Banyak yang bilang, musik dangdut oleh laiknya riak gelombang tanpa tepi. Dalam perkembangannya, ia bercampur dengan aneka jenis musik lainnya.
Artikel ini pertama tayang di Majalah INTISARI edisi Oktober 2005 dengan judul "Wajah Indo Musik Dangdut" | Penulis: M. Nizar, wartawan musik dan pemerhati dangdut
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Musik dangdut bagai gelombang laut tanpa tepi: terus berubah, bertambah, berkembang, dan bercabang-cabang. Dari mana asalnya? Tampaknya orang tak merasa perlu mempersoalkan asal-muasal musik ini. Yang pasti, ketika kelompok parodi Project Pop melagukan “Dangdut is the music of my country, my country, oh my country ....” (2003), orang senyum-senyum saja.
Coba lihat panggung pergelaran musik dangdut di sekitar kita. Kemeriahan pasti terjadi. Musik dangdut bagaikan magnet yang memiliki daya sedot amat tinggi. Di televisi hampir semua stasiun memiliki mata tayangan musik dangdut.
Pemusik dangdut berjaya, begitu pula penari dan - apalagi - penyanyinya. Dangdut sudah menjadi komoditas pasar yang gendut. Para penyanyi dangdut, meski honor penampilannya rata-rata kalah oleh penyanyi pop, frekuensi tampilnya bisa berlipat kali, sehingga penghasilannya pun bisa lebih tinggi.
Mereka membawa kesadaran untuk "memasarkan" diri. Oleh karenanya harus menampilkan identitas yang khas. Dulu Camelia Malik meramu dengan tari jaipong. Lantas ada goyang sopan ala Ikke Nurjanah. Ada pula goyang ngebor versi Inul Daratista, goyang patah-patah model Anisa Bahar, goyang ngecor versi Uut Permatasari, atau ngeper asyik model Dewi Perssik.
Pada saat yang sama, musik dangdut dipadukan dengan aliran musik macam-macam. Dengan musik campursari Jawa Tengah-an, dengan musik dance dalam kemasan "dangdut koplo", dengan musik rock, bahkan diramu dengan blues.
Dangdut ibarat bumbu dasar dari aneka macam menu musik. Ia seperti nasi rames atau gado-gado yang, lantaran orang suka, tak perlu lagi dipersoalkan asal-usulnya. Malah banyak yang menyimpulkan sebagai "makanan" asli Indonesia.
Berakar di Tanah Deli
Zakaria, pemimpin Orkes Pancaran Muda di tahun 1960-an, salah satu pelaku yang terlibat langsung dalam sejarah perkembangan musik dangdut berpendapat, musik dangdut berasal dari Tanah Deli. Pada 1940-an, kata Zakaria, musik itu dimainkan di tempat-tempat perayaan atau hajatan. Mainnya sambil duduk, gendangnya berukuran besar seperti kemongan.
"Bertahun-tahun musik itu dimainkan dengan cara yang sama. Barulah di tahun 1960-an, musik dangdut berkembang cukup signifikan," tutur Zakaria yang memiliki dokumentasi lengkap sejarah perjalanan dangdut, dari sekitar tahun 1930-an sampai era lebih modern.
Sirtoyono – seniman tari, musik, dan teater dari Grup Cindai, Medan – juta sependapat bahwa dangdut, dengan sebutan awal musik melayu, berasal dari Tanah Deli. Namun, kapan musik melayu itu lahir, Yono, begitu Sirtoyono disapa, tak tahu persis.
Menurut Retno, dosen kehormatan di beberapa perguruan tinggi di Medan, kelahiran musik melayu dipengaruhi oleh musik zapin (musik-musik pesisir yang dipengaruhi kebudayaan asing seperti Arab, Cina, India, juga Barat).
