Menangis
Abdul Azis Alimuddin March 06, 2026 01:22 AM

Oleh: Prof Nasaruddin Umar
Menteri Agama

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam Islam menangis memiliki berbagai tingkatan.

Ada menangis termasuk perbuatan dosa dan ada menangis termasuk perbuatan mulia.

Menangis dalam arti menjerit, seperti orang yang ditimpa musibah lalu menjerit dan meraung-raung, itu dilarang.

Skan tetapi menangis karena meratapi dosa masa lampau, merindukan Tuhannya, dan bentuk protes terhadap kebatilan di sekitarnya tetapi tidak mampu mengusirnya, maka menangis dalam arti positif.

Bahkan tiga bentuk tangisan terakhir tidak akan pernah mungkin mendekati api neraka.

Ada dua orang pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata.

Seorang dari Jerman dan seorang dari AS.

Keduanya menyimpulkan air mata yang keluar karena kepercik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang keluar karena kecewa dan sedih.

Yang pertama tidak mengandung zat yang berbahaya, sedangkan jenis kedua mengandung toksin atau racun.

Kedua peneliti ini merekomendasikan orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air mata kekecewaannya.

Kalau air mata kesedihan itu tidak dibuang keluar maka akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran.

Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmati, karena tidak selamanya orang bisa menangis.

Orang-orang yang suka menangis sering kali di label sebagai orang cengeng.

Cengeng terhadap Sang Khaliq adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, maka air mata itu melicinkannya menembus surga.

Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu, maka air mata itu yang memadamkan api nerakanya.

Ini sesuai dengan hadis Nabi, ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis dikhawatirkan hatinya gersang.

Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang menangis: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Firaun berkata kepadanya:

"Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir". (Q.S. al-Isra’/17:101).

Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan jika kalian hendak selamat, maka jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu.

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ia hadir di bumi langsung menangis sementara orang-orang disekitarnya tertawa kegembiraan.

Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis, karena sedih ditinggalkan.

Kita perlu membayangkan apakah nanti ketika kita meninggal dunia lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Ada dua jenis air mata yang sangat mahal.

Pertama air mata tobat, seperti pernah di katakan, air mata yang memadamkan api neraka.

Jeritan taubat yang disertai linangan air mata lebih disukai Tuhan ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama, seperti yang pernah diisyaratkan oleh Nabi.

Air mata kedua, dan ini yang paling mahal, yaitu air mata kerinduan yang tumpah karena seseorang terharu dan merindukan Tuhannya.

Ia tidak tahu membayangkan bagaimana bisa terjadi tiba-tiba menangis tersedu-sedu merindukan Tuhannya.

Ia lupa dosanya, lupa juga surga dan neraka, yang ada dalam benaknya adalah Sang Maha Agung Allah SWT.

Kedua jenis air mata emas ini hanya bisa dialami oleh orang-orang yang mendapatkan anugerah dan hidayah dari Allah SWT.

Kita berharap dalam bulan Ramadan ini kita bisa mengoleksi kedua jenis air mata itu sebanyak-banyaknya.

Mestinya di bulan Ramadan ini kita lebih banyak menangis ketimbang ketawa, sekalipun penuh dengan lawak dan banyolan yang disuguhkan oleh media-media TV.

Jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat dan jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, maka perlu kita melakukan introspeksi.

Apakah kita termasuk orang yang dilukiskan Tuhan sebagai "di dalam hatinya ada penyakit" (fi qulubihim maradh) atau sudah sampai kepada "Allah sudah menutup mati pintu hatinya" (khatamallah ’ala qulubihim).

Mari kita memeriksa mata kita, apakah sudah bersahabat dengan syurga atau bersahabat dengan neraka?.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.