Puasa dan Kesehatan Jiwa
Abdul Azis Alimuddin March 07, 2026 01:22 AM

Oleh: Ilham Kadir
Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - Sudah terlalu banyak ahli menyinggung tentang relasi puasa dan kesehatan raga.

Dan semua sepakat bahwa penyebab terbesar datangnya penyakit berasal dari lambung yang menjadi tempat makanan disimpan dan diproses.

Relasi puasa dengan kesehatan lambung, jantung, paru-paru, otak, dan organ-organ lainnya dalam tubuh telah banyak diteliti oleh para ahli.

Tulisan ini mencoba menjelaskan fungsi puasa dalam mendidik jiwa (tazkiatun-nafs) manusia agar tetap berada dalam fitrahnya untuk menggapai tujuan tertinggi yaitu kembali kepada Allah dan ditempatkan di tempat asal-muasal manusia, yakni surga.

Konsep manusia paling ideal telah ditulis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam "The Concept of Education in Islam: Framework for an Islamic  Philosophy of Education" bahwa manusia terbagi menjadi dua entitas, yakni: (1) jiwa dan wujud batiniahnya yang meliputi, rūh, nafs, qalb, dan  ‘aql; dan (2) jasad, fakultas jamaniah dan indera-inderanya.

Episentrum atau titik utama seorang manusia adalah qalb atau hati, merupakan pusat spiritual seseorang dan titik paling dekat dengan  Allah, ini juga yang disebut sebagai fitrah; ‘Aql, atau akal, mewakili  kemampuan menalar, berpikir dan memahami, sekaligus mampu  menghukumi sebuah objek, dan ia berhubungan erat dengan hati;  Rūh, atau jiwa, dianggap sebagai unsur ketuhanan yang bersemayam di pusat hati.

Bahkan, ruh diciptakan sebelum jasad tercipta, lalu  mendapat tiupan ruh, maka jadilah manusia, ruh telah ada semenjak azali (sejak dahulu sebelum penciptaan langit dan bumi), seperti adanya malaikat dan iblis, dan pada akhirnya ruh tetap ada setelah hancurnya tubuh manusia, dan ruh kelak akan dihadirkan pada hari pembalasan.

Komponen jiwa berikut adalah nafsu diri atau ego, yang melewati berbagai tahap perkembangan dan pemurnian; Nafs al-Ammārah, jiwa cenderung kepada kejahatan, tahap diri yang pertama dan paling rendah; Nafs al-Lawwāmah, jiwa yang mencela diri sendiri, tahap kedua, ditandai dengan refleksi diri dan penyesalan atas perbuatan salah, dosa, maksiat, dan kemungkaran; Nafs al-Mutmainnah, jiwa dalam kedamaian, tahap tertinggi dari diri, ditandai dengan ketenangan, ridha, dan penuh kepuasan terhadap kehendak dan ketetapan Allah.

Selain itu, jiwa juga meliputi  fitrah, yakni keadaan alami dan suci seseorang saat lahir; Ākhirah, atau akhirat yang melambangkan kehidupan abadi tak terbatas setelah kematian; al-Munjiyāt, berupa sarana keselamatan, tindakan, dan praktik yang mengarah pada keamanan, kebahagiaan, dan kesuksesan spiritual; Tazkiyah an-Nafs, atau penyucian diri, suatu proses pembersihan hati dan jiwa dari penyakit rohani melalui program dan proses pendidikan; Tahzīb al-Ahlāq, yakni penyempurnaan akhlak, perbaikan akhlak dari perilaku tercela seseorang, mencakup pendidikan sebagai ta’dib atau menanamkan ilmu dan iman, bagian ini juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pendidikan; Jihād an-Nafs, merupakan perjuangan melawan diri sendiri, melawan hasrat yang merusak dan membinasakan, dan berusaha mengikuti dorongan batin untuk mencapai pertumbuhan spiritual, pada medan ini terjadi pertempuran hebat antara kekuatan setan yang ingin menjerumuskan dengan tuntunan wahyu, jika tarikan setan lebih kuat berarti akan berada pada kuasa golongan iblis, jika pengaruh tuntunan wahyu lebih besar, berarti akan berada pada teritorial fitrah dan para malaikat; Syaithān, merupakan sebuah entitas—manusia dan jin—yang selalu menggoda dan mengarahkan ke arah kejahatan, dan segala bentuk dosa; Ghaflah, atau keadaan lalai, lupa dan asyik dengan berbagai gangguan duniawi, disebabkan karena pengaruh dan ganguan setan; Dunyā, yakni dunia material tempat kita tinggal saat ini, dan kesenangan serta gangguan yang hakikatnya bersifat sementara; al-Muhlikāt, berupa bahaya  terhadap jiwa, unsur-unsur yang membahayakan kesejahteraan rohani dan mengakibatkan kemerosotan akhlak jiwa dan raga, (Ilham Kadir, "Ilmu Pendidikan Kader Ulama", Banyumas, 2025: 49-51).