Dulu, jelas Retno, musik melayu dibawakan oleh para peronggeng. Mereka menyanyi sambil menghibur, tak jarang menambahnya dengan goyangan sensual. "Hiburan itu dipertontonkan dari malam hingga menjelang pagi. Penonton dan peronggengnya banyak yang jadi lupa daratan," papar Retno.
Bila mengacu pada line geografis, boleh jadi benar musik melayu berasal dari Tanah Deli. Namun, musik melayu pada zaman itu pun tidak benar-benar asli karena dipengaruhi oleh faktor budaya lain. Misalnya, interaksi dengan masyarakat lain karena hubungan dagang atau kontak sosial. Bahkan ada kebudayaan yang sengaja ditularkan dalam konteks penjajahan.
Dalam satu lokakarya yang diadakan oleh Ditjen Kebudayaan Departemen P dan K tahun 1982, pelatih dan penata lagu paduan suara mahasiswa ITB, Sudjoko, mengutip perkataan Remy Sylado (budayawan, pengamat musik) dari titik pandang sosio-kultural.
"Berkakinya dangdut sekarang, tak dapat tiada, layak dianggap sebagai suatu ciri dari bentuk musik hiburan, atau musik pop khas Indonesiawi. Artinya, dangdut sebagai musik pop boleh dikatakan sebuah perluasan eksistensi pengembangbiakan, persemaian dari berbagai gejala yang datang dari kiri dan kanan, Timur dan Barat, plus kepribadian melayu yang halai-halai menjadi Indonesia," ujarnya.
Hipotesis Remy agaknya bisa kita terima karena mendekati realitas. Sejarah kebudayaan kita secara transparan memaparkan betapa tumpang-tindihnya pengaruh dari Cina, Arab, India, dan Barat (Spanyol, Portugis, Belanda). Dengan didasari nilai-nilai Nusantara, jadilah Indonesia muara dari semua unsur budaya itu.
Sungguh menjadi lucu kalau kita mencari-cari yang "asli" dari budaya campuran yang terbentuk oleh aneka pengaruh itu. Kita memang berada pada larai kebudayaan assembling, mengambil dari unsur sana-sini dan membentuknya menjadi budaya tersendiri. Dalam dangdut tergambar wajah kita yang Indo. Dangdut tak lain "buah" dari kebudayaan yang Indo itu.
Maka menjadi suatu kelaziman kalau orang menyebut dangdut adalah musik bangsa kita. Sementara, musik melayu yang berasal dari Deli, disebut musik Malaysia. Begitulah kesalahkaprahan berlangsung terus. Padahal kedua istilah musik itu berasal dari Bumi Pertiwi.

Perjuangan Lily Suheiry
Para pelaku sejarah musik dangdut seperti Husein Bawafie, Emma Gangga, dan Munif A. Bahasuan tidak tahu kapan musik melayu itu lahir. Mereka pun tidak seberapa menyadari saat terjadi pergeseran sebutan dari orkes melayu menjadi dangdut.
Yang mereka ketahui adalah formasi "awal" musik dangdut terdiri atas gendang dan gong. Kedua jenis alat musik ini dimainkan untuk mengiringi tarian dan nyanyian dalam syair berbalas pantun. Para penari, sekaligus penyanyi, itu biasanya disebut ronggeng.
Perubahan instrumen menjadi biola, gendang, akordion, bas tak diketahui kapan persisnya terjadi. Yang jelas, menurut Zakaria, masuknya biola dan akordion telah mengubah musik melayu secara mendasar.
Revolusi musik melayu terjadi secara besar-besaran pada 1940-an saat Lily Suheiry (kelahiran Bogor tahun 1915, namun besar di Sumatera, meninggal pada 1979) memimpin orkes RRI Medan. Lily menampilkan musik melayu dalam bentuk orkestra. Masyarakat bisa menerima karena lagu yang ditampilkan tidak banyak berubah. Iringannya memang orkestra, namun ketukan perkusi dan gaya menyanyinya tetap melayu.
