Kerusuhan Antarsuporter Terjadi di Laga Persijap vs Persis, Arya Sinulingga Kembali Tegaskan Larangan Suporter Away
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kerusuhan antarsuporter kembali terjadi dalam pertandingan lanjutan Super League 2025/2026 antara Persijap Jepara melawan Persis Solo, Kamis (5/3/2026].
Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bumi Kartini itu berakhir imbang tanpa gol, namun diwarnai insiden yang mencoreng jalannya pertandingan.
Baca juga: Kronologi Kericuhan di Derby Jateng, Suporter Persijap dan Persis Saling Ejek hingga Rusak Fasilitas
Bahkan, kericuhan tidak hanya terjadi di dalam Stadion, tetapi juga berlanjut hingga ke luar area Stadion Gelora Bumi Kartini.
Sejumlah fasilitas umum serta kendaraan milik suporter dilaporkan mengalami kerusakan akibat bentrokan tersebut.
Menanggapi kejadian ini, Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga mengaku kecewa dengan masih terjadinya kekerasan antarsuporter.
“Kadang para suporter seakan lupa dengan tragedi seperti Kanjuruhan dan kejadian-kejadian lainnya. Padahal kami sudah menetapkan larangan suporter tandang, tetapi masih saja dilanggar,” kata Arya Sinulingga di Lapangan C GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menurut Arya, memang pernah ada satu pertandingan yang berlangsung aman dengan kehadiran suporter tandang.
Namun, hal itu tidak bisa dijadikan dasar untuk membuka kembali kebijakan larangan suporter away.
“Memang pernah ada satu pertandingan yang berjalan aman dengan kehadiran suporter tandang. Setelah itu ada yang bertanya kenapa tidak dibuka lagi. Tapi kita tidak bisa melihat hanya dari satu contoh,” ujarnya.
Arya menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil demi keselamatan semua pihak.
Ia pun berharap para suporter selalu mengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama saat datang ke stadion.
“Ini menyangkut nyawa. Kita ingin para suporter ingat bahwa ketika masuk stadion dengan aman, harus keluar juga dengan aman. Tidak perlu ada korban lagi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Arya menyebut PSSI saat ini tengah melakukan diskusi serius terkait pengamanan kompetisi yang sudah memasuki fase akhir musim.
Situasi tersebut dinilai rawan karena persaingan menuju gelar juara maupun perebutan posisi aman dari degradasi semakin ketat.
“Kompetisi sudah memasuki fase akhir musim yang rawan. Persaingan juara sangat ketat, begitu juga persaingan di zona degradasi. Karena itu perlu perhatian khusus,” pungkas Arya.