SMAN 2 Banjarbaru Tidak Lagi Dapat MBG, SPPG untuk SMKN 1 Banjarmasin Diganti
Irfani Rahman March 06, 2026 08:47 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Siswa Sekolah Menengah Atas (SMAN) 2 Banjarbaru tak lagi mendapatkan menu Ramadan Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Senin (2/3). Padahal makanan tersebut sempat diterima selama sepekan sejak Senin (23/2).

Penghentian pengiriman menu kering tersebut diakui Koordinator MBG SMAN 2 Banjarbaru, Wahyudin, Kamis (5/3). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungaiulin 1 selaku penyuplai menghentikannya sementara.

Sebelumnya, Dapur MBG ini mengirim paket kepada 1.081 siswa. Pada penyaluran hari pertama masuk sekolah awal Ramadan, siswa mendapatkan menu berupa telur, roti, susu dan jeruk yang dibungkus kantong plastik.

Wahyudin mengaku belum mengetahui kapan MBG kembali disalurkan. Sementara ini SPPG menunggu izin dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyalurkannya kembali. “Inilah alasan mereka menyetop sementara pendistribusian MBG ke sekolah,” katanya.

Baca juga: Viral Kualitas MBG di HST Disorot, Telur Diduga Busuk Hingga dan Roti Tampak Menghitam

Baca juga: Viral Donat MBG di Batibati Tanahlaut Berjamur, Wali Santri Ini Pastikan Tak Salah Lihat

Hingga Kamis siang, BPost belum mendapat konfirmasi dari Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kota Banjarbaru, Citra Nirfitriani,

Namun beberapa waktu lalu, Citra mengatakan banyak catatan pelaksanaan MBG Ramadan. Terlebih tahun ini merupakan tahun pertama MBG dilaksanakan pada bulan puasa sehingga harus menyesuaikan menu dan waktu pembagian. “Sejauh ini memang banyak evaluasi,” katanya, Selasa (3/3).

Citra mengungkapkan evaluasi yang dilakukan mulai dari pemilihan menu dan pendistribusiannya dari SPPG ke sekolah.

Sedang distribusi MBG di SMKN 1 Banjarmasin dialihkan dari SPPG Kertak Baru Ilir ke SPPG Pekapuran Laut mulai Rabu (4/3). Penggantian ini diumumkan melalui akun media sosial resmi SPPG Kertak Baru Ilir.

Korwil SPPG Kota Banjarmasin, Cahyadi, menjelaskan pengalihan tersebut merupakan bagian dari penataan distribusi agar lebih merata di setiap SPPG. Menurutnya, seiring bertambahnya jumlah SPPG, penyesuaian wilayah layanan perlu dilakukan.

“Perpindahan SPPG itu karena untuk pemerataan jumlah penerima manfaat. Jadi tiap SPPG idealnya melayani sekitar 2.000 penerima manfaat,” ujarnya, Kamis.

Ia memastikan proses pengalihan tidak mengganggu distribusi. Selama proses perpindahan, distribusi tetap berjalan dan langsung dilanjutkan oleh SPPG yang baru mengambil alih layanan. “Selama proses pengalihan tidak ada pemberhentian distribusi. Langsung dicover oleh SPPG yang baru,” jelasnya.

Cahyadi juga menyebut, penyesuaian serupa kemungkinan dilakukan pada sekolah lain secara bertahap. “SPPG lain juga kemungkinan akan melakukan hal yang sama seiring dengan pertumbuhan SPPG di Banjarmasin. Tujuannya agar jumlah penerima manfaat di setiap SPPG bisa lebih merata,” katanya. (riz/sul)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.