Boleh dibilang, pada periode 1950 - 1960 peta permusikan dangdut di Tanah Air diwarnai munculnya orkes-orkes melayu yang masih kental dengan ciri melayu Deli. Namun, di antara jenis yang serupa, terdapat kekecualian pada beberapa orkes besar yang justru menyebarkan pengaruh.
Misalnya, Orkes Sinar Medan pimpinan Umar Fauzi Azeran, dengan para penyanyi seperti Cik Bahnitah alias Emma Gangga, Asmani, A. Harris, Hasnah Thahar, A. Zailani, M. Fauzi alias Munif A. Bahasuan, dan Rusmini. Lewat vokal A. Harris, orkes Sinar Medan melambungkan lagu-lagu Malaysia (Malaya) yang ketika itu punya pengaruh besar terhadap grup orkes di negeri ini, terutama lewat lagu-lagu dan film yang diperani P. Ramlee.
Harris bahkan melakukan manuver yang menyimpang dari kebiasaan. Dia membawakan lagu-lagu India dalam bahasa aslinya lewat corong RRI. Langkah Harris kemudian disusul Munif A. Bahasuan, yang tenar antara lain lwat lagu “Til Wana” dan “Pitaji” - diangkat dari film Albela yang dibintangi oleh Bagwama.
Keberhasilan dua penyanyi itu sempat mengurangi kepopuleran musik maupun film Malaysia, walau tidak seluruhnya. Barulah, ketika lagu ciptaan A. Harris seperti “Kuda Lari”, “Lamunanku”, “Do'a Ibu”, dan “Pendjual Rokok” terkenal, kata Zakaria, pengaruh E Ramlee mulai berkurang.
Lagi pula hampir semua lagu ciptaan Harris meledak di pasaran. Sampai-sampai produser dan bintang film tercantik, Titin Sumami, mengajaknya membuat film Perkasa Alam (M. Arief, 1954). Lewat film itu beberapa lagu ciptaan A. Harris dimunculkan dan jadi terkenal, sehingga mampu mengikis dominasi film-film Malaysia dengan P. Ramlee-nya.
Asifa AS melakukan terobosan baru. Dia membawakan lagu-lagu daerah dalam irama melayu. Contohnya lagu “Modjang Priangan” dan “Saha Eta”. Kedua lagu itu terkenal dan gaya dia menjadi trend. Asifa AS ikut memberikan sumbangsih dalam membendung pengaruh Malaysia.
Akhirnya, lahirlah orkes Bukit Siguntang yang memberi warna khas pada sejarah musik dangdut negeri ini. Orkes yang dipimpin oleh A. Chalik ini mempelopori musik-musik berirama dinamis. Sebut saja lagu “Hasratku”, “Dunia”, dan “Kasih Sekedjap” yang diciptakan oleh Suhaimi. Sementara sang leader, A. Chalik, menciptakan lagu-lagu yang tak kalah hot iramanya seperti “Burung Nuri”, “Kasihku”, dan “Tamasja Kepulau”.
Berlalunya era R Ramlee belakangan malah menciptakan kondisi sebaliknya: orang Malaysia justru menyukai penyanyi Indonesia. Sang idola tak lain S. Efendi. Saking tenarnya S. Efendi, pernah ada festival untuk mencari penyanyi yang suaranya mirip dia.
Sebagai ingatan sejarah lagi, lagu-lagu yang dulu diciptakan dan dipopulerkan oleh S. Efendi, pada 1990-an diaransemen ulang dan dibawakan oleh pedangdut Iis Dahlia. Persari Film mengangkatnya menjadi lema dalam sinetron serial televisi Balada Dangdut. Bintang utama wanitanya Iis Dahlia, pengambilan gambarnya dilakukan di Jakarta dan Singkawang (Kalimantan Barat).
Seperti lazimnya zaman, musim pun terus bergulir, dari satu popularitas ke popularitas lain. Sejak ketenaran Elvis Presley, gaya-gaya S. Efendi makin ditinggalkan.

