SURYA.co.id – Nama Daniel Aibon Kogoya kembali mencuat ke permukaan setelah TNI berhasil merebut basis logistik miliknya di wilayah Nabire.
Namun, bagi masyarakat di pegunungan tengah Papua, nama ini bukanlah nama baru.
Ia adalah salah satu pimpinan faksi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang dikenal memiliki mobilitas tinggi dan strategi gerilya yang licin.
Perebutan basis di Nabire bukan sekadar kemenangan teritorial bagi Koops TNI Papua, melainkan pukulan telak bagi reputasi sang panglima di mata kelompoknya.
Dalam keterangan resmi, Kapen Koops TNI Papua Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyatakan timnya berhasil melakukan penyergapan.
“Tim Patroli gabungan Koops TNI Papua telah berhasil melakukan penyergapan terhadap kelompok TPNPB OPM pimpinan Daniel Aibon Kogoya (Danyon Ndulamo Kodap III Ndugama) dan menguasai markas OPM tersebut.” ujar Wirya, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Ia juga mengungkapkan situasi di lapangan saat operasi berlangsung.
“Sehingga kelompok tersebut mundur dan melarikan diri ke hutan dengan meninggalkan perlengkapannya di markas, kegiatan tersebut dilakukan secara profesional dan terukur,” jelas dia.
Lebih lanjut, ia menegaskan dampak strategis dari operasi tersebut. “Kehilangan basis serta perlengkapan utama menunjukkan melemahnya kemampuan kelompok tersebut,” jelas dia.
Daniel Aibon Kogoya disebut sebagai figur sentral dalam jaringan TPNPB di wilayah pegunungan tengah.
Ia memimpin salah satu struktur komando lapangan yang kerap berpindah lokasi untuk menghindari deteksi aparat.
Kelompoknya tidak menetap di satu titik tetap.
Mereka memanfaatkan jalur-jalur hutan yang menghubungkan Nabire dengan kabupaten lain di Papua Tengah sebagai rute mobilisasi.
Baca juga: Berani Serang Rombongan Kapolda Papua Tengah hingga 4 Polisi Luka, Ini Sosok KKB Papua Aibon Kogoya
Kelompok ini dikenal mengandalkan hutan lebat sebagai benteng alami.
Sistem logistik mereka disusun secara tersembunyi, dengan pola distribusi kecil dan berpindah-pindah.
Strategi ini memungkinkan mereka melakukan aksi gangguan keamanan secara sporadis, lalu kembali menghilang ke pedalaman.
Basis di wilayah Kepala Air, Nabarua Atas, Kampung Kaliharapan, Distrik Nabire, berfungsi sebagai “stasiun antara”.
Lokasi tersebut diduga menjadi titik penyimpanan amunisi, alat komunikasi, serta distribusi logistik dari wilayah pesisir menuju pedalaman.
Dari lokasi itu, aparat mengamankan ratusan butir amunisi berbagai kaliber, 10 magazen senjata laras panjang, lima unit handy talky (HT), 12 unit telepon genggam, uang tunai Rp79,7 juta, serta atribut lapangan lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Daniel Aibon Kogoya kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan keamanan di wilayah Papua Tengah.
Kelompok ini disebut menargetkan kendaraan pengangkut barang di jalur tertentu. Selain melemahkan distribusi, pola ini juga memperkuat suplai internal mereka.
Pos-pos aparat di titik terpencil menjadi sasaran untuk menciptakan efek psikologis dan menarik perhatian publik. Pola serangan cepat dan mundur menjadi ciri khas pendekatan mereka.
Di luar aksi lapangan, komunikasi lintas faksi menjadi bagian penting strategi. Koordinasi dengan kelompok lain di pegunungan tengah memperkuat jejaring dukungan, baik logistik maupun informasi.
Sebelum Operasi:
Sesudah Operasi:
Perubahan ini bukan hanya soal kehilangan fisik, tetapi juga menyangkut moral dan kepercayaan internal.
Sebelumnya, KKB Papua pimpinan Aibon Kogoya berani serang rombongan Kapolda Papua Tengah hingga 4 polisi luka.
