Gudang Rudal Bawah Tanah Iran Jadi Target Baru Israel, Fase Kedua Perang Segera Dimulai
Amirullah March 06, 2026 12:36 PM

SERAMBINEWS.COM – Konflik antara Israel dan Iran memasuki babak baru setelah hampir sepekan operasi militer berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026).

Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya operasi militer Israel menyebut, tahap berikutnya dari perang ini akan difokuskan pada serangan terhadap bunker serta fasilitas bawah tanah milik Iran.

Lokasi-lokasi tersebut diketahui digunakan untuk menyimpan rudal balistik dan berbagai peralatan militer strategis.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya memperluas sasaran serangan setelah sebelumnya Israel lebih banyak menghantam target di permukaan.

Militer Israel sendiri mengklaim telah menyerang ratusan peluncur rudal Iran yang berada di atas tanah. Peluncur tersebut dinilai berpotensi digunakan untuk menyerang kota-kota di Israel.

Namun dalam fase berikutnya, sasaran operasi diperkirakan akan bergeser ke fasilitas yang jauh lebih terlindungi, termasuk gudang senjata yang berada di bawah tanah.

Salah satu sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan bahwa tujuan utama operasi adalah melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan udara.

“Target Israel untuk menetralkan kemampuan Iran meluncurkan serangan udara ke Israel pada akhir perang,” kata sumber tersebut.

Di sisi lain, perang udara yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran kini telah mendekati akhir pekan pertama sejak serangan awal diluncurkan.

Serangan pembuka tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pemimpin Iran dan memicu eskalasi konflik di kawasan.

Ketegangan kemudian meluas menjadi konflik regional. Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan ke Israel serta sejumlah wilayah di kawasan Teluk dan Irak.

Sementara itu, Israel juga melakukan serangan di wilayah Lebanon, menandai semakin meluasnya dampak konflik di Timur Tengah.

Baca juga: Stok BBM Aceh Aman, Kapal Tanker Bawa Jutaan Liter Dijadwalkan Sandar di Krueng Raya

Serangan ke infrastruktur militer rahasia

Militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait rencana serangan terbaru tersebut.

Namun pada fase sebelumnya, mereka menyatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah menguasai sebagian besar wilayah udara Iran pada hari-hari awal operasi.

Dalam pernyataan pada Kamis (5/3/2026), militer Israel mengatakan, angkatan udaranya telah menyerang fasilitas bawah tanah milik Iran.

“Angkatan Udara semalam menyerang sebuah lokasi infrastruktur bawah tanah yang digunakan rezim Iran untuk menyimpan rudal balistik serta lokasi penyimpanan rudal yang dimaksudkan untuk digunakan melawan pesawat,” kata militer Israel dalam pernyataannya.

Ini menjadi pertama kalinya militer Israel secara terbuka mengumumkan serangan terhadap fasilitas rudal bawah tanah sejak operasi gabungan dengan Amerika Serikat dimulai pada Sabtu lalu.

Baca juga: Prabowo dan Pemimpin Pakistan Direncanakan ke Teheran untuk Redam Konflik Timur Tengah

Persediaan rudal Iran

Jumlah persediaan rudal Iran masih menjadi perdebatan di kalangan analis militer. Militer Israel sebelumnya memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal sebelum perang dimulai.

Namun sejumlah analis lain memperkirakan jumlahnya bisa mencapai sekitar 6.000 rudal. 

Seberapa banyak rudal yang masih tersisa diyakini akan sangat menentukan jalannya perang.

Hingga kini Teheran masih terus melancarkan serangan rudal ke Israel dan berbagai wilayah lain di kawasan.

Analis dari lembaga pemikir International Institute for Strategic Studies di Inggris, Douglas Barrie, mengatakan, Iran juga masih memiliki rudal jelajah serangan darat. Menurutnya, senjata tersebut merupakan senjata berpemandu presisi yang terbang rendah sehingga sulit terdeteksi radar.

Serangan udara intensif

Sejak Sabtu lalu, jet tempur Angkatan Udara Israel hampir terus-menerus melakukan misi serangan udara. Intensitas serangan bahkan meningkat setelah kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon menembakkan roket ke Israel. Serangan itu memicu serangan udara besar Israel hingga ke wilayah Beirut.

Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut serta seorang sumber keamanan Israel, dalam beberapa kasus pesawat tempur yang sama bahkan menyerang dua negara dalam satu misi.

Pesawat Israel dilaporkan membombardir target di Teheran atau wilayah barat Iran saat berangkat, kemudian menyerang posisi Hizbullah di Lebanon saat perjalanan pulang.

Sistem Iran dianggap belum melemah

Pejabat Israel dan Amerika Serikat mengatakan, jumlah peluncuran rudal balistik dan drone dari Iran telah menurun sejak Sabtu lalu.

Penurunan itu mereka kaitkan dengan serangan terhadap lokasi peluncuran dan infrastruktur militer Iran.

Namun militer Israel juga menilai penurunan tersebut mungkin merupakan strategi Teheran untuk menghemat persediaan rudalnya jika perang berubah menjadi konflik berkepanjangan.

Mantan wakil penasihat keamanan nasional Israel, Eran Lerman, mengatakan, harapan dari gelombang serangan awal adalah sistem kekuasaan Iran bisa runtuh lebih cepat.

“Kami berharap dari serangan pada minggu pertama bahwa sistem yang berkuasa di Iran akan mulai terurai lebih awal dan lebih cepat,” ujarnya. “Namun hal itu belum terjadi, dan selama itu belum terjadi, sistem tersebut perlu terus dilemahkan lebih jauh dan lebih jauh lagi,” kata Lerman.

Sumber: KOmpas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.