TRIBUN-TIMUR.COM - Pengamat sepak bola Syamsuddin Umar menyoroti performa PSM Makassar di Super League 2025/2026 yang dinilai masih jauh dari harapan.
Ia menilai tim Juku Eja memiliki banyak kelemahan mulai dari efektivitas serangan, penguasaan lini tengah, hingga organisasi pertahanan.
PSM Makassar akan menghadapi tim papan atas Malut United pada pekan ke-25 Super League.
Derby yang mempertemukan dua tim dari kawasan Indonesia Timur itu akan digelar di Stadion Kie Raha, Kota Ternate, Maluku Utara, Sabtu (7/3/2026) pukul 20.00 Wita.
Syamsuddin Umar menilai PSM Makassar masih memiliki sejumlah kelemahan jika melihat performa dalam dua pertandingan terakhir.
Kelemahan tersebut terlihat di beberapa sektor, mulai dari lini serang, lini tengah, pertahanan, hingga manajemen waktu pertandingan.
Pasalnya, mereka kalah jumlah dari lawan ketika menyerang.
Di lini depan kadang hanya ada satu-dua pemain. Itu pun dikawal tiga-empat pemain bertahan lawan.
Jadi bagaimana caranya mau mencetak gol.
Efeknya, produktivitas gol PSM Makassar sangat kurang.
Semestinya, ada second line yang muncul membantu striker, sehingga tercipta duel seimbang atau jumlah pemain PSM Makassar lebih banyak.
Misal, tiga lawan tiga atau empat lawan tiga.
“Pemain PSM Makassar di depan dua saja baru dikawal tiga-empat pemain, baru mau cetak gol, tidak bisa. Harus dibenahi itu,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Kamis (5/3/2026).
Tak hanya itu, Syamsuddin Umar tak pernah melihat Yuran Fernandes cs melancarkan dua kali serangan kepada lawan.
Begitu menyerang gagal, giliran lawan lagi melancarkan serangan balik cepat.
“Tidak pernah ada double attack, menyerang kemudian menyerang lagi,” sebut pelatih yang bawa PSM Makassar juara dua kali ini.
Di lapangan tengah, Syamsuddin Umar, tak pernah melihat pemain PSM Makassar memainkan bola dari kaki ke kaki.
Padahal, untuk membuat ritme permainan, diperlukan lima sampai enam kali sentuhan.
Yang terjadi cuma dua sampai tiga kali sentuhan, lalu penguasaan bola hilang.
“Di lapangan tengah PSM Makassar tak memainkan bola sentuhan kaki ke kaki. Ini yang bisa mengatur ritme di lini tengah,” tambahnya.
Sedangkan sistem pertahanan PSM Makassar kehilangan kekokohannya.
Menurut Syamsuddin Umar, penyebabnya pemain agak berjauhan.
Ditambah lagi pemain belakang selalu meninggalkan garis 16.
Mereka seperti tidak tahu tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sebagai pemain bertahan.
“Tupoksinya sering keluar. Saya lihat pemain bertahan meninggalkan garis 16, akhirnya PSM Makassar mudah dibobol. Itu harus dibenahi,” sebutnya.
Eks Asisten Timnas Indonesia ini melanjutkan, anak asuh Tomas Trucha juga hilang posisi.
Mereka tidak tahu berdiri di antara lawan, daerah dan gawang. Di sini pentingnya fokus.
“Fokus dini penting, kita tahu visi dan apa mau dibuat. Kalau kita tidak tahu di mana berdiri kalau kalah bola dan dimana support kalau memang bola akan sulit. Pengambilan posisi tidak jelas. Itu harus dibenahi,” tuturnya.
Syamsuddin Umar menyampaikan, banyak pihak sering mengaitkan kekalahan PSM Makassar dengan persoalan gaji pemain yang terlambat.
Namun, ia justru menilai akar masalahnya ada pada sistem permainan yang belum jelas.
Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) di tangan Tomas Trucha tak memiliki manajemen waktu yang jelas, termasuk saat sudah unggul dalam pertandingan.
Syamsuddin mencontohkan ketika laga melawan Persita Tangerang.
PSM Makassar sempat memimpin 2-0, tetapi gagal mempertahankan keunggulan tersebut.
Seharusnya, saat unggul ada strategi lain diterapkan oleh pelatih,
“Bagaimana mempertahankan kemenangan sekaligus mencari peluang menambah gol. Tetapi itu tidak terlihat,” paparnya.
Mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Sulsel ini bahkan menilai permainan PSM Makassar seperti tidak memiliki instruksi yang jelas dari pelatih.
Ia pun membandingkan permainan PSM Makassar dengan beberapa tim lain di Super League, seperti Persib Bandung, Borneo Samarinda FC, Persija Jakarta dan Malut United.
Empat tim yang mendiami papan atas klasemen ini memiliki pola permainan lebih jelas.
“Tekanan dan instruksi mereka jelas. Saat bertahan juga bentuk pertahanannya jelas,” ujarnya.
Ia menegaskan jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, PSM berpotensi terus kesulitan menghadapi lawan di kompetisi
“Kalau ini tidak dibenahi, melawan siapa pun PSM Makassar bisa jadi permainan lawan. Di mana lagi nilai siri’ na pacce kalau tidak ada perbaikan? Kalau tidak ada revisi dan tidak ada pola permainan yang jelas, tim tidak akan berkembang,” tutupnya. (*)