Panen Sorgum di Cirebon, Wagub Jabar Ungkap Strategi Pertanian Hadapi Kemarau Panjang
Mutiara Suci Erlanti March 06, 2026 06:11 AM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Panen tanaman sorgum di wilayah Kabupaten Cirebon menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk menyiapkan strategi pertanian menghadapi ancaman musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang tahun ini.


Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan saat meninjau sekaligus mengikuti kegiatan panen sorgum di Satuan Pelayanan UPTD Balai Benih Padi dan Palawija, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Kamis (5/3/2026).


Menurutnya, pemerintah daerah mulai mengarahkan pengembangan tanaman yang tidak terlalu bergantung pada ketersediaan air, salah satunya sorgum.


“Musim hujan ini kan sudah hampir selesai ya, dan BMKG sudah memprediksi bahwa ke depan akan ada musim kemarau yang cukup panjang. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mengembangkan pertanian-pertanian yang hemat air. Salah satunya ini adalah sorgum,” ujar Erwan.

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut 9 Kendaraan di Tol Cipularang, Kontainer Jadi Pemicu


Ia menjelaskan, berbeda dengan tanaman pangan lain seperti padi maupun jagung yang membutuhkan banyak air, sorgum dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering.


“Sorgum ini tidak terlalu banyak membutuhkan air. Kalau seperti padi, jagung dan tanaman-tanaman lain itu sangat tergantung dengan air, sementara sorgum ini tidak tergantung dengan air,” ucapnya.


Selain mendorong pengembangan tanaman hemat air, Erwan juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.


“Itu sudah pasti kita lakukan. Saat-saat ini embung-embung yang sudah ada kita fungsikan lebih baik lagi. Mata air-mata air kita jaga, sehingga persediaan air di masa kemarau nanti bisa tercukupi,” jelas dia.


Ia pun mengimbau seluruh kepala daerah di Jawa Barat agar mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam menjaga ketersediaan air di daerah masing-masing.


“Saya mengimbau kepada seluruh kepala daerah di Jawa Barat untuk menghimbau lagi kepada para stakeholder terkait di daerahnya untuk menjaga air saat ini. Embung-embung, waduk-waduk dan juga mata air terutama, ini jangan sampai nanti pada saat kemarau kering,” katanya. 


Menurutnya, pemerintah provinsi juga akan melakukan langkah mitigasi bersama berbagai pihak agar potensi kekeringan di sejumlah wilayah bisa diantisipasi sejak awal.


“Nanti saya akan memberikan arahan khusus pada saat rakor dengan para kepala daerah se-Jawa Barat, dengan BMKG dan stakeholder terkait lainnya untuk memitigasi hal tersebut. Jangan sampai nanti ketika sudah berjalan baru kita kalang kabut. Jadi dari awal dulu kita berikan langkah antisipasi,” ujarnya.

Baca juga: Jelang Arus Mudik 2026, Dinas Perhubungan Kuningan Cek Kondisi Bus


Sebelumnya, tanaman sorgum mulai menunjukkan potensinya sebagai komoditas pangan alternatif di Jawa Barat.


Di Kabupaten Cirebon, lahan seluas 1,5 hektar yang ditanami sorgum berhasil dipanen setelah tiga bulan masa tanam.


Tanaman ini bahkan disebut dapat dipanen hingga tiga kali dalam satu kali penanaman.


“Selain untuk ketahanan pangan, nilai ekonomisnya juga cukup tinggi. Sorgum yang saat ini kita panen seluas 1,5 hektar, kita tanam tiga bulan yang lalu dan sekarang bisa kita panen. Dalam satu kali tanam ini bisa tiga kali panen,” ujar Erwan.


Ia menyebut, sorgum merupakan tanaman multifungsi yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari bahan pangan hingga energi.


“Sorgum adalah tanaman yang multifungsi. Bijinya bisa digunakan sebagai bahan pangan, batangnya bisa dijadikan bioetanol dan biomassa, sedangkan daunnya bisa dijadikan pakan ternak. Jadi banyak sekali fungsinya,” ucapnya.


Erwan juga mengapresiasi kontribusi PT Dirgantara Indonesia yang turut mendukung pengembangan teknologi budidaya dan pengolahan sorgum di Jawa Barat.


“Saya ucapkan terima kasih kepada PTDI yang terus mengembangkan teknologi tanaman sorgum di Jawa Barat ini,” jelasnya.


Dari lahan seluas 1,5 hektar tersebut, diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 15 ton batang sorgum serta sekitar 30 ton biji sorgum.


Hasil panen tersebut bahkan dapat menghasilkan bibit yang cukup untuk pengembangan lahan yang jauh lebih luas.


“Bibitnya bahkan bisa mencakup lahan hingga 150 hektar,” katanya.


Ke depan, pengembangan sorgum di Jawa Barat akan diperluas melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk kolaborasi antara pemilik lahan dan PTDI.


“Alhamdulillah hari ini sudah ada MoU antara Pak Haji Ummuh Muchtar sebagai pemilik lahan dengan PTDI. Kita kembangkan nanti di daerah Sumedang sekitar 30 sampai 40 hektaran,” ujar Erwan.


Ia menambahkan, pemerintah daerah juga akan terus memetakan wilayah lain yang berpotensi untuk pengembangan sorgum di berbagai daerah di Jawa Barat.


“Kita akan lihat lagi lahan-lahan mana yang berpotensi untuk kita kembangkan sorgum ini di Jawa Barat. Tidak hanya di sekitar Jawa Barat bagian timur laut ini, tetapi bisa juga dikembangkan di seluruh Jawa Barat,” katanya.


Sementara itu, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan mengatakan, pihaknya ingin berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sorgum melalui penerapan teknologi pengolahan.


“Tujuan PTDI ini adalah untuk menginjeksi teknologi di dalam pengolahan sorgum selanjutnya untuk memberikan nilai tambah,” ujarnya.


Menurutnya, pengembangan tersebut tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga pada proses pengolahan hasil panen agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.


“Pemikiran PTDI tentunya adalah bagaimana kita mengolah sorgum untuk siap digunakan sebagai bahan bakar biomassa karena harus ada proses pengolahan. Sama seperti bagaimana sorgum ini dibuat menjadi bulir, menjadi tepung, atau menjadi varian produk yang lain,” katanya.


Ia juga menyebutkan bahwa pengembangan teknologi ini melibatkan mitra internasional melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.


“Partner PTDI dari China pun, melalui program CSR PTDI, komit untuk berkontribusi mencoba mengeksplor teknologi China dalam masalah food processing bagi program di Jawa Barat,” ujarnya.


Pantauan di lokasi, kegiatan panen dilakukan secara simbolis oleh sejumlah pejabat dengan memotong batang sorgum menggunakan gunting tanaman di tengah hamparan kebun yang rimbun.


Tanaman sorgum yang tingginya mencapai sekitar dua meter tampak siap panen dengan malai berwarna krem kecokelatan.


Beberapa malai sorgum bahkan terlihat dibungkus plastik transparan untuk menjaga kualitas bijinya dari hama maupun kelembapan.


Seusai panen simbolis, para pejabat dan tamu undangan juga berfoto bersama sambil memegang malai sorgum sebagai simbol keberhasilan panen komoditas pangan alternatif tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.