TRIBUNMANADO.CO.ID - Penjahit pakaian di Kota Manado, Sulawesi Utara mengaku sepi orderan di Bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Tren berkurangnya permintaan menjahit baju baru sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.
Seperti pengakuan Randi Sanipu (42), penjahit di gedung eks Shopping Center, Jalan Walanda Maramis, Manado.
"Sekarang biarpun dekat Idul Fitri, relatif sama saja. Dulu, hari begini, sebagian order kami tolak karena terlalu banyak," kata Randi kepada tim Tribunmanado.co.id di lokasi, Jumat 6 Maret 2026 siang.
Sambil memasang benang di mesin jahit singer manualnya, Randi bilang, ada peningkatan permintaan tapi bukan jahit baju baru.
"Paling banyak itu ya fermak dan potong gording. Ini banyak yang begitu," kata pria yang sudah melayani jasa menjahit sejak tahun 2007.
Istri Randi, Wilan bilang, menjelang Lebaran lebih banyak orderan fermak baju.
Sebagian untuk mengecilkan, potong kaki atau bongkar untuk tambah ukuran.
"Sekarang banyak yang beli jadi di online," kata Wilan.
Katanya, permintaan jahit baru berkurang karena perubahan pola konsumen.
Orang lebih banyak belanja di online atau thrifting.
Hal senada dikatakan Uci (51), penjahit lainnya mengaku, saat ini permintaan jahit baju baru tak seperti dulu.
"Sekarang satu dua masih ada tapi sepi," kata Uci.
Katanya, meskipun tak seramai dulu, ia masih bertahan karena tak hanya mengandalkan jasa jahit baru.
"Ya sekarang semua kami layani. Fermak, bordir, bikin stola wisuda, jahit gordin dan lain-lain. Pokoknya apa yang bisa jadi duit saya bikin," kata perempuan berhijab ini.
Untuk jasa jahit baru, gaun, kemeja lengan panjang atau celana Rp 300-350 ribu per potong.
Sementara untuk jas, Rp 850 ribu. Sedangkan jas set dengan celana Rp 1,3 juta hingga Rp 1,5 juta.
Sementara untuk jasa fermak bongkar semua Rp 75 ribu; fermak sebagian/biasa Rp 40 ribu.
Sementara, potong gordin dan potong celana Rp 20 ribu dan Rp 25 ribu. (Ndo)
Baca juga: Kisah Hendi Rustandi Penjahit Keliling di Sangihe, 10 Tahun Bertahan Lewat Orderan Telepon