Bersaing dengan band
Masuk ke era 1960-an. Musik hiburan dengan puluhan nama band mendominasi dunia musik Nusantara. Namun, orkes melayu juga punya kesempatan muncul. Orkes Chandralela pimpinan Husein Bawalie, misalnya. Di Surabaya muncul orkes Sinar Kemala. Dipimpin oleh A. Kadir, melibatkan nama Ida Laila, A. Rafiq, dan A. Kadir sendiri sebagai penyanyi. Lagu yang populer antara lain “Keagungan Tuhan” dan “Kembalilah”.
Di sekitar tahun 1962, di bawah komando Munif A. Bahasuan, mengorbit orkes Kelana Ria. Artis-artis yang tergabung seperti Ellya Agus, Johana Satar, Lutfi, dan M. Mashabi. Ada satu lagu yang meledak dari orkes ini, yakni “Ratapan Anak Tiri”. Lagu itu kemudian menginspirasi sutradara Sandy Suwardi Hassan untuk mengangkatnya ke layar lebar, 1973.
Tak cukup menghasilkan hits, orkes Kelana Ria juga menjadi penanda dimulainya penggunaan seruling bambu. Dimainkan oleh Shabuddin, instrumen itu berpadu dengan mandolin yang dimainkan oleh M. Mashabi. Di masa sebelumnya, pemain orkes hanya mengenal flute atau picolo untuk menghasilkan suara seruling.
Sekitar tahun 1964, dua tahun setelah berdirinya orkes Kelana Ria, lahirlah orkes Pantjaran Muda pimpinan Zakaria. Artis-artis yang terlibat antara lain Kartini Rosadi, Tiling Yeni, Elvie Sukaesih, Hartono, Muchsin Alatas, juga A. Basahil. Diakui oleh Zakaria, pada masa itu tekanan band remaja terhadap musik melayu amatlah kuat. Kegiatan band makin ke pusat kota, sementara orkes melayu terpinggirkan.
Di lengah terjepitnya musik melayu oleh band-band remaja, Zakaria mengasingkan diri. Dia hijrah ke rumah Bing Slamet - seniman besar yang pernah memimpin orkes Mambetarumpadjo dan band Eka Sapta. Di rumah Bing Slamet itulah Zakaria mencari dan menimba ilmu baru. Terciptalah dua buah lagu “Zakaria” dan “Luciana”. Bermodalkan dua lagu itu, akhirnya orkes Pantjaran Muda mendapat kesempatan untuk rekaman.
Beberapa orkes melayu yang muncul setelah Pantjaran Muda antara lain orkes Senandung Mustika pimpinan Nur Muhammad dengan penyanyi Baby Suheimi, Kartini Rosadi, dan Harono. Lantas ada orkes Ria Beluntas pimpinan A. Bashil, atau orkes Chandralela pimpinan Umar Alatas.
Pada saat "persaingan" orkes dan band hampir mencapai puncak, terjadi gejolak politik yang merembet ke bidang budaya, termasuk musik. Pemerintah (Orde Lama) melarang segala jenis musik berbau asing. Entah itu melayu yang berbau India atau band nguk-ngik-ngok yang berkiblat ke Barat.
Dampaknya, Elvie Sukaesih yang tengah ngetop dengan lagu-lagu ala India "tercekal". Di kalangan pemusik hiburan, personel band remaja Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara, karena secara terang-terangan berkiblat ke lagu Barat.
Setelah Orde Lama berlalu, cakrawala Nusantara diwarnai munculnya radio-radio amatir. Sebagian besar, terutama yang di Jakarta, langsung menjadi barometer musik. Berkat radio amatir pula, sebuah lagu bisa meledak luar biasa. Ini terjadi pada lagu “Kau Pergi Tanpa Pesan” yang dibawakan oleh Ellya M. Harris Kadam yang dijuluki si "Boneka dari India". Sekali lagi, orkes melayu mengalami puncak kejayaan seperti di masa S. Efendi. Grup-grup orkes melayu yang sudah "dimuseumkan” dari dunia PH (piringan hitam) kembali digemari masyarakat.