Segenap komponen jiwa dan raga setiap manusia pada akhirnya dapat dibaca dari orientasi hidup masing-masing.

Jika tujuan utama hidupnya adalah untuk kesenangan duniawi yang bersifat materialistik semata, maka setiap langkahnya akan didukung oleh setan dan ketenangan dan kepuasaan jiwa dan raganya semua terkait dengan perhiasaan dunia.

Sebaliknya, jika orientasi hidupnya untuk akhirat, mengabdi, menghamba, atau beribadah kepada Allah, maka segenap amal ibadahnya semua dipersembahkan untuk keperluan dan kepentingan di alam akhirat.

Komponen-komponen di atas merupakan unsur-unsur yang  terdapat pada jiwa, dan memang itulah sasaran utama pendidikan  dalam Islam, sebab memang ‘pengetahuan tentang jiwa [nafs] dan  semua hal yang menjadi hak dan kewajibannya, adalah wajib’, kata  ath-Tharifi.

Namun, tidak berarti meninggalkan pendidikan bersifat jasmani, sebab tubuh juga harus dididik dengan pendidikan islami yang membuat tubuh berjalan seiring dengan hukum-hukum syariat, membiasakan diri bergerak untuk keshalehan, sehingga dengan mudah  mampu menjalankan apa yang ditetapkan oleh Allah.

Kebutuhan manusia akan syahwat perut dan ‘di bawah perut’ itulah yang menjadi muhlikāt atau menjerumuskan ke jurang kenistaan.

Jika tidak mendapatkan pendidikan, niscaya akan bermaksiat terhadap Rabbnya dan kelak, akan mendapat siksa.

Maka, di antara tujuan utama pendidikan jasadiyah dalam Islam adalah untuk membantu manusia menjalankan kewajiban agama, meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah, serta menerima apa yang diridhai olehNya, dan pada tahap tertentu merasa tergantung, dan butuh untuk berbuat kebaikan.

Pada tahap ini, ibadah puasa sangat efektif dalam meredam syahwat manusia yang berorientasi pada kerusakan jiwa dan raga.

Dengan puasa, manusia mampu meredam dan mengatur keinginannya, terutama syahwat perut dan di bawah perut.

Sebab hal-hal yang halal saja tidak dibolehkan pada waktu tertentu yakni sejak terbit matahari hingga tenggelam, apalagi memang perkara syubhat dan haram, tentu harus dicampakkan jauh-jauh.

Puasa merupakan sarana efektik meredam nafsu yang mengarah kepada kebinasaan di bawah kendali setan dan pada akhirnya menggiring manusia pada level paling hina yakni nereka, tempat ini, bukan asal muasal manusia.

Melalui sarana puasa, jiwa kotor penuh noda akan terkikis.

Nafsu tercela seperti serakah, takabbur membanggakan diri sekaligus merendahkan orang lain, dengki, sirik terhadap kejayaan orang lain dan berangan-angan agar orang sengsara.

Puncaknya, menjadi psikopat sebab dirinya hanya bahagia ketika orang lain sengsara, dan akan sengsara melihat orang lain bahagia.

Berbagai jalan ditempuh untuk menyiksa orang, termasuk membuat laporan dan tuduhan serta sumpah palsu demi menghukum orang lain melalu Aparat Penegak Hukum.

Bahkan, jika perlu bekerjasama dengan jin untuk membuat orang sengsara, memisahkan suami istri, bahkan menyakiti hingga mengakibatkan kematian.

Itu semua akibat jiwa yang dikendalikan nafsu setan. Jika puasa tidak mampu meredam nafsu jahat semacam itu, berarti belum mencapai tujuan ideal syariat puasa.

Sebab, derajat akhir dari puasa adalah taqwa yang pada prinsipnya lebih dekat kepada kesehatan jiwa, sebab jiwa yang takwa adalah mereka yang selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya, jangan sampai terjerumus dalam perkara maksiat dan kemungkaran.

Ibarat berjalan di jalanan penuh duri pada malam gelap gulita.

Kata Ali bin Abi Thalib, "Taqwa itu takut pada Allah, mengamalkan al-Qur'an, dan memiliki persiapan untuk perjalanan panjang di hari akhirat, [al-khauf bil jaliil, al-'amal bit-tanziil, wal isti'daad liyaum ar-rahiil]". Selamat menjalankan Ibadah Puasa!.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.