TRIBUNJAMBI.COM - Kabar terkait kelangkaan BBM akibat konflik di kawasan Tumur Tengah, membuat warga Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) panik.
Warga Kota Medan memadati sehingga menimbulkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah wilayah Kota Medan, sejak Kamis (5/3/2026) sore.
Jika biasanya antrean kendaraan hanya terjadi pada BBM subsidi, kini antrean juga terjadi pada BBM non-subsidi.
Warga terpaksa menunggu hingga beberapa jam untuk bisa mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Warga mengaku antrean panjang ini terjadi setelah beredar kabar kelangkaan BBM akibat konflik yang terjadi di negara kawasan Timur Tengah.
Johni, salah satu warga yang turut mengantre di SPBU mengaku takut dan khawatir tidak kebagian bahan bakar.
“Sebenarnya, kalau menurut saya, ini lebih besar ketakutan masyarakat untuk ketersediaan BBM. Apa yang sekarang ada di media sosial membuat masyarakat menjadi takut akan kelangkaan BBM.
Jadi, kemungkinan besar yang menyebabkan antre sampai sekarang ini ya hanya ketakutan. Saya kira kalau kelangkaan saat ini belum ada,” ujarnya dikutip dari YouTube KompasTV, Jumat (6/3/2026).
Kejadian serupa ternyata juga dijumpai di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tampak antrean panjang warga yang berbondong-bondong membeli BBM di SPBU Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates.
Baca juga: Puluhan Rumah di Jaluko Muaro Jambi Rusak Diterjang Puting Beliung
Baca juga: 4 Rekomendasi Buka Puasa di Jambi, Mulai Rp30 Ribu hingga Rp250 Ribu
Antrean sepeda motor serta pengemudi mobil tampak mengular hingga ke area luar SPBU sehingga sempat menyebabkan kemacetan di jalan raya.
Salah seorang pengemudi mobil bernama Ashar mengatakan antrean ini terjadi karena masyarakat merasa khawatir kehabisan bahan bakar.
"Gara-gara perang ini, panik Pak. Iya panik kehabisan bensin antri panjang," ujarnya.
Fenomena antrean panjang di sejumlah SPBU ini diduga dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang mengatakan stok BBM di Indonesia hanya berkisar 25 hari.
Hal itu terjadi karena adanya potensi gangguan pasokan energi global ke depan akibat konflik di Timur Tengah.
Pertamina pastikan stok aman
PT Pertamina (Persero) memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional tidak akan habis dalam 21 hari.
Perusahaan terus menjaga pasokan BBM untuk dengan berbagai langkah penguatan (build-up).
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menjelaskan, sesuai dengan aturan pemerintah, Pertamina telah mengamankan cadangan energi nasional di atas level minimum, yakni berkisar 21-23 hari.
Bahkan, pada produk tertentu cadangannya hingga 35 hari.
Namun setelah 21-23 hari, bukan berarti cadangan BBM habis total, sebab Pertamina mempertahankan cadangan di level aman dengan terus melakukan penambahan pasokan.
"Acuan cadangan pemerintah menjadi ambang batas pengamanan yang harus selalu dipertahankan. Selama distribusi dan suplai berjalan normal, stok terus mengalami pergerakan, sehingga Pertamina terus menjaga cadangan di atas level minimum," ujar Baron dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Airlangga Hartanto Pastikan Belum Ada Kenaikan Harga BBM Sampai Saat Ini
"Ini menjadi langkah mitigasi risiko dan bentuk komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi," imbuh dia.
Menurutnya, monitoring pasokan dilakukan secara ketat melalui Pertamina Digital Hub, sistem pengawasan dan pengendalian pasokan energi Pertamina yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pertamina Digital Hub juga menjadi salah satu strategi perseroan untuk menjaga level cadangan energi, supaya secara konsisten tersedia setiap waktu.
Pada sektor hulu, operasional dipastikan berjalan sesuai standar, sehingga target operasional dari masing-masing entitas dapat terjaga.
Sementara pada sektor hilir, Pertamina mampu memonitor pergerakan kapal yang membawa produk ataupun minyak mentah, atau proyeksi ketibaan pengadaan produk atau minyak mentah tersebut, untuk kemudian diolah di enam kilang milik perusahaan.
"Optimalisasi operasional kilang dalam negeri terus dilakukan guna mendukung ketahanan energi nasional," ucapnya.
Penggunaan teknologi tinggi juga memudahkan Pertamina dalam memonitor ketersediaan produk di outlet penjualan, seperti BBM di SPBU.
Pertamina mampu memonitor awak mobil tangki dalam proses distribusi ke SPBU, hingga memonitor jumlah stok di masing-masing SPBU.
"Melalui satu dashboard terpadu, Pertamina dapat mengidentifikasi pergerakan konsumsi BBM dan elpiji di setiap wilayah, sehingga langkah antisipatif dapat dilakukan lebih dini apabila terjadi peningkatan permintaan, kondisi cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi," pungkas Baron. (*)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: 4 Rekomendasi Buka Puasa di Jambi, Mulai Rp30 Ribu hingga Rp250 Ribu
Baca juga: Jadwal Libur Anak Sekolah pada Lebaran 2026, Masuk Sekolah 30 Maret