Puncaknya terjadi ketika band Eka Sapta tampil di Istora Senayan, dengan sistem playback, menampilkan penyanyi hiburan (pop) dan melayu secara bersamaan. Dari jenis hiburan tampil antara lain Lilies Suryani dan Tom & Dick. Sedangkan penyanyi orkes antara lain Ellya Kadam dan Munif A. Bahasuan.
Orkes melayu dan lagu hiburan tampil dalam satu panggung diiringi si "biola maut", Idris Sardi. Untuk sesaat, kolaborasi semacam itu menjadi trend. Dengan pertimbangan serupa, pada hari jadi ke-16 Korps Baret Merah RPKAD, 18 April 1968, orkes melayu tampil dalam skala besar di lapangan pabrik sepatu Malino, Cijantung, Jakarta Timur.
Perusahaan Remaco cukup sigap melihat peluang itu. Direkamlah suara Ellya Kadam diiringi orkes Chandralela, bersama dengan Yohana Satar yang diiringi orkes Pantjaran Muda. Piringan hitam itu diedarkan dalam kemasan long play berkapasitas 12 lagu.
Keberhasilan sistem bisnis seperti itu membuka peluang bagi Remaco untuk melangkah lebih jauh. Mereka menugaskan pimpinan orkes Pantjaran Muda, Zakaria, untuk menggaet penyanyi-penyanyi hiburan yang saat itu tengah populer untuk diterjunkan ke dunia dangdut.
Hasilnva, Lilies Suryani menelurkan "album" dangdut bertajuk Bulan Purnama dan Tamasja Ketawangmangu. Kemudian disusul Ida Royani dan Benyamin S. dalam album Sado Angkasa, Mat Djidong, dan Dara Singapura.
Dalam rangka HUT ke-23 RRI (1968), orkes Pantjaran Muda mendapat kesempatan tampil satu panggung dengan band Zaenal Combo. Kesempatan itu mendorong naiknya "kelas" musik rakyat dangdut. Kalau sebelumnya orkes melayu yang peralatan elektriknya dipinjam dari Remaco itu dimainkan secara duduk, Zakaria menggebrak dengan mewajibkan semua pemain orkes berdiri layaknya pemain band!
Kreativitas Zakaria masih berlanjut. Penyanyi pop yang sangat tenar pada zamannya, Titiek Sandhora, "dijerumuskannya" ke musik melayu.
Kalau mau dihitung-hitung, lebih dari 40 artis pop telah "diracuni" Zakaria untuk menenggak madunya dangdut dan sudah 350 lagu dia ciptakan. Lantas, berawal dari seorang Zakaria pula dangdut bisa masuk ke bar. "Saya masih ingat nama barnya. GP Little Club, milik Gaby Mambo, di Jakarta Fair,” kenang Zakaria.

"Sang Raja" dan revolusi dangdut
"Revolusi dangdut" ala orkes Chandralela diteruskan oleh orkes Purnama pimpinan A. Wahab Abdullah. Perubahan besar terjadi pada peralatan musik. Kalau sebelumnya gendang yang dipakai adalah gendang kale dan gendang pencak, sejak masa orkes Purnama diganti jadi gendang "tam-tam" seperti yang kita kenal sekarang.
Disertakan pula peralatan lain seperti organ atau keyboard, menjadikan dangdut bukan lagi musik "kosong" yang kalau didengar terkesan kurang lengkap.
Tema lagu juga lebih bervariasi, lebih trendy, karenanya lebih mudah diminati. Nah, salah seorang pelakunya adalah penyanyi Orkes Purnama, Oma Irama. Duetnya dengan Elvie Sukaesih menyebabkan lagu-lagu “Kepasar Minggu”, “Kebinaria”, dan “Aku Saudaramu” menjadi hits di awal 1970-an.