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga dipimpin oleh Aibon Kogoya kembali beraksi.
Kali ini, mereka melakukan serangan dengan menembaki rombongan Kapolda Papua Tengah Brigjen Alfred Papare saat melintas di wilayah Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
KKB merupakan istilah yang digunakan pemerintah Indonesia untuk menyebut kelompok separatis bersenjata yang menuntut pemisahan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebelumnya, kelompok ini dikenal sebagai bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang memperjuangkan kemerdekaan Papua.
Tujuan utama KKB adalah menuntut otonomi yang lebih besar serta pengakuan terhadap budaya dan hak-hak masyarakat adat Papua.
Selain itu, mereka juga menyoroti penyelesaian dugaan pelanggaran HAM di masa lalu.
Namun, aksi bersenjata yang dilakukan justru menimbulkan korban dari kalangan warga sipil, aparat keamanan, hingga pekerja proyek pembangunan.
Serangan KKB kerap menghambat aktivitas masyarakat dan proyek infrastruktur.
Warga di sejumlah wilayah Papua pun hidup dalam ketakutan akibat ancaman kekerasan yang terus berulang.
Dalam insiden terbaru, Kapolda Papua Tengah Brigjen Alfred Papare menjadi target serangan saat melakukan kunjungan di Nabire.
Aibon Kogoya, yang dikenal sebagai pimpinan salah satu jaringan KKB aktif, diduga berada di balik aksi penembakan tersebut.
Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu menjelaskan bahwa penyerangan itu terjadi pada Jumat (17/10/2025).
Awalnya, pihak kepolisian tengah mengevakuasi lima warga sipil yang menjadi korban tembakan kelompok bersenjata di kawasan Kali Semen, Wadio Atas, Distrik Nabire Barat, di mana satu di antaranya meninggal dunia.
“Kemudian dilanjut dengan kedatangan bapak Kapolda Papua Tengah beserta dengan Pak Dirintel, Dirkrimum, dan Dansatbrimob, dan juga pak Dandim Nabire,” kata Samuel dalam keterangannya, Minggu (19/10/2025), melansir dari Tribunnews.
Usai memberikan arahan kepada personel di lapangan, rombongan Kapolda melanjutkan perjalanan untuk meninjau lokasi penembakan warga sipil.
Namun, di KM 17–18, kendaraan mereka disergap oleh kelompok KKB.
“Di KM 17-18 namun ketika dalam perjalanan kami kembali rombongan kami disanggong, dimana dalam rombongan kami sendiri Kapolres Nabire, kemudian bapak Kapolda dan beberapa PJU yang sudah disampaikan termasuk pak Dandim 17 Nabire,” ungkapnya.
Peluru yang dilepaskan KKB mengenai bagian belakang mobil rombongan hingga menyebabkan empat anggota polisi terluka.
“Ketika disanggong itu, kena dibagian mobil belakang. Sehingga mengakibatkan ada tambahan luka, dari personel polres Nabire sekita 4. Satu Kasat Narkoba, kena serpihan di pinggir kepala,” ucap Samuel.
“Dan dua kena serpihan peluru, dan dua kena luka tembak proyektil bersarang di bahu sebelah kiri,” sambungnya.
Keempat korban luka telah mendapat perawatan intensif di RS Nabire, termasuk warga sipil yang sebelumnya menjadi korban penembakan.
“Setelah itu kami kembali, bersama pak Kapolda menjenguk rekan yang 4 orang itu... Dan masyarakat yang terluka kemarin mendapat perawatan di RS Nabire,” tuturnya.
Sementara itu, korban meninggal dunia telah dimakamkan dengan pengawalan aparat keamanan.
“Kami sudah ke rumah duka, tadi malam kita kawal menggunakan rantis... Kita juga sudah berikan bantuan sembako dan membantu mengantarkan sampai ke pemakaman,” tambah Samuel.
Pasca-penyerangan, Kapolda Papua Tengah menginstruksikan peningkatan keamanan di Nabire dengan memperkuat pos penjagaan dan menambah personel Brimob.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi serangan susulan dan menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.