Tribunlampung.co.id, Jatim - Total korban tewas akibat ledakan mercon di Dusun Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo, bertambah menjadi dua orang.
Korban tewas pertama adalah R (16), pelajar kelas 3 SMP yang juga anak pemilik rumah. Ia meninggal dunia di lokasi kejadian sesaat setelah ledakan terjadi pada Minggu sore, 1 Maret 2026.
Korban tewas kedua adalah AFT alias Toni (20), pemuda asal Desa Morosari. Ia sempat menjalani perawatan intensif selama empat hari di ruang ICU RSUD dr. Harjono Ponorogo akibat luka bakar yang dideritanya.
Namun, Toni dinyatakan meninggal dunia pada Kamis pagi, 5 Maret 2026, setelah mengalami gagal napas.
Sementara itu, satu korban lainnya, HDA (23), masih menjalani perawatan medis karena mengalami luka bakar sekitar 16 persen.
Kabar meninggalnya AFT/Toni disampaikan Humas RSUD dr Harjono Ponorogo, Sugiyanto.
Ia menuturkan, korban yang dinyatakan tewas tersebut dilarikan ke rumah sakit setelah menderita 36 persen luka bakar dengan adanya gangguan pernapasan.
"Memang lukanya 36 persen. Namun ada gangguan di saluran pernapasan. Meninggal dunia pukul 05.40 WIB," ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, saat pertama kali datang di rumah sakit, pihaknya langsung melakukan pembersihan luka di ruang operasi lalu dirawat di ICU.
"Karena memang membutuhkan perawatan yang intensif karena ada gangguan pernafasan. Di ICU pun selama 4 hari ini pasien menggunakan alat bantu nafas," kata Sugiyanto, dikutip dari TribunJatim.com.
Ia menuturkan, luka yang dialami korban berada di sekitar leher sehingga pembuluh darah dan jalan napas terganggu.
"Dokter dan teman-teman perawat sudah melakukan yang terbaik untuk pasien kondisi sangat beresiko, pasien gagal nafas. Meninggal pukul 05.40 WIB," urainya.
Kondisi kritis korban dipengaruhi oleh sejumlah hal, salah satunya kekuatan ledakan yang menghantam tubuh korban.
"Resiko yang paling kita jaga, infeksi pasca ledakan, ada beberapa material yang mengenai, juga kekuatan hantaman ledakan ke tubuh pasien sangat mempengaruhi. Sehingga kondisi sangat kritis," tegasnya.
Tim Gegana Brimob Polda Jatim pun diturunkan untuk melakukan investigasi.
TKP sudah mulai disisir sejak pukul 07.00 WIB, Senin (2/3/2026).
Sejumlah barang bukti pun diidentifikasi.
"Jadi untuk barang bukti masih dalam identifikasi, karena tim dari labfor polda juga turun. Dari Gegana di Brimob juga turun,"
"Nanti hasilnya akan kita sampaikan setelah kita data semua dari puslabfor polda," ungkap Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Rabu (4/3/2026).
Mengutip TribunJatim.com, penyebab ledakan juga masih dalam pemeriksaan.
"Masih kita kumpulkan masih penyelidikan. Datanya masih kita kumpulkan. Beberapa keterangan kami kumpulkan," ujarnya.
Seorang warga sekitar, Bonari mengatakan, ternyata lokasi ledakan merupakan markas perakitan petasan.
Kepada TribunJatim.com, ia mengatakan bahwa para tetangga sudah sering kali mengingatkan Minten untuk tak merakit petasan.
"Kami menyebutnya markas. Bukan sekali dua kali, sudah sering terjadi selalu bikin merakit petasan," ungkap Bonari.
Ia mengatakan, warga sudah berkali-kali menegur namun tak digubris oleh pemilik rumah.
Bonari menambahkan, ledakan terjadi sangat keras.
"Bukan keras lagi, soalnya rumah saya dekat,"
"Kirain ban meletus nggak tahunya asap mengepul. Keras banget, dahsyat," tambah Bonari.
Menurut Bonari, rumah Minten menjelang lebaran pasti dipakai untuk membuat petasan maupun balon udara.
"Dapat bahan peledak dari mana? Kurang tahu itu masih ditelusuri infonya itu. Di sini jadi markas,"
"Jelang Lebaran, sudah sering diperingatkan, tapi tidak digubris," ungkapny
sumber: Tribun Jatim