Pada 1972, Oma keluar dari Purnama dan membentuk Soneta. Oma sengaja meramu musik melayu dengan irama rock - sesuatu yang saat itu disukai anak muda. Peralatan yang dipakai, beat yang diikuti, dan sound yang dipilih, benar-benar ala musik rock Barat. Kecuali tam-tam. Musik Soneta adalah lagu melayu dengan sentuhan musik ala Deep Purple, Rolling Stones, atau Black Sabbath. Lagu “Begadang” (1975) meledak dan begitu meresap di hati anak muda saat itu, menjadi pertanda revolusi baru musik melayu – yang mulai disebut dangdut.
Karena Oma Irama, musik rakyat itu mendapat tempat terhormat. Lantas, ketika dia mengubah nama diri seusai naik haji menjadi Rhoma Irama, lagu-lagunya berkembang menjadi syiar keagamaan. Maka lelaki kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946, itu menjadi magnet tersendiri.
Seorang sosiolog AS, Dr. William H. Frederick, menganggap Rhoma berhasil meramu musik yang mengakar pada budaya lokal menjadi musik jenis baru. Musik itu disebut "musik Islam Rhoma Irama". Frederick menyebut musik Rhoma sebagai the dangdut style aspect of contemporary Indonesian popular culture.
Setelah Fredrick, datang guru besar sosiologi dari Jepang, Nakamura Natsumi, bersama serombongan pemusik dan penyanyi pop maupun jazz asal Jepang. Mereka menemui mantan pengamen itu di tempat latihannya, Studio Soneta, di Depok, Jawa Barat. Tak cuma itu, mereka juga minta izin untuk merekam kegiatan latihan itu dalam video, dan belakangan menyiarkannya di televisi NHK.
Perubahan dangdut di tangan santri yang pernah gagal masuk pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, itu memang amat drastis. Ditambah dengan ekspos media dan timing yang tepat, dangdut menjelma menjadi "tuan musik di negeri sendiri".
Kelompok musik pop semacam Koes Plus, Mercy’s, D'Lloyd, Panbers mengeluarkan album dangdut. Beberapa penyanyi pop pun sering melantunkan dangdut. Setidaknya, setelah zaman kesohoran S. Efendi ketika musik melayu difestivalkan, di era Rhoma muncul banyak festival dengan aneka coraknya.
Di era 1990-an dangdut lebih bervariasi, dalam arti tidak lagi menggelayut di bawah kebesaran Rhoma semata. Penyanyi tunggal bermunculan, laki-laki maupun perempuan.
Tahun 2000-an, dengan penetrasi hebat stasiun televisi dan ekspos panggung pertunjukan, peta dangdut semakin dinamis. Ada Inul Daratista yang fenomenal. Ada Nita Thalia yang seksi, Minel, Anisa Bahar, Uut Permatasari, Dewi Perssik, dan lainnya.
Ada pula Iyeth Bustami yang coba mendekatkan lagi dangdut ke musik melayu. Juga muncul nama-nama beken seperti Kristina, Cucu Cahyati, Ati Adiaty, Merry Andani, Cynthia, Caca Handika, kakak-beradik Vetty Vera dan Alam, Irvan Mansyur, Tommy Ali, Beniqno, dan lain sebagainya.
Muncul pula para bintang baru dangdut yang dinobatkan via KDI TPI seperti Siti, Selfi, Safar, Nassar, Cici, Adi, Ciita, Ekabima dan Genta, serta dari "KonDang-In" Indosiar dan "Bintang Dangdut Semiliar" Lativi. Semua berderap semarak, bergerak, memberi tanda bahwa musik dangdut seperti tak punya tepian pantai. Ia terus bergejolak seperti riak gelombang – hingga sekarang.