tunduk. Dan jika masjid-masjid kita mulai sunyi, barangkali itu bukan krisis infrastruktur—melainkan krisis.(*)