Pro-Kontra 8.000 TNI ke Gaza: Connie Bakrie Kritik Presiden Prabowo Soal Board of Peace
Dedi Qurniawan March 06, 2026 02:21 AM

POSBELITUNG.CO – Rencana besar pemerintah Indonesia untuk mengirimkan 8.000 prajurit TNI ke Timur Tengah di bawah payung Board of Peace (BoP) bentukan Amerika Serikat menuai kritik tajam.

Pengamat Militer dan Pertahanan, Dr. Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar lebih memprioritaskan stabilitas keamanan di dalam negeri.

Pernyataan ini muncul menyusul komitmen Indonesia untuk terlibat dalam International Stabilization Force (ISF) yang diproyeksikan mulai mengirim pasukan dalam 1 hingga 2 bulan ke depan.

Connie Bakrie: Fokus OPM dan Kesejahteraan Domestik

Dalam wawancara khusus di Studio Tribunnews, Kamis (5/3/2026), Connie mempertanyakan urgensi pengiriman pasukan ke wilayah yang mandala perangnya sangat rumit.

"Sanggup enggak kita meniti-nolkan OPM hari ini? Enggak kan? Terus kita mau meniti-nolkan di Palestina sana yang bahasanya saja kita very complicated enggak ngerti," kata Connie tajam.

Menurut Connie, aliansi BoP gagasan Donald Trump kini telah melenceng dari tujuan awal dan berisiko menjadi "Papan Perang" (Board of War) setelah adanya serangan AS-Israel ke Iran.

Ia juga menyoroti masalah anggaran yang sebaiknya dialokasikan untuk kebutuhan mendesak rakyat Indonesia.

"Emang Indonesia kurang PR? Gaji guru masih ada yang Rp 15.000, Makan Bergizi Gratis (MBG) masih ada yang berantakan. Daripada deploy 8.000 (prajurit TNI) ke BOP, saya deploy ke Tamiang sama Tapanuli Tengah. Lebih dekat, low cost, dan itu saudara sedarah seair mata," tandasnya.

Penjelasan Menlu Sugiono: Pengiriman Bertahap ke Rafah

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa pengiriman 8.000 personel TNI ke Gaza akan dilakukan secara bertahap dalam lima sektor.

Komitmen ini ditegaskan Sugiono saat kunjungannya ke Washington DC, Amerika Serikat, pada Februari 2026 lalu.

"Saya kira bertahap karena tadi saya sampaikan tahapan yang ada di sana juga dibagi menjadi beberapa sektor," ujar Sugiono.

Mengenai lokasi penempatan, Sugiono mengonfirmasi bahwa pasukan perdamaian direncanakan akan memulai misi dari wilayah Rafah.

"Mulainya dari situ (Rafah) katanya kemarin. Tapi nanti detailnya kan ada operasinya seperti apa, teaternya seperti apa," tuturnya.

Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF

Sebagai bentuk apresiasi terhadap reputasi TNI di dunia internasional, Indonesia dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan (Deputy Commander) ISF.

Sugiono menegaskan bahwa posisi strategis ini akan digunakan Indonesia untuk menyampaikan batasan pengerahan pasukan (national caveat).

"National Caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF bahwa kita tidak melakukan operasi militer, kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi," tegas Sugiono.

Tugas utama prajurit TNI di Gaza nantinya adalah menjalankan misi kemanusiaan dan menjaga keselamatan masyarakat sipil, bukan melakukan tempur ofensif.

"Tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan rule of engagement yang bisa kita lakukan sebagai pasukan, apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri," ucapnya.

Presiden Prabowo: Pasukan Pendahulu Berangkat Segera

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk segera menerjunkan kelompok pendahulu (advance groups) ke wilayah konflik.

Hal ini disampaikan Prabowo pasca mengikuti KTT perdana Board of Peace di Washington DC pada pertengahan Februari 2026.

"Kita siap, kita siap (kirim pasukan). Mungkin ya kelompok-kelompok advance (pendahulu), mungkin tidak lama lah, mungkin 1-2 bulan ini," ungkap Prabowo.

Prabowo juga membenarkan bahwa pihak BoP memang meminta Indonesia mengambil peran kepemimpinan sebagai wakil komandan dalam misi stabilisasi tersebut.

"Iya mereka minta kita jadi deputy commander (wakil komandan)," tutur Presiden Prabowo menutup keterangannya. (Sumber